Advertorial

Tiga Aksi Korporasi Besar Ini Jaga Pertumbuhan Berkelanjutan BRI

Kompas.com - 12/10/2021, 08:03 WIB
Direktur Utama BRI Sunarso menegaskan visi BRI untuk menjadi ?The Most Valuable Banking Group in Southeast Asia and Champion of Financial Inclusion?. DOK. BRIDirektur Utama BRI Sunarso menegaskan visi BRI untuk menjadi ?The Most Valuable Banking Group in Southeast Asia and Champion of Financial Inclusion?.

KOMPAS.com – Pertumbuhan berkelanjutan menjadi fokus utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI dalam menjalankan proses bisnisnya. Adapun pertumbuhan bisnis BRI dilakukan secara organik dan anorganik.

Pada pertumbuhan organik, BRI melakukan perbaikan terus-menerus (continuous improvement) dalam proses bisnis untuk peningkatan nilai setiap saat. Kemudian, BRI juga melakukan pengembangan bisnis melalui pertumbuhan anorganik dengan fokus pada proses value creation.

Hal tersebut sejalan dengan visi BRI, yakni menjadi “The Most Valuable Banking Group in Southeast Asia and Champion of Financial Inclusion”.

Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan bahwa untuk menciptakan pertumbuhan anorganik, pihaknya telah melakukan tiga aksi korporasi besar.

“Pertama, BRI melakukan konsolidasi Bank Syariah Indonesia (BSI). Melalui aksi ini, nilai saham BRI Syariah (BRIS) mengalami peningkatan hingga empat kali lipat. Sebelum konsolidasi, nilai saham BRIS hanya sekitar Rp 500. Saat ini, saham BRIS telah mencapai kisaran harga Rp 2.000,” kata Sunarso dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Senin (11/10/2021).

Kedua, lanjutnya, valuasi anak usaha BRI di bidang asuransi jiwa, yakni BRI Life telah meningkat hingga Rp 7,5 triliun pada 2021. Seperti diketahui, BRI Life diakuisisi perseroan dengan nilai Rp 1,6 triliun pada 2015.

“Di luar itu, BRI masih mendapatkan extra cash berupa access fee sebesar Rp 4,4 triliun yang dibayar secara bertahap pada rentang waktu 2021-2024,” jelasnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ketiga, Sunarso menjelaskan bahwa BRI telah melakukan aksi korporasi penambahan modal melalui penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue dalam rangka pembentukan ekosistem ultramikro.

Total nilai right issue BRI mencapai Rp 95,9 triliun yang terdiri dari Rp 54,7 triliun dalam bentuk partisipasi nontunai pemerintah berupa inbreng saham Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM), serta Rp 41,2 triliun dalam bentuk cash proceed dari pemegang saham publik.

Dengan pencapaian tersebut, BRI menorehkan sejarah sebagai rights issue terbesar di kawasan Asia Tenggara, menduduki peringkat ketiga rights issue di Asia, dan peringkat ketujuh di seluruh dunia.

“Kami bersyukur atas keberhasilan aksi korporasi tersebut, utamanya di tengah kondisi yang menantang akibat pandemi. Sekitar 28 miliar lembar saham yang diterbitkan pada rights issue BRI telah terserap seluruhnya, bahkan mengalami oversubscribed sebesar 1,53 persen,” ujarnya.

Total nilai right issue BRI pada 2021 mencapai Rp 95,9 triliun. DOK. BRI Total nilai right issue BRI pada 2021 mencapai Rp 95,9 triliun.

Pihaknya berharap, sejumlah proses value creation tersebut dapat dirasakan manfaatnya oleh insan Brilian atau pekerja di BRI.

“Impian saya, minimum 1 persen saham BRI dapat dimiliki oleh insan Brilian. Dengan memiliki saham BRI, hal ini akan mendorong transformasi culture pekerja untuk selalu create value bagi perusahaan,” tambahnya.

Dana dari hasil rights issue, imbuh Sunarso, nantinya akan digunakan BRI untuk mengembangkan ekosistem ultramikro sebagai sumber pertumbuhan baru perseroan dan mengakselerasi perekonomian nasional.

Selain itu, pembentukan ekosistem ultramikro semakin menegaskan perjalanan BRI untuk tumbuh secara berkelanjutan dan aligned dengan visi perseroan.

Atas keberhasilan right issue BRI tersebut, Sunarso menyampaikan terima kasih kepada seluruh stakeholders atas dukungan dan kolaborasi yang produktif sehingga seluruh proses pembentukan holding ultramikro dapat terlaksana dengan baik.

“Terima kasih dan apresiasi kami ucapkan kepada Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian, Komite Privatisasi, dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR),” ujarnya.

Kemudian, lanjutnya, Komite Stabilitas Sistem Keuangan, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), serta seluruh investor atau pemegang saham yang terus memercayai BRI.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.