Advertorial

Situasi Pandemi Mulai Kondusif, Acara Keagamaan dan Liburan Tetap Wajib Terapkan Prokes Ketat

Kompas.com - 14/10/2021, 14:46 WIB

KOMPAS.com – Situasi pandemi Covid-19 di Indonesia mulai kondusif. Hal ini disimpulkan seiring data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang menyebut bahwa kasus positif Covid-19 mengalami penurunan selama kurang lebih dua bulan terakhir.

Juru Bicara (Jubir) Vaksinasi Covid-19 Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan, jumlah kasus mingguan turun hingga 23 persen dibandingkan sebelumnya. Begitu pula dengan angka kematian yang turun sampai 32 persen.

“Selain itu, bed occupancy rate (BOR) ruang isolasi dan intensive care unit (ICU) tidak (lagi) melebihi 60 persen. Dengan begitu, layanan fasilitas kesehatan (faskes) diharapkan dapat kembali berjalan dengan mengedepankan protokol kesehatan (prokes),” terangnya dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Kamis (14/10/2021).

Terkait vaksinasi, Nadia memaparkan bahwa kapasitas vaksinasi saat ini mencapai rata-rata 2 juta suntikan per hari. Pencapaian ini tak terlepas dari peran aktif masyarakat serta dukungan berbagai sektor, seperti kementerian, lembaga, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Republik Indonesia (Polri), dan swasta.

Saat ini, sudah ada 10 jenis vaksin yang telah mendapatkan izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Semua vaksin tersebut juga terdaftar dalam emergency use listing (EUL) Badan Kesehatan Dunia (WHO) serta telah disertifikasi halal dan disetujui untuk digunakan dalam kondisi darurat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Maka dari itu, masyarakat diharapkan tidak ragu dan tidak perlu memilih-milih vaksin yang ada. Pasalnya, pemerintah telah menjamin keamanan, mutu, dan khasiat semua vaksin yang diberikan,” kata Nadia.

Indonesia, menurut Nadia, menduduki peringkat ke-5 berdasarkan jumlah orang yang telah divaksinasi dan peringkat ke-6 dunia berdasarkan total suntikan.

Per September 2021, lembaga pemeringkat ekonomi, Nikkei, juga menempatkan Indonesia sebagai negara berperingkat tertinggi untuk penanganan Covid-19 di Asia Tenggara.

Evaluasi PPKM

Di sisi lain, pemerintah terus mengevaluasi penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di berbagai daerah setiap pekan. Selain itu, pemerintah juga mengantisipasi lonjakan kasus positif Covid-19 usai acara keagamaan dan liburan. Hal ini dilakukan demi mempertahankan situasi pandemi yang mulai menunjukkan tanda kondusif.

Seperti diketahui, hampir semua daerah kini menunjukkan peningkatan mobilitas seiring pelonggaran sejumlah aturan. Hal ini terlihat dari pembukaan kembali rute transportasi antarkota, sentra perekonomian, dan rekreasi.

Nadia menilai, hal tersebut merupakan kabar baik karena dapat mendorong kebangkitan perekonomian Indonesia usai terdampak pandemi. Meski begitu, ia tetap memperingatkan masyarakat agar tetap mematuhi prokes.

“Pemerintah saat ini tengah mempersiapkan dengan matang rencana pembukaan Bali, Batam, dan Bintan. Begitu pula dengan skenario menjelang libur keagamaan, seperti Maulid Nabi, Natal, dan Tahun Baru. Bahkan, pemerintah sudah mengeluarkan Pedoman Penyelenggaraan Hari Besar Keagamaan untuk mengantisipasi risiko penularan yang terjadi setelah acara berlangsung,” jelas Nadia. 

Jubir Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru Reisa Broto Asmoro saat memaparkan kesuksesan penyelenggaran Ngaben di Sanur, Bali.Dok. KPC-PEN Jubir Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru Reisa Broto Asmoro saat memaparkan kesuksesan penyelenggaran Ngaben di Sanur, Bali.

Terkait penyelenggaraan acara keagamaan, Jubir Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru Reisa Broto Asmoro menceritakan pengalamannya saat mengikuti Ngaben di Bali, Jumat (8/10/2021).

Reisa mengatakan, ada beberapa hal yang dapat dipelajari dari pelaksanaan upacara tersebut. Pertama, acara dipersiapkan dengan matang. Satuan tugas (Satgas) Covid-19 setempat dan aparat keamanan juga terlibat penuh untuk mengantisipasi setiap kemungkinan penularan, termasuk mencegah kerumunan masyarakat.

Kedua, penyelenggara menerapkan skrining ketat dan tes kesehatan kepada semua partisipan. Hanya tamu yang sehat dan sudah divaksin saja yang dapat terlibat dalam acara.

Ketiga, penyelenggara memberlakukan aturan bagi tamu untuk memindai kode quick response (QR) PeduliLindungi sebelum masuk ke masuk area upacara. Mereka juga menyediakan fasilitas cuci tangan dan mewajibkan semua tamu menggunakan masker.

Keempat, penyelenggara menempatkan berbagai petunjuk dan peringatan sikap disiplin prokes di lokasi acara. Selain itu, pemandu acara juga kerap memperingatkan hal serupa. Kelima, pemantauan kesehatan para panitia dan semua yang terlibat.

Reisa melanjutkan, seluruh tes yang dilakukan sebelum dan lima hari setelah acara menunjukkan hasil 100 persen negatif. Bahkan, Satgas Covid-19 setempat tidak menemukan laporan kasus konfirmasi positif sama sekali di wilayah upacara Ngaben diadakan.

Melihat hal tersebut, Reisa pun mengapresiasi kerja sama antara panitia, warga Sanur, komponen Satgas Covid-19, TNI, dan Polri.

“Kesuksesan penyelenggaraan Ngaben di Sanur menjadi bukti (keberhasilan) adaptasi kebiasaan baru. Masyarakat bisa taat terhadap prokes dan mengadopsinya di acara besar keagamaan yang sakral,” ujar Reisa.

Terkait Libur Maulid, Natal, dan Tahun Baru, Reisa mengatakan, ada beberapa upaya yang akan dan sedang dilakukan pemerintah, antara lain memastikan pelonggaran aktivitas diikuti pengendalian lapangan yang ketat, meningkatkan vaksinasi orang lanjut usia (lansia), dan mendorong percepatan vaksinasi anak.

Selain itu, pemerintah juga mengantisipasi mobilitas pelaku perjalanan internasional, mendorong pemerintah daerah (pemda) mengawasi dan mengedukasi warga, serta memastikan kepatuhan masyarakat akan prokes.

Reisa juga memperingatkan masyarakat untuk melakukan tiga syarat wajib adaptasi kebiasaan baru sebelum menghadiri acara besar atau liburan.

Tiga syarat itu terdiri dari memastikan diri sudah divaksin, selalu menggunakan masker di ruang publik, termasuk saat bertemu orang lain, serta melakukan persiapan sebaik mungkin.

“Pandemi masih ada, virusnya masih mengintai setiap orang. Namun, dengan vaksinasi, masker, dan persiapan baik, setiap orang dapat menekan risiko tertular serendah mungkin,” ujarnya.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau