Advertorial

Cuci Tangan Pakai Sabun, Perilaku Sederhana Ciptakan Generasi Sehat

Kompas.com - 19/10/2021, 19:57 WIB
Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru dr Reisa Broto Asmoro. Dok KPCPENJuru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru dr Reisa Broto Asmoro.

KOMPAS.com – Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia yang diperingati setiap 15 Oktober dapat menjadi momentum untuk mengendalikan penyebaran virus corona.

Terlebih, pada 2021, peringatan itu mengangkat tema “Masa Depan di Tangan Kita, Mari Bergerak Bersama”.

Melalui tema itu, aktivitas cuci tangan pakai sabun (CTPS) diharapkan dapat menjadi cara sederhana yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan berbagai penyakit, termasuk Covid-19. Dengan demikian, generasi yang lebih sehat dapat tercipta.

Dalam keterangan pers yang ditayangkan Media Center Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) pada Jumat (14/10/2021), Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 sekaligus Duta Adaptasi Kebiasaan Baru dr Reisa Broto Asmoro mengatakan, CTPS mampu membatasi penularan virus SARS CoV-2 yang menjadi penyebab Covid-19.

“Selain kesadaran memakai masker dengan baik dan menjaga jarak, praktik CTPS dan air mengalir selama 20 detik berkontribusi signifikan dalam pencegahan penularan virus tersebut,” ujar dr Reisa.

Dokter Reisa menjelaskan, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), proporsi populasi yang mempunyai kebiasaan cuci tangan dengan benar menurut wilayah kabupaten/kota di Indonesia masih berada di bawah 50 persen pada 2018.

Praktik CTPS kemudian meningkat selama pandemi. Survei perilaku masyarakat pada masa pandemi yang dilakukan BPS pada periode 13-20 Juli 2021 memperlihatkan bahwa hampir 75 persen anggota masyarakat sudah mempraktikkan CTPS.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Temuan serupa juga diungkapkan Dana Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (Unicef) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Kedua lembaga ini menyatakan bahwa praktik CTPS sudah menjangkau 60 persen populasi Indonesia selama pandemi.

“Terbukti, CTPS memberikan kontribusi signifikan sehingga saat ini, kasus penularan Covid-19 menurun dan situasi menjadi kondusif,” ujar dr Reisa.

Lebih lanjut dr Reisa menjelaskan bahwa CTPS juga berdampak besar terhadap penurunan kasus penyakit diare hingga 30 persen dan infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) pada anak hingga 20 persen.

Untuk diketahui, kedua penyakit tersebut merupakan penyebab utama kematian anak kelompok usia di bawah lima tahun (balita) di Indonesia.

“Kemenkes menyerukan seluruh masyarakat Indonesia untuk mempraktikkan CTPS. Mari kita tingkatkan hingga mencapai 100 persen populasi. CTPS merupakan cara termudah, termurah, serta tercepat untuk membunuh virus dan kuman lain di tangan,” ujar dr Reisa.

Dalam keterangan pers tersebut, dr Reisa juga mengungkapkan bahwa belum semua rumah di Indonesia memiliki fasilitas cuci tangan. Data BPS 2020 menyebutkan bahwa 1 dari 4 orang Indonesia tidak memiliki fasilitas tersebut di rumah.

Menurut dr Reisa, pandemi juga mendorong ruang-ruang publik, termasuk sekolah, untuk menyediakan fasilitas cuci tangan yang dapat digunakan masyarakat.

Guna meningkatkan ketersediaan fasilitas tersebut, kemitraan swasta dan pemerintah akan membantu mewujudkan 15.000 sekolah aman Covid-19. Bantuan yang diberikan berupa sabun batang serta cairan pembersih tangan dan disinfektan.

Adapun penerima bantuan tersebut meliputi sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan madrasah yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Dokter Reisa mengatakan, akses terhadap air bersih, sanitasi, serta kebersihan lingkungan merupakan hal penting untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman, bersih, dan sehat.

Bahkan, pemerintah juga mewajibkan ketiga hal tersebut sebagai syarat pembukaan kembali sekolah.

“Sekolah aman Covid-19, termasuk dengan ketersediaan fasilitas CTPS, akan menambah kepercayaan orangtua untuk mengizinkan anak-anak mereka kembali ke sekolah,” jelas dr Reisa.

Hal tersebut sesuai dengan hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan Unicef yang dilakukan pada 10-14 September 2021 di 34 provinsi di Tanah Air.

Survei yang melibatkan 1.200 orangtua dan wali murid anak prasekolah, taman kanak-kanak (TK), SD, SMP, dan sekolah menengah atas (SMA) menunjukkan, sebagian besar orangtua di berbagai tingkat pendidikan menilai bahwa sekolah sudah siap melanjutkan pembelajaran tatap muka (PTM). Mereka pun mengizinkan anak-anaknya untuk kembali ke sekolah.

“Hal itu merupakan perkembangan bagus berkat kerja keras bersama. Mari kita galakkan praktik CTPS demi generasi masa depan Indonesia yang lebih sehat,” kata dr Reisa.

Selain itu, dr Reisa juga menekankan bahwa sekolah dapat menjadi lingkungan yang aman bagi anak-anak dengan mempersiapkan penuh dalam upaya mitigasi risiko Covid-19.

Upaya mitigasi tersebut mencakup kewajiban menggunakan masker, ketersediaan saluran udara yang memadai di kelas, penerapan sistem kehadiran sebesar 50 persen, dan ketersediaan tempat CTPS.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.