Advertorial

Radang Sendi, Penyakit Sejuta Umat yang Masih Dianggap Sepele

Kompas.com - 21/10/2021, 10:05 WIB
Ilustrasi sakit persendian Dok. ShutterstockIlustrasi sakit persendian

KOMPAS.com – Apakah kamu pernah mengalami nyeriatau kaku pada persendian? Bila pernah, kamu perlu memeriksakan kondisi kesehatan persendian lebih lanjut sebab bisa jadi itu merupakan gejala radang sendi.

Radang sendi atau artritis merupakan salah satu gangguan kesehatan umum yang dirasakan oleh jutaan orang di dunia. Meski begitu, penyakit ini sebaiknya tidak dianggap sepele. 

Dilansir dari arthritis.org, radang sendi bukanlah penyakit tunggal, melainkan bisa merujuk ke beberapa gangguan kesehatan lain. Ada lebih dari 100 jenis radang sendi yang teridentifikasi oleh para ahli. Salah satu yang paling umum adalah osteoarthritis (osteoartritis).

Osteoartritis terjadi ketika tulang rawan—bantalan licin di ujung tulang—mengalami penipisan atau kerusakan akibat gesekan langsung antartulang.

Jenis artritis tersebut dapat terjadi di semua persendian. Namun, sendi yang paling berisiko mengalami osteoartritis adalah sendi lutut, pinggul, dan punggung.

Osteoartritis disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain genetik, riwayat trauma sendi, usia, jenis kelamin, dan berat badan.

Melansir WebMd, faktor genetik berkontribusi dalam perkembangan jenis radang sendi tertentu. Sebuah laporan menunjukkan, sekitar 40 persen pasien radang sendi memiliki anggota keluarga yang pernah mengalami kondisi kesehatan serupa.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Gejala radang sendi kronis akan menimbulkan perubahan pada titik nyeri secara permanen. Contohnya, muncul benjolan atau taji, serta timbul suara ketika sendi digerakkan.

Dalam kondisi parah, penderita radang sendi kronis tidak bisa berjalan normal atau duduk tegak. Kalau sudah begitu, biasanya aktivitas jadi terhambat karena untuk bergerak saja, persendian sudah kesakitan. 

Selain itu, peradangan sendi juga dapat mengakibatkan tubuh demam, panas dingin, kelelahan, sakit kepala, dan kehilangan selera makan.

Jika merasakan gejala-gejala di atas, sebaiknya segera kunjungi dokter untuk mendapat penanganan yang tepat. Guna memastikan diagnosis, dokter akan meminta pasien melakukan sejumlah pemeriksaan, seperti rontgen dan magnetic resonance imaging (MRI), untuk melihat kondisi tulang. 

Kepastian diagnosis dibutuhkan untuk menghindari kemungkinan komplikasi akibat radang sendi, seperti gangguan jantung, mata, paru-paru, ginjal, dan kulit.

Menjaga kesehatan sendi

Sendi yang sehat mendukung kelancaran aktivitas sehari-hari. Karena itu, tak ada alasan untuk menyepelekan kesehatan persendian tulang.

Selain itu, merawat sendi sejak dini dapat membantu meringankan sejumlah masalah yang mungkin mengganggu seiring pertambahan usia. 

Setidaknya, ada tiga cara untuk menjaga kesehatan persendian tulang. Berikut ulasannya.

  1. Menjaga berat badan ideal

Kelebihan berat badan (BB) akan memberikan tekanan ekstra pada sendi, terutama di bagian lutut, pergelangan kaki, pinggul, dan punggung.

Ahli ortopedi dr Dominic King dalam laman Cleveland Clinic mengatakan, kenaikan BB 10 pon bisa menghasilkan tekanan setara 20 hingga 39 pon pada sendi-sendi yang menopang beban tubuh, khususnya lutut.

“Sebaliknya, kekurangan berat badan akan membuat massa otot berkurang, tapi berdampak pada kekuatan dan kestabilan fungsi sendi,” katanya.

  1. Rajin bergerak

Menjaga kesehatan sendi juga bisa dilakukan dengan melakukan aktivitas fisik yang melatih kekuatan otot-otot sekitar persendian, seperti berenang, berjalan kaki, dan bersepeda.

Opsi lainnya, para ahli merekomendasikan tai chi sebagai cara efektif untuk mengurangi rasa sakit dan kekakuan pada penderita radang sendi, seperti osteoartritis. 

Bagi kamu yang jarang atau tidak pernah berolahraga, disarankan untuk berolahraga secara perlahan dengan durasi singkat. Misalnya, 3-5 menit selama dua kali dalam sehari. Setelah tubuh dapat menoleransi, kamu bisa menambahkan intensitasnya sedikit demi sedikit.

Jangan lupa lakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum olahraga untuk mengendurkan sendi, ligamen, dan tendon.

  1. Terapkan pola makan sehat

Kesehatan sendi juga bisa diperoleh lewat penerapan pola makan sehat dan memenuhi asupan nutrisi yang dibutuhkan tulang secara seimbang. Salah satunya, omega-3 yang bisa ditemukan pada ikan salmon, makarel, dan sarden, serta walnut (kenari).

Nutrien berikutnya yang dibutuhkan untuk kesehatan persendian adalah glukosamin. Menurut National Institutes of Health (NIH), zat ini efektif untuk mengurangi nyeri, pembengkakan, dan kaku sendi. Adapun makanan yang menjadi sumber glukosamin adalah udang, lobster, kepiting, dan kerang-kerangan.

Bayam, susu dan produk olahannya, bawang putih, serta jahe juga merupakan makanan yang baik bagi kesehatan persendian. Begitu pun dengan kacang-kacangan, seperti almon dan pistachio.

Suplemen kesehatan tulang Dok. Hemaviton Suplemen kesehatan tulang

Guna mengoptimalkan kesehatan sendi, konsumsi juga suplemen, seperti hemaviton Jointcare MAX.

Sebagai informasi, hemaviton Jointcare MAX adalah produk suplemen yang berfungsi menjaga kesehatan fungsi persendian.

Komposisi hemaviton Jointcare MAX diformulasikan dengan Joint Support Formula yang terdiri dari sejumlah nutrien yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan persendian tulang.

Sebut saja, glukosamin, kondroitin sulfat, methyl sulfonyl methane (MSM), dan omega-3. Produk ini juga sudah mendapat sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Suplemen yang dikemas dalam bentuk setrip itu hadir dalam dua varian, yaitu isi 5 kaplet yang dijual dengan harga Rp 19.000 dan 10 kaplet dengan harga Rp 30.000. Produknya pun dapat ditemukan dengan mudah, seperti di apotek dan toko obat terdekat.

Selain itu, hemaviton Jointcare MAX juga dapat dibeli secara daring melalui Tempo Scan Official Store di platform e-commerce seperti Shopee, Tokopedia, Blibli, dan Lazada.

Nah, untuk mendapatkan manfaat optimal, konsumsi hemaviton Jointcare MAX satu hingga tiga kaplet setiap hari.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.