Advertorial

Memahami Literasi Digital, Kunci Menjaga Kualitas Belajar dari Rumah

Kompas.com - 28/10/2021, 15:48 WIB

KOMPAS.com – Tak dapat dimungkiri, perkembangan dunia digital dan kehadiran internet telah menyasar segala sisi kehidupan, termasuk pendidikan.

Meski demikian, masih banyak pengguna internet, terutama anak-anak, yang hanya mampu menerima informasi tanpa memiliki kemampuan untuk memahami dan mengolahnya dengan baik. Hal ini mengakibatkan mereka lebih rentan terpapar informasi yang tidak benar.

Menyikapi hal itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) kembali menggelar seri webinar literasi digital #MakinCakapDigital dengan tema "Literasi Digital: Menjaga Kualitas Belajar dari Rumah" di Kota Pandeglang, Banten, Selasa (12/10/2021).

Webinar tersebut dihadiri oleh narasumber dari berbagai bidang keahlian dan profesi, yakni perwakilan asistenprofesi.id AAM Abdul Nasir, praktisi pendidikan Yuni Wahyuning, Sekretaris Nur Iman Foundation Mlangi Yogyakarta Muhammad Mustafied, serta pekerja dan pengembang media seni Tomy Widiyatno.

Masing-masing narasumber membahas sejumlah tema, meliputi digital skills, digital ethics, digital culture, dan digital safety.

Seminar dibuka oleh AAM Abdul Nasir. Menurutnya, terdapat beberapa kemampuan digital yang harus dimiliki peserta didik untuk mendukung kegiatan belajar dari rumah.

“Pertama, kemampuan untuk mengetahui perangkat keras dan lunak, memahami sistem operasi, menggunakan perangkat digital secara positif, berkomunikasi secara digital, serta mencari referensi pelajaran secara digital,” ujar Abdul dalam keterangan pers yang diterima Kompas.com, Senin (25/10/2021).

Agar mendapatkan hasil belajar berkualitas, Abdul menyarankan peserta didik untuk menyediakan ruangan khusus belajar, mengikuti pelajaran sesuai jadwal, fokus pada pembelajaran sesuai materi, menjawab semua soal dalam pelajaran, istirahat setelah pelajaran, dan memperkaya pengetahuan dengan berbagai referensi.

Lebih lanjut, dia mengimbau agar peserta didik juga mempraktikkan pelajaran yang didapat di kehidupan nyata, memperhatikan indikator pencapaian pelajaran, berkolaborasi dengan teman untuk kemanfaatan, selalu berpikir positif, menjadi produktif dan kreatif, serta selalu berbagi hal baik kepada semua orang.

Hal senada diungkapkan Yuni Wahyuning. Menurut dia, saat melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dari rumah, peserta didik harus menjaga etika dan etiket.

“Ketika melakukan PJJ, peserta didik hendaknya memperhatikan peraturan kelas online, yakni hadir tepat waktu, menggunakan pakaian yang pantas, bersikap hormat kepada guru dan teman, mematikan microphone ketika tidak berbicara, bijak menggunakan kotak chat, serta tidak melakukan kegiatan lain selama pembelajaran," jelas Yuni.

Sementara itu, menurut Muhammad Mustafied, PJJ berpotensi menurunkan prestasi peserta didik.

“Hal itu bisa disebabkan strategi pembelajaran yang diterapkan guru kurang maksimal, minimnya interaksi antara guru dan siswa, serta durasi belajar yang kurang," kata Mustafied.

Demi menghindari penurunan prestasi, Mustafied menyarankan agar peserta didik rajin mencatat materi penting, mengerjakan tugas, hadir di kelas, mengatur waktu belajar, serta memanfaatkan berbagai platform aplikasi belajar online dan sarana belajar lain.

Sebagai pembicara terakhir, Tomy Widiyatno mengatakan, belajar daring yang menyenangkan bisa dilakukan dengan membuat kelompok belajar, disiplin dan saling menghargai, serta menyediakan tempat yang nyaman dan alat-alat yang digunakan untuk belajar.

Selain itu, Tomy juga meminta pendidik dan peserta didik untuk menjadi warga digital yang positif dan aman dengan bersikap bijak saat menyebar informasi atau menerapkan konsep “saring sebelum sharing”.

“Jangan mudah percaya informasi yang tidak masuk akal. Jauhi phising dengan tidak mengeklik tautan (link) secara sembarangan. Lalu, tinggalkan jejak digital yang positif,” pesan Tomy.

Sementara itu, narasumber key opinion leader (KOL), Suci Patia berpendapat, dengan kemudahan akses digital, masyarakat kini bisa memanfaatkan media sosial untuk menciptakan personal branding melalui konten-konten positif dan bermanfaat bagi orang sekitar.

Di sisi lain, Suci juga tidak memungkiri bahwa digitalisasi turut memberikan dampak negatif. Oleh sebab itu, kata Suci, masyarakat harus bisa mengontrol diri dan berhati-hati dalam memilih konten-konten yang pantas untuk dikonsumsi.

“Masyarakat harus teredukasi dan memahami literasi digital,” imbuh Suci.

Seluruh peserta tampak antusias dengan penjabaran para narasumber. Hal ini terlihat dari pertanyaan yang diajukan oleh salah satu peserta, yakni Suci Ismada. Dia menanyakan tentang cara meningkatkan minat dan bakat siswa yang malas belajar saat sekolah daring.

Pertanyaan itu dijawab dengan lugas oleh Yuni Wahyuning. Menurut dia, orangtua berperan besar dalam mengidentifikasi minat dan bakat anak. Oleh sebab itu, orangtua dan anak harus membangun komunikasi secara intens.

“Orangtua juga perlu berinisiatif dan berperan aktif dalam proses kegiatan belajar pada anak. Selain itu, guru-guru juga dapat membimbing peserta didik untuk mengeksplorasi hal-hal lain di luar materi pembelajaran,” jelas Yuni.

Sebagai informasi, webinar #MakinCakapDigital merupakan salah satu rangkaian kegiatan literasi digital di Banten. Kegiatan ini terbuka bagi semua orang yang berkeinginan memahami dunia literasi digital.

Penyelenggara pun membuka peluang sebesar-besarnya kepada semua anak bangsa untuk berpartisipasi pada agenda webinar selanjutnya melalui akun Instagram @siberkreasi.dkibanten dan @siberkreasi.

Kegiatan webinar tersebut juga turut mengapresiasi partisipasi dan dukungan semua pihak sehingga dapat berjalan dengan baik. Sebab, program literasi digital ini hanya akan sukses mencapai target 12,5 juta partisipan jika turut didukung oleh semua pihak yang terlibat.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau