Advertorial

Sebelum Terlambat, Ketahui Jenis Konten dan Bentuk Ancaman di Dunia Digital

Kompas.com - 28/10/2021, 16:01 WIB
Ilustrasi bentuk ancaman di dunia digital. Dok. Kompas.comIlustrasi bentuk ancaman di dunia digital.

KOMPAS.com – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bekerja sama dengan Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) dan Siberkreasi Gerakan Nasional Literasi Digital menggelar webinar dengan tajuk “Tren Aplikasi Dunia Digital”, Rabu (13/10/2021).

Kemenkominfo menghadirkan sejumlah narasumber dalam webinar tersebut, antara lain dosen Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Anang Masduki, MA, PhD, dosen dan konsultan sumber daya manusia (SDM) Arfian, MSi, serta Program Director Swaragama Group dan Sekjen Forum Diskusi Radio Indonesia Bonny Ajisakti.

Hadir pula entrepreneur dan fasilitator usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) desa Misbachul Munir dan presenter berita Audrey Chandra selaku narasumber.

Menurut Misbachul, perkembangan teknologi informasi belakangan ini sangat pesat. Bahkan, hajat hidup manusia, mulai dari aspek sosial, ekonomi, hingga budaya ditopang oleh perangkat digital.

“Terkait itu, penting menerapkan keamanan digital untuk memastikan penggunaan layanan digital dapat dilakukan secara aman dan nyaman,” ujarnya dalam keterangan pers yang diterima Kompas.com, Senin (25/10/2021).

Misbachul juga menjelaskan bahwa penting untuk memahami berbagai bentuk ancaman di dunia digital, seperti kejahatan dengan berbagai modus.

“(Contohnya), menawarkan produk yang belum beredar atau dengan harga miring, promo diskon atau penawaran menarik, resi palsu, dan mengklaim toko offline orang lain,” ujarnya.

Dalam sesi key opinion leader, Audrey menyampaikan bahwa saat ini, banyak orang yang melakukan promosi melalui Instagram Story. Karenanya, ia terdorong untuk belajar mengedit video.

“Saat pandemi, akhirnya saya belajar banyak hal yang tadinya tidak bisa. Saya mencoba mempromosikan UMKM dan mendapatkan respons menyenangkan, baik dari pembelian maupun komentar mengenai kemampuan mengedit video,” kata Audrey.

Menurutnya, hal penting saat berkolaborasi di media sosial bukan hanya belajar apa yang diinginkan, tetapi juga yang bermanfaat bagi sesama.

Salah satu peserta bernama Syakir Hamdi pun bertanya mengenai penerapan budaya digital yang mengubah pola pikir agar dapat beradaptasi dengan perkembangan digital.

“Bagaimana strategi menumbuhkan perilaku dan budaya dalam transformasi digital yang sesuai dengan budaya Indonesia dan berlandaskan Pancasila?” tanya Syakir.

Bonny pun menjawab pertanyaan tersebut. Menurutnya, content creator dapat melihat hal-hal yang ada di sekitarnya untuk menghasilkan sebuah konten digital.

Misalnya, content creator harus tahu bahwa di Jakarta ada ondel-ondel sebagai bagian dari budaya Betawi yang perlu dilestarikan.

“Hal tersebut bisa dijadikan konten yang bisa menghasilkan. Ini juga menjadi cerminan bahwa masih banyak budaya lokal yang masih belum diunggah di media sosial. Penting untuk saling bahu-membahu dalam menampilkan budaya daerah,” ujarnya.

Sebagai informasi, webinar tersebut merupakan rangkaian kegiatan literasi digital yang terbuka bagi semua orang yang ingin memahami dunia literasi digital.

Penyelenggara membuka peluang kepada semua anak bangsa untuk berpartisipasi pada agenda webinar selanjutnya.

Bagi yang ingin bergabung dan mengetahui tentang Gerakan Nasional Literasi Digital dapat mengikuti akun Instagram @siberkreasi.dkibanten dan @siberkreasi.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.