Advertorial

Ketua DPD RI Serap Sejumlah Persoalan di Terminal Barang Internasional dan PLBN Entikong

Kompas.com - 28/10/2021, 21:29 WIB

KOMPAS.com - Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia (RI) AA La Nyalla Mahmud Mattalitti melakukan peninjauan langsung ke Terminal Barang Internasional dan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat (Kalbar), Kamis (28/10/2021).

Dalam kunjungan tersebut, turut hadir Senator lampung Bustami Zainuddin, Senator Aceh Fachrul Razi,Senator Kalbar Erlinawati dan Sukiryanto , serta Senator Sulawesi Selatan (Sulsel) Andi Muhammad Ihsan.

Dari hasil peninjauan di Terminal Barang Internasional Entikong terdapat dua persoalan krusial yang ditemukan La Nyalla. Salah satunya mengenai pasokan listrik.

Koordinator Satuan Pelayanan Terminal Barang Internasional Entikong, Tedy Sutanto mengatakan bahwa sumber listrik di tempat tersebut masih dipasok dari Malaysia.

“Selain akses yang lebih cepat, biaya juga menjadi pertimbangan. Jadi, listrik di sini masih dipasok dari Malaysia. Kalau di Kalbar, pasokan listrik berasal dari Pontianak dan itu jaraknya cukup jauh," ujar Tedy dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Kamis.

Selain listrik, lanjut Tedy, masalah lain yang perlu segera diatasi adalah sinyal telekomunikasi. Hal tersebut kerap mengganggu komunikasi terkait hal penting. Apalagi, jika di wilayah tersebut terjadi pemadaman listrik.

"Kalau mati lampu, sinyal hilang, blank. Sudah tidak ada sinyal sama sekali. (Ini) berlaku untuk semua operator," jelas Tedy.

Untuk PLBN, masalah utama yang saat ini dihadapi tempat tersebut adalah kurangnya fasilitas penanganan Covid-19, seperti ruangan untuk isolasi mandiri serta alat swab dan PCR.

Kepala PLBN Entikong Viktorius Dunand mengatakan, pihaknya ingin pemerintah segera mengatasi masalah tersebut.

“Masalah lainnya adalah akses jalan penghubung dari Terminal Barang Internasional dan PLBN Entikong. Sebab, jaraknya kedua tempat tersebut sekitar 1,4 kilometer. Ini penting sebagai penghubung kedua lembaga. Selama ini, akses jalan masih melintasi jalan umum,” kata Viktorius.

Mendengar semua keluhan tersebut, La Nyalla siap menindaklanjuti persoalan yang telah diterima.

Senator asal Jawa Timur itu menilai, persoalan listrik dan sinyal di Pelabuhan Barang Internasional Entikong akan dibahas secara khusus saat dirinya tiba di Jakarta.

Menurutnya, hal ini berkaitan dengan kemandirian energi nasional yang selama ini digaungkannya.

"Pasti kami tindaklanjuti. Ini bukan hanya persoalan listrik semata, tapi juga berkaitan dengan kedaulatan dan kemandirian energi nasional. Kami akan cari solusinya," ucap La Nyalla.

Menurut La Nyalla, persoalan fasilitas penanganan Covid-19 di PLBN Entikong juga harus segera diatasi sebagai langkah antisipasi untuk menghadapi gelombang ketiga Covid-19.

“Kalau untuk akses penghubung Terminal Barang Internasional dan PLBN Entikong, jalan tersebut merupakan persoalan krusial yang harus segera mendapat perhatian. Akses ini kan bertujuan memudahkan kinerja. Jadi, jangan sampai terganggu karena akses yang belum ada. Yang jelas, apa yang ditemukan hari ini di dua lokasi tersebut akan segera kami atasi," kata La Nyalla.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau