Advertorial

Menag Yaqut: Pramuka Harus Mampu Jawab Kebutuhan Generasi Milenial

Kompas.com - 11/11/2021, 20:53 WIB

KOMPAS.com - Perkemahan Wirakarya Nasional (PWN) Perguruan Tinggi Keagamaan XV di Palembang resmi dibuka oleh Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas, Kamis (11/11/2021).

Di hadapan ribuan mahasiswa pramuka penegak-pandega dari berbagai provinsi di Indonesia yang hadir secara daring dan luring, Menag Yaqut meminta pramuka menjadi rumah bersama generasi muda, yakni generasi milenial yang moderat.

"Pramuka harus bisa menjadi rumah bersama bagi generasi muda yang ingin berkembang, berkarya, dan menempa diri. Rancang bangun kegiatan kepramukaan harus mampu menjawab kebutuhan generasi millennial yang akrab dengan teknologi digital," ujarnya dalam siaran pers yang diterima Kompas.com.

Menag Yaqut menjelaskan, nilai-nilai yang telah tertanam di kepramukaan, seperti kemandirian, gotong royong, perjuangan hidup, keberanian, dan kepekaan sosial, harus mampu ditanamkan ke dalam perilaku mahasiswa masa kini yang notabene adalah generasi milenial.

Perguruan tinggi keagamaan (PTK), lanjutnya, juga harus mampu menyiapkan dan mencetak generasi muda Indonesia dengan pemahaman dan kapasitas keagamaan yang rahmatan lil ‘alamin

“Dalam perspektif Kementerian Agama, tentu melalui pengarusutamaan moderasi beragama. Pemahaman agama yang inklusif, toleran, dan damai menjadi keniscayaan di tengah-tengah pluralitas bangsa,” tuturnya. 

Menag menjelaskan, salah satu misi memperteguh semangat kebangsaan tercermin pada komitmen mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila. Hal ini harus diletakkan bersama-sama dengan penciptaan suasana keagamaan yang moderat. 

“PWN PTK XV dirancang tidak saja untuk mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam, tetapi juga perguruan tinggi keagamaan lain. Ini merupakan cermin bahwa kita mempunyai komitmen bersama membangun hubungan yang harmonis lintas iman dan lintas agama,” jelasnya. 

Dengan tujuan mulia ini, imbuh Menag, Indonesia harus menjadi contoh bagi bangsa lain. Melalui Pancasila, seluruh komponen di dalam bangsa Indonesia memiliki komitmen tinggi terhadap persatuan serta menghormati perbedaan. 

“Betapa kita sudah selesai tidak mempersoalkan perbedaan agama, ras, suku, dan antargolongan. Semua warga negara bisa hidup bersama, rukun, dan damai dalam wadah NKRI. Hal itu dipelopori oleh mahasiswa PTK yang kita cintai ini," katanya. 

Sebagai informasi, Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang menjadi tuan rumah PWN PTK XV. Kegiatan nasional ini mengusung tema “Konsistensi dalam Moderasi Beragama, Berkarya untuk Bangsa”. Karena masih dalam kondisi pandemi, perkemahan berlangsung dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. 

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Ali Ramdhani mengatakan, PWN di Palembang harus menjadi momentum untuk menguatkan nilai-nilai kebangsaan dan keindonesiaan di tengah-tengah keberagaman bangsa.

“Kita merasakan, dunia kepramukaan merupakan ruang yang menyenangkan dan sekaligus fenomenal karena lekat dengan pengalaman, penghayatan, sekaligus pengamalan yang sarat akan nilai-nilai. Kejujuran, kedisiplinan, kebersamaan, kerja keras, dan kemandirian adalah bangunan empat karakter yang selama ini tertanamkan,” ujarnya.

Kegiatan PWN PTK XV 2021 diikuti sebanyak 1.176 orang. Rinciannya, peserta luring 444 orang, peserta daring 558 orang, pembina pendamping 116 orang, serta pimpinan kontingen 58 orang.

Selain perkemahan, kegiatan lain dalam PWN adalah pengembangan wawasan, pelatihan dan workshop, pentas seni budaya nusantara, bakti masyarakat, serta pemecahan rekor MURI 25.000 pantun.

Acara pembukaan PWN dihadiri oleh Wakil Gubernur Mawardi Yahya, Sekretaris Jenderal Kemenag Nizar, dan segenap pimpinan perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) se-Indonesia. 

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau