Advertorial

Progres Pembangunan Kilang Tuban Berprinsip Green Refinery Capai 53 Persen

Kompas.com - 23/11/2021, 20:32 WIB
Pembangunan Kilang Tuban. DOK. PertaminaPembangunan Kilang Tuban.

KOMPAS.com - PT Pertamina (Persero) melalui anak usaha PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), yakni Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PT PRPP), tengah mengupayakan percepatan pencapaian progres pelaksanaan proyek Kilang Tuban.

Upaya tersebut sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.

Sebagai pengelola proyek Kilang Tuban, PT PRPP tengah fokus pada pelaksanaan pekerjaan front end engineering design (FEED) yang progresnya kini mencapai 53,79 persen. Pencapaian tersebut melampaui target yang ditetapkan, yakni sebesar 11,77 persen per 12 November 2021.

Pada saat yang sama, PT PRPP juga tengah menyiapkan paket pekerjaan early work untuk pembangunan worker camp.

Presiden Direktur PT PRPP Kadek Ambara Jaya mengatakan, pihaknya sedang melakukan pengerjaan pembebasan lahan (land clearing) untuk kebutuhan pembangunan proyek Kilang Tuban.

Proses land clearing telah mencapai area Hutan Jati Peteng seluas 125 hektare (ha). Dari luas tersebut, 119 ha di antaranya telah dibebaskan dalam kurun waktu sembilan bulan terakhir.

Saat ini, pembangunan kilang tersebut telah memasuki tahap III. Progres per September 2021 telah mencapai lebih dari 78 persen.

“Hutan Jati Peteng merupakan hutan produksi yang berisi 40.000 tanaman jati (Tectona grandis). Semula, hutan ini dikelola PT Perhutani dan telah mendapat persetujuan dari pemerintah untuk ditukar guling terkait pengadaan lahan proyek GRR Tuban,” ujar Kadek dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (23/11/2021).

Dalam pelaksanaan pengerjaan proyek, lanjut Kadek, Pertamina memastikan bahwa pembebasan area Hutan Jati Peteng untuk proyek Kilang Tuban dijalankan dengan mengikuti kaidah dan prinsip keberlanjutan.

PT PRPP mengikuti ketentuan pemerintah dengan memenuhi beberapa persyaratan, mulai dari perizinan, prinsip, hingga kajian teknis dari Perusahaan Umum Kehutanan Negara Indonesia (Perhutani), Dinas Kehutanan, serta tim terpadu yang terdiri dari 11 institusi yang ditunjuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK).

Pembangunan Kilang Tuban. DOK. Pertamina Pembangunan Kilang Tuban.

Selain itu, ruang vegetasi untuk penyerapan karbon dioksida di Kabupaten Tuban akan tetap dipertahankan dengan konsep kilang hijau atau green refinery.

“Kami juga akan melakukan reboisasi di area pantai proyek tersebut sebagai ‘paru-paru kota’ penyerap karbon dioksida dan penghasil oksigen di Tuban,” tuturnya.

Sebagai informasi, persetujuan penggunaan lahan hutan dan penebangan area tanaman jati tersebut dikeluarkan oleh Kementerian LHK melalui Peraturan Menteri (Permen) Nomor 97 Tahun 2012.

Sebagai gantinya, Pertamina wajib mengalokasikan lahan di tempat lain sebagai hutan industri. Adapun hutan yang disediakan Pertamina berada di wilayah Banyuwangi dan memiliki luas sebesar 265 ha atau dua kali lipat dari Luas Hutan Jati Peteng. 

Mengenai progres pertukaran lahan, Kadek menambahkan bahwa saat ini, pengerjaan hutan di Banyuwangi masih dalam tahap pengukuran dan pengadaan lahan. Selanjutnya, pihaknya akan melakukan reboisasi di lahan pengganti.

Tak hanya itu, Pertamina juga menjalankan agenda penghijauan lain di Kabupaten Tuban, tepatnya di kawasan pesisir lokasi proyek Kilang Tuban. Sebanyak 20.000 bibit Cemara Laut (Casuarina equisetifolia) akan ditanam Pertamina di area tersebut.

“Dengan demikian, fungsi penyerapan karbondioksida di Tuban tidak hilang meski areal hutan jati dibebaskan,” ujarnya.

Pemilihan tanaman Cemara Laut didasarkan pada hasil riset Universitas Sumatera Utara (USU). Temuan riset ini menyebutkan bahwa cemara laut memiliki kapasitas penyerapan karbon sebesar 154,36 kilogram (kg) per pohon dalam setahun. Kemampuan menyerap karbon oleh cemara lebih besar dari penyerapan karbon jati yang hanya 135,27 kg per pohon selama setahun.

Kadek kembali memastikan bahwa cetak biru (blue print) dan desain konstruksi Kilang Tuban dibuat dengan merujuk pada prinsip kilang ramah lingkungan atau green refinery yang berkelanjutan. Kilang tersebut menyertakan jalur hijau untuk vegetasi penyerap karbon dioksida dan penggunaan energi terbarukan berupa panel solar.

“Dengan konsep yang ramah lingkungan itu, kami berharap desain konstruksi Kilang Tuban dapat menekan jejak emisi ke depan sekaligus membantu tercapainya emisi nol bersih atau net zero emission di Kabupaten Tuban,” kata Kadek.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.