Advertorial

Belajar Tentang Kesehatan Mental Lewat Podcast Anyaman Jiwa

Kompas.com - 24/11/2021, 20:54 WIB

KOMPAS.com - Sebagai upaya pengembangan konten berbasis audio, KG Media membangun Medio Podcast Network pada Juli 2021. Platform tersebut menghadirkan beragam konten siniar (podcast), mulai dari berita, anak-anak, drama fiksi, finansial, hingga cerita personal.

Salah satu siniar produksi Medio, yaitu Kamu(s)ehat melakukan penjenamaan ulang menjadi Anyaman Jiwa. Sebagai informasi, siniar ini merupakan hasil kerja sama Medio dengan Sonora Radio (bagian dari KG Radio Network).

Awalnya, Kamu(s)ehat merupakan kanal siniar yang memfokuskan obrolan seputar kesehatan raga. Namun, seiring peningkatan isu isu kesehatan mental di masa pandemi Covid-19, terutama di kalangan milenial dan Gen Z, Medio dan Sonora Radio memutuskan untuk mengubah fokus.

Project Manager KG Media Sulyana Andikko mengatakan, edukasi kesehatan mental masih belum banyak dibahas di kanal audio. Hal ini menjadi peluang bagi Medio untuk menciptakan konten terkait kesehatan mental.

“Kesehatan mental itu unik. Salah satunya, belajar hal sederhana, seperti latihan bernapas dan meditasi. Dengan demikian, dapat membantu orang-orang yang mungkin sudah lelah seharian menatap layar,” ujarnya dalam rilis yang diterima Kompas.com, Rabu (24/11/2021).

Sulyana menjelaskan bahwa program tersebut juga menghadirkan konten monolog dan dialog. Hal ini yang kemudian mendasari penamaan “Anyaman” yang berarti ada keterkaitan antarkonten yang menenangkan jiwa.

Nantinya, siniar Anyaman Jiwa akan membahas banyak persoalan kesehatan mental yang terjadi di sekitar masyarakat, baik bersama dengan para psikolog maupun penulis atau praktisi populer. Topik yang akan dihadirkan di tiap episode pun beragam dan terkait dengan situasi kesehatan mental di Indonesia.

Di Indonesia sendiri isu kesehatan mental masih memiliki stigma negatif dan seolah tabu untuk dibahas secara luas.

Tidak jarang, lingkungan individu yang sedang mengalami kondisi kesehatan mental yang buruk, malah menuntut untuk tetap berperilaku normal. Padahal, tanpa disadari isu ini kerap timbul dari lingkungan sekitar yang masih belum bisa memahami kondisi penderita.

Kondisi tersebut diperparah dengan kehadiran pandemi Covid-19 yang membatasi ruang gerak penderita. Mereka pun terasa terjebak di rumah, yang menjadi salah satu kontributor permasalahan mental.

Rutinitas yang berubah, rapat virtual tiada henti, hingga perasaan terisolasi dari orang luar menjadi tekanan sendiri. Berdasarkan hasil survei Litbang Harian Kompas pada September 2021 terhadap 505 responden, 58 persen menyatakan bahwa mereka merasa tertekan saat pandemi ini, dengan 50 persennya enggan pergi ke ahli karena tidak bersedia membayar.

Survei tersebut juga mengungkapkan tiga masalah utama yang menjadi stesor di masa pandemi. Pertama, tekanan ekonomi karena kehilangan pekerjaan, penghasilan, dan bisnis tutup sebanyak 57,6 persen.

Kedua, tekanan pekerjaan karena tuntutan dari kantor yang bertambah selama bekerja dari rumah sebesar 13,4 persen. Terakhir, tekanan sosial karena kehilangan momen bersama teman atau kerabat, kejenuhan di rumah, dan perasaan terisolasi sebanyak 12,1 persen.

Merespons hal tersebut, siniar Anyaman Jiwa diharapkan dapat menjadi upaya promotif dan preventif agar semakin banyak masyarakat yang peduli terhadap isu kesehatan mental. Selain itu, bagi para penderita, siniar tersebut diharapkan dapat menjadi teman agar mereka tidak merasa sendiri.

Lead Producer kanal Anyaman Jiwa Ikko Anata berharap siniar tersebut bisa dijadikan masukan bagi masing-masing pendengar, baik yang sudah sadar maupun sedang mengalami masalah kesehatan mental.

“Selain itu, untuk masyarakat sekitar yang mungkin belum sadar bahwa selama ini mereka memperlakukan penderita itu kurang tepat. (Siniar ini) juga bisa jadi teman untuk konsultasi atau curhat,” katanya.

Melalui Undang-Undang (UU) No. 24 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, upaya promotif disebutkan oleh pemerintah agar dapat meningkatkan kesadaran, menghilangkan stigma dan diskriminasi, serta meningkatkan pemahaman masyarakat.

Dalam UU tersebut, pemerintah juga menyebutkan peran media massa dalam melakukan upaya promotif. Anyaman Jiwa dalam hal ini tentu berperan penting untuk menyebarluaskan informasi dengan format audio yang menarik. Selain itu, seiring berkembangnya media informasi, intensitas dalam mendapatkan informasi juga semakin meningkat.

Terkait dengan kesehatan mental dan audio, berdasarkan laporan Culture Next yang dipublikasikan oleh Spotify pada 2021, disebutkan bahwa konsumsi siniar kesehatan mental meningkat hingga 129 persen pada kalangan Gen Z dan 263 persen pada kalangan milenial.

Data tersebut juga menyebutkan bahwa sebanyak 83 persen milenial dan 66 persen Gen Z di Indonesia mendengarkan audio untuk mengurangi level stres.

Menilik hasil riset tersebut, siniar yang membahas kesehatan mental pun disinyalir mampu memberikan pemikiran positif sehingga digemari secara global selama pandemi Covid-19.

Hal tersebut menjadi bukti bahwa platform audio dapat menjadi salah satu alternatif bagi individu yang mencoba untuk memulihkan kondisi mentalnya.

Oleh karena itu, menurut Ikko, hadirnya Anyaman Jiwa sangat penting bagi perkembangan informasi dan pengetahuan terkait kesehatan mental. Penderita juga akan diajak berefleksi melalui cerita-cerita yang didengarkan dalam siniar.

Musim pertama dari Anyaman Jiwa akan tayang pada 1 Desember 2021. Medio menggandeng psikolog klinis dari DearAstrid Corporate Psychology Services Dra Astrid Regina Sapiie dan psikolog Novita Tandry untuk mengisi siniar ini.

Anyaman Jiwa dapat diakses melalui media digital Spotify. Episode terbaru akan diunggah setiap hari Senin dan Jumat. Klik tautan berikut agar kamu tidak ketinggalan setiap episode terbaru dari Anyaman Jiwa! https://bit.ly/AnyamanJiwaPodcast.

Narahubung :

Jodie Gusta

Group Head Marketing Communication

Email : jodie.gusta@kompas.com

Phone : 085921507169

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau