Advertorial

Literasi Digital Jadi Benteng Pertahanan Terhadap Radikalisme

Kompas.com - 26/11/2021, 22:06 WIB

KOMPAS.com - Generasi muda atau milenial kerap menjadi sasaran paham radikalisme yang terkadang berujung pada tindak terorisme.

Hal itu disebabkan sejumlah hal. Salah satunya, persebaran disinformasi yang masif di dunia digital.

Selain itu, kecenderungan konten singkat yang semakin digemari, khususnya ceramah keagamaan yang tidak utuh, turut menyebabkan penerima informasi tidak dapat memahami sebuah isu secara menyeluruh.

Oleh karena itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bekerja sama dengan Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) dan Siberkreasi Gerakan Nasional Literasi Digital menggelar webinar bertajuk “Berantas Radikalisme Melalui Literasi Digital”, Senin (8/11/2021).

Webinar yang digelar di Jakarta Barat tersebut diikuti oleh sejumlah peserta secara daring.

Narasumber yang menjadi pemateri webinar tersebut adalah Deputi Direktur PT Interns Endika Wijaya, penelti Institut Humor Indonesia Kini Mikhail Gorbachev Dom, motivator keuangan dan kejiwaan kekeluargaan Alviko Ibnugroho, perwakilan Kaizen Room Erista Septianingsih, dan key opinion leader sekaligus Putra Dirgantara Indonesia 2018 Kevin Benedict.

Dalam pemaparannya, Endika Wijaya menyampaikan beberapa cara penanggulangan radikalisme di Indonesia, khususnya di ranah digital.

Pertama, content creator tidak boleh membuat konten yang berpotensi menipu orang lain.

Kedua, jangan membingkai sebuah isu atau seseorang secara menyesatkan. Pembuat konten harus memastikan untuk selalu menggunakan sumber asli dalam pembuatan konten atau ketika membagikan informasi.

Ketiga, pahami bahwa judul, visual, serta keterangan yang tidak mendukung konten merupakan sebuah konten yang bersifat menipu. Saat ini, banyak informasi atau gambar yang dimanipulasi pihak-pihak tertentu untuk menggiring opini masyarakat.

“Oleh karena itu, penting untuk memiliki bekal literasi digital agar terhindar dari radikalisme. Selain itu, kita juga bisa berkontribusi dengan menyebarkan konten bermuatan positif di dunia maya,” ujar Endika dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Jumat (26/11/2021).

Sementara itu, Kevin menyampaikan bahwa saat ini, informasi bisa didapat secara mudah oleh siapa pun melalui internet. Hal ini menjadi peluang sekaligus tantangan, terlebih bagi dirinya yang sedang menjalani aktivitas kuliah.

“Terkait isu radikalisme, saya menyarankan agar masyarakat selalu waspada dari mana asal informasi, termasuk dengan lingkungan sendiri,” ujar Kevin.

Dalam sesi tanya jawab, peserta webinar bernama Bima Saputra mengatakan bahwa saat ini, terdapat banyak konten bermuatan radikalisme di media digital.

Menurutnya, pelaku media, baik televisi, radio, maupun media sosial perlu berperan aktif mengedukasi dan meningkatkan literasi masyarakat, khususnya anak muda, untuk mengingatkan bahaya radikalisme.

“Mengapa media masih kurang aktif dalam mengedukasi dan meliterasi masyarakat akan bahaya radikalisme?” tanya Bima.

Endika menjawab, setiap penyedia layanan media memiliki tanggung jawab sosial untuk membantu pemerintah mencegah penyebaran radikalisme.

“Pemerintah memberi pengawasan pada lembaga. Sementara, kita bisa melakukan pencegahan dengan memperbanyak literasi. Benteng terakhir pertahanan terhadap radikalisme adalah diri kita sendiri,” tutur Bima.

Sebagai informasi, webinar tersebut merupakan salah satu rangkaian kegiatan literasi digital yang diselenggarakan Kemenkominfo di Jakarta Barat.

Kegiatan seri webinar #MakinCakapDigital terbuka bagi semua orang yang berkeinginan untuk memahami dunia literasi digital. Kemenkominfo mengapresiasi partisipasi dan dukungan semua pihak sehingga webinar tersebut dapat berjalan dengan baik.

Terlebih, seri webinar #MakinCakapDigital menargetkan 12,5 juta jumlah partisipan. Oleh karena itu, Kemenkominfo membuka peluang sebesar-besarnya kepada semua pihak untuk berpartisipasi pada webinar selanjutnya. Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi akun Instagram @siberkreasi.dkibanten dan @siberkreasi.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau