Advertorial

Menyiasati Dampak Negatif Media Sosial dengan Literasi Digital

Kompas.com - 27/11/2021, 09:14 WIB
Ilustrasi perubahan emosi yang diakibatkan oleh penggunaan media sosial. DOK. ShutterstockIlustrasi perubahan emosi yang diakibatkan oleh penggunaan media sosial.

KOMPAS.com - Media sosial sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat saat ini. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa pun menggunakan media sosial sebagai sarana berinteraksi.

Sayangnya pemanfaatan media sosial sebagai wadah berinteraksi kerap menimbulkan dampak buruk, khususnya untuk anak-anak di bawah umur yang belum mengetahui cara menyaring informasi.

Oleh karena itu, orangtua harus mengawasi anaknya saat menggunakan media sosial dan memberikan edukasi terkait dampak penggunaan media sosial.

Menyikapi hal tersebut, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menggelar seri webinar literasi digital #MakinCakapDigital bertema "Jangan di Skip, Pentingnya Literasi Digital di Media Sosial", Rabu (3/11/2021).

Webinar tersebut digelar di Tangerang Selatan dan diikuti puluhan peserta secara daring.

Narasumber pada webinar tersebut terdiri dari berbagai bidang keahlian dan profesi. Di antaranya adalah penulis dan jurnalis Didin Sutandi, Ketua Program Studi (Kaprodi )Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Didin Nuruddin Hidayat, peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) dan wiraswasta di bidang digital travel dan edukasi Ahmad Maulana, serta Information Security Blibli.com Fikri Maulana, serta key opinion leader (KOL) Shafa Lubis.

Tema yang dibahas oleh masing-masing narasumber meliputi digital skillsdigital ethicsdigital culture, dan digital safety.

Didin Sutandi membuka webinar dengan memaparkan fungsi dan manfaat media sosial. Menurutnya, fungsi pokok media sosial adalah membangun, membuat dan memperkuat jaringan.

Dengan terbangun jaringan, besar kemungkinan terjadinya kolaborasi seperti yang banyak dilakukan oleh pengguna media sosial saat ini," tutur Didin dalam siaran tertulis yang diterima Kompas.com, Selasa (16/11/2021).

Sementara itu, Didin Nuruddin menambahkan bahwa tujuan materi dalam pilar etika digital adalah membuat peserta memahami pengertian, latar belakang, jenis, dan kegunaan etika digital dalam menjalani kehidupan di era digital.

Didin menambahkan, peserta dapat mengaplikasikan etika digital saat menggunakan berbagai platform digital.

“Etika berinternet adalah pengetahuan dasar berinteraksi, partisipasi, dan kolaborasi di ruang digital yang sesuai dengan kaidah etika dan peraturan yang berlaku,” tutur Didin.

Dampak positif dan negatif

Dalam webinar juga turut dijelaskan apa saja dampak positif dan negatif dari berinteraksi pada dunia digital. Didin memberikan contoh dampak positif, di antaranya pengguna dapat memperoleh informasi lebih cepat, belajar lebih cepat dan mengetahui cara menjaga privasi dalam dunia online.

Sementara itu, dampak negatifnya adalah ketergantungan pengguna pada hal-hal yang serbamudah. Mereka juga bisa saja jadi karena pengaruh penggunaan teknologi digital. Terakhir, rentan menjadi korban penipuan di media digital.

Narasumber selanjutnya, Ahmad Maulana mengamini hal itu. Ia menjabarkan bahwa internet bak dua sisi mata uang yang punya dampak positif dan negatif sekaligus. Pengguna mesti memahami hal itu, terlebih saat ini, jumlah pengguna internet di Indonesia sangat besar.

“Maraknya proses digitalisasi membuat banyak aktivitas di dunia nyata beralih ke dunia virtual. Kita harus tahu bagaimana memberdayakan manusia supaya bisa menghadapi dunia secara virtual tanpa menghadirkan konflik," ujar Ahmad.

Sementara itu, Shafa Lubis mengatakan bahwa banyak hal yang bisa dipelajari dari media sosial.

"Kalau memiliki passion, kita bisa membuat konten yang bermanfaat sesuai hobi,” ujar Shafa.

Dalam webinar tersebut, para partisipan dipersilahkan mengutarakan pertanyaan dan tanggapan. Peserta bernama Naufal Satrio menanyakan, bagaimana cara membudayakan aktivitas literasi, khususnya pada anak-anak yang cenderung cepat bosan.

Ahmad yang menanggapi pertanyaan tersebut menjawab bahwa pendidikan literasi kepada anak-anak bisa dilakukan dengan cara yang lebih kreatif. Salah satunya, menggunakan media sosial.

"Mungkin bisa lewat sesuatu yang lebih menarik. Misalnya, bekerja sama dan berkolaborasi dengan kreator konten di berbagai platform. Contohnya, Tiktok," ujar Ahmad.

Sebagai informasi, webinar #MakinCakapDigital merupakan salah satu rangkaian kegiatan literasi digital di Tangerang Selatan. Kegiatan ini terbuka bagi semua orang yang berkeinginan memahami dunia literasi digital.

Penyelenggara membuka peluang sebesar-besarnya kepada semua anak bangsa untuk berpartisipasi pada agenda webinar selanjutnya melalui akun Instagram @siberkreasi.dkibanten dan @siberkreasi.

Kegiatan webinar tersebut juga turut mengapresiasi partisipasi dan dukungan semua pihak sehingga dapat berjalan dengan baik. Sebab, program literasi digital ini hanya akan sukses mencapai target 12,5 juta partisipan jika turut didukung oleh semua pihak yang terlibat.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.