Advertorial

Dipilih oleh WHO, Itenas Bandung Wujudkan Air Minum Aman di Indonesia

Kompas.com - 29/11/2021, 22:54 WIB

KOMPAS.com - Institut Teknologi Nasional Bandung (Itenas) terpilih oleh Badan Kesehatan Dunia atau WHO untuk mengembangkan serta menerapkan water safety plan (WSP) dalam rangka peningkatan pelayanan air minum Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Indonesia.

Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Itenas Bandung Iwan Juwana mengatakan bahwa proses terpilihnya Itenas sebagai fasilitator bermula dari request for proposal (RFP) yang diumumkan WHO untuk peningkatan pelayanan PDAM di Indonesia pada 2020.

“Kami merasa punya background dan sumber daya, terutama yang ada pada Program Studi (Prodi) Teknik Lingkungan Itenas Bandung. Kemudian, tim kami pun menyusun proposal dan mengikuti penawaran tersebut,” ujar Iwan dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Senin (29/11/2021).

Dalam seleksi RFP itu, Itenas Bandung bersaing dengan banyak pihak. Walaupun tidak mengetahui institusi apa saja yang menjadi saingannya, kata Iwan, akhirnya WHO memilih Itenas Bandung untuk mengerjakan program tersebut.

Setelah ditunjuk oleh WHO, para dosen Prodi Teknik Lingkungan segera membentuk tim yang terdiri dari Ketua Tim Rachmawati Sugihartati Djembarmanah dengan anggota Didin Agustian Permadi, Mokhamad Candra Nugraha Deni, Mila Dirgawati, Moh Rangga Sururi, serta didukung oleh Iwan selaku Ketua LPPM.

Selain itu, mahasiswa dan alumni Prodi Teknik Lingkungan juga dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, dengan melibatkan mahasiswa dan alumni, Itenas Bandung juga turut menyukseskan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).

Dalam kegiatan peningkatan pelayanan air minum tersebut, tim dosen mengundang pihak PDAM di seluruh Indonesia dan memberikan training selama lima hari. Seusai training, tim Itenas Bandung juga melakukan pendampingan kepada beberapa PDAM terpilih.

“Pendampingan lanjutan ini sifatnya intensif. Jadi, tidak bisa seluruh PDAM diberikan pendampingan,” kata Iwan.

Adapun PDAM yang terpilih dan diberikan pendampingan oleh Itenas Bandung adalah PDAM Kabupaten Tangerang, Kota Depok, Kabupaten Sukabumi, Kota Cirebon, dan Kabupaten Indramayu.

Proses pendampingan PDAM

Pendampingan dilakukan selama empat bulan yang dimulai sejak akhir Juni 2021. Iwan menjelaskan, proses pendampingan tersebut dilakukan oleh tim dosen, mahasiswa, dan alumni Itenas Bandung.

“Tim dosen rutin datang ke PDAM terpilih untuk melakukan pendampingan. (Selain itu,) terdapat satu perwakilan tim yang ditempatkan di lokasi PDAM terpilih selama empat bulan penuh,” tutur Iwan.

Peninjauan langsung di lapangan oleh tim Itenas Bandung.Dok. Itenas bandung Peninjauan langsung di lapangan oleh tim Itenas Bandung.

Pendampingan tersebut, lanjutnya, bertujuan untuk menyusun dokumen Rencana Pengamanan Air Minum (RPAM). Dokumen ini diadopsi dari dokumen WSP dari WHO.

Dengan adanya RPAM tersebut, PDAM diharapkan dapat mengalirkan air minum yang aman dan berkualitas untuk dikonsumsi masyarakat serta menjaga kuantitas air yang harus dapat mengalir selama 24 jam.

Selain penyusunan dokumen, lanjut Iwan, tim Itenas Bandung juga mendampingi penerapannya langsung di lapangan.

“Kami membantu PDAM membuat dokumen dan langsung diterapkan di sistem mereka. Alhamdulillah, saat ini kegiatan sudah mendekati selesai,” ujar Iwan.

Adapun tim Itenas Bandung juga membantu PDAM dalam melakukan pengecekan di lapangan, mulai mulai sistem sumber atau intake, pengolahan atau watertreatment plant (WTP), hingga distribusi ke pelanggan.

Hal tersebut meliputi penentuan dan pengecekan sumber air, cara mengambil air dari sumbernya, kuantitas, kebersihan, sumber pencemar, serta konstruksi bangunan di sumber air. Termasuk juga di dalamnya sistem transmisi, cara air dialirkan dari sumber hingga ke fasilitas pengolahan air, kemungkinan kebocoran, dan perawatannya.

Untuk diketahui, sistem pengolahan air WTP tergantung dari air baku yang diambil. Jika air bagus, tidak memerlukan banyak pengolahan. Namun, jika kurang bagus, air harus melalui banyak tahap pengolahan.

Setelah diolah di WTP, air akan didistribusikan ke konsumen. Pada tahap ini, pipa-pipa distribusi dicek kondisinya untuk memastikan keamanan air yang akan didistribusikan.

“Dalam kegiatan tersebut, tiap PDAM dikunjungi juga oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Penataan Rakyat (PUPR) untuk melihat perkembangan dari PDAM terpilih. Mulai dari sebelum training, sebelum pendampingan, hingga setelah pendampingan. Hasilnya, mereka puas dengan apa yang kami lakukan,” ucap Iwan.

Iwan pun berharap bahwa ke depannya tim Itenas Bandung dapat membantu PDAM se-Indonesia dalam kegiatan serupa.

 “Dengan membantu PDAM, berarti kami juga membantu masyarakat Indonesia. Masyarakat bisa jadi lebih sehat dengan adanya air yang lebih layak dan aman dikonsumsi oleh masyarakat,” kata Iwan.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau