Advertorial

Lawan Hoaks, Pilah-pilih Informasi Jadi Kunci Penting untuk Membendung Berita Palsu

Kompas.com - 09/12/2021, 22:44 WIB

KOMPAS.com - Salah satu masalah yang bercokol di tengah abad 21, yakni kebohongan yang menyebar luas melalui media sosial (medsos) dan internet. Selain memengaruhi kehidupan sosial masyarakat, berita bohong (hoaks) juga berdampak pada kehidupan bernegara.

Berita hoaks yang tak terbendung pun membuat kebenaran menjadi samar.

Fenomena banjir informasi pun tidak bisa dihindari di tengah era perkembangan teknologi yang kian pesat. Karena itu, diperlukan kebijaksanaan pribadi dalam memilah dan memilih informasi yang baik, benar, dan bermutu.

Demikian pula dalam membagikan informasi. Menyaring informasi sebelum membagikan pada orang lain dinilai sebagai salah satu cara untuk membendung peredaran hoaks di tengah masyarakat.

Dosen Universitas Mulawarman (Unmul) Rahmawati mengatakan, banjir informasi memicu kebingungan di tengah masyarakat.

Hal itu disampaikan olehnya dalam webinar bertajuk "Bersama Lawan Kabar Bohong (Hoaks)" yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Selasa (16/11/2021).

Keterbukaan informasi, lanjut Rahmawati, memunculkan kompleksitas di dunia digital sehingga masyarakat perlu beradaptasi. Pasalnya, demokratisasi informasi saat ini belum diimbangi dengan literasi digital yang memadai.

"Berita bohong perlu dilawan karena menimbulkan kepanikan, menggerus ekonomi, pembodohan publik, memicu perpecahan, dan menghilangkan empati. Karena itu, diperlukan kecakapan digital atau digital skills," ujar Rahmawati dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Kamis (9/12/2021).

Rahmawati menjelaskan, digital skills adalah kemampuan individu dalam mengetahui, memahami, dan menggunakan perangkat keras dan lunak, teknologi informasi, internet, dan komputer (TIK), serta sistem operasi digital.

Ia pun mengimbau masyarakat untuk melakukan verifikasi sumber informasi sebelum membagikannya pada pihak lain.

Selain itu, hal yang tak kalah penting adalah cek fakta, mengukur urgensi, serta manfaat atas informasi yang diperoleh.

"Internet adalah sumber informasi, mulai dari yang bermutu hingga hoaks. Informasi yang tersedia di internet belum tentu benar sehingga perlu dipastikan kebenaran data dan kredibilitas sumber," terangnya.

Adapun ciri-ciri hoaks, menurut Rahmawati, antara lain berisi pesan yang membuat cemas atau panik para pembaca serta kemiripan alamat website dengan media arus utama (mainstream).

Selain itu, penggunaan judul terlalu bombastis, meminta pembaca untuk share atau diviralkan, tidak mencantumkan nama penulis, sumber informasi tidak jelas, dan memanipulasi foto juga menjadi ciri khas informasi hoaks.

"Sayangnya, hoaks mudah diterima dan dipercaya masyarakat karena (mereka) hanya membaca judul tanpa membaca isi keseluruhan dari suatu kabar," jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, penulis buku sekaligus jurnalis Erwan Widyarto, menyoroti perihal rambu-rambu etika dalam dunia digital.

Erwan menilai etika digital merupakan prinsip moral yang mengatur perilaku seseorang dalam beraktivitas dengan menggunakan media digital.

Prinsip tersebut menjadi pegangan masyarakat dalam membuat keputusan yang benar secara sadar, termasuk dalam menggunakan teknologi dalam upaya menjaring informasi.

"Etika digital berorientasi pada penciptaan ‘daya tahan digital’. Ini artinya, masyarakat memiliki kemampuan untuk mendapat manfaat positif dari kehadiran media digital," paparnya.

Untuk diketahui, webinar "Bersama Lawan Kabar Bohong (Hoaks)" merupakan salah satu rangkaian kegiatan Gerakan Nasional Literasi Digital yang diselenggarakan Kemenkominfo di Kabupaten Tangerang, Banten. Webinar ini terbuka bagi siapa pun yang ingin belajar tentang dunia literasi digital.

Kemenkominfo mengajak seluruh pihak untuk berpartisipasi dengan mengikuti webinar tersebut melalui akun Instagram @siberkreasi.dkibanten.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Gerakan Nasional Literasi Digital, Anda dapat mengikuti akun Instagram @siberkreasi.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau