Advertorial

Waspada Covid-19 Varian Omicron, Jaga Diri dengan Taat Prokes dan Daya Tahan Tubuh

Kompas.com - 13/12/2021, 18:58 WIB

KOMPAS.com – Kemunculan varian terbaru Covid-19, yaitu Omicron, di Afrika Selatan seolah mengingatkan kembali akan varian Delta yang penularannya begitu cepat. Meski gejalanya dinilai lebih ringan, masyarakat tetap perlu mewaspadainya.

Melansir Kompas.com, Selasa (30/11/2021), Ketua Asosiasi Medis Afrika Selatan Angelique Coetzee mengatakan bahwa sebagian besar pasien Covid-19 varian Omicron tidak kehilangan indra penciuman dan perasa atau anosmia. Ia juga mengatakan bahwa pasien dengan diagnosis positif virus corona varian Omicron tidak ada yang mengalami penurunan kadar oksigen atau sesak napas.

Seperti diketahui, anosmia dan sesak napas menjadi gejala paling umum bagi pasien Covid-19, di samping demam dan batuk.

Meski demikian, penularan varian Omicron disebut lebih cepat 500 persen atau 5 kali dibandingkan dengan virus aslinya dan 4 kali lebih cepat dibandingkan dengan varian Delta. Tidak heran, banyak masyarakat yang merasa khawatir dengan varian ini.

Untuk mengantisipasinya, menjalankan protokol kesehatan ketat dan melakukan vaksinasi masih jadi cara paling efektif.

Hal itu selaras dengan langkah-langkah yang disarankan Badan Kesehatan Dunia (WHO), yakni menjaga jarak fisik minimal satu meter dari orang lain, memakai masker dengan benar, membuka jendela untuk meningkatkan sirkulasi udara di dalam ruangan, serta menghindari ruangan ramai dan berventilasi buruk.

Tak lupa, WHO juga menyarankan untuk selalu menerapkan etika bersin dan batuk, mencuci tangan dengan sabun dan air, serta mendapatkan vaksinasi Covid-19 hingga dosis penuh.

Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk menjaga imunitas tubuh. Ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan imunitas tubuh, seperti berolahraga, makan dengan gizi seimbang, dan rutin mengonsumsi vitamin. Dalam hal ini, vitamin C dan D3 merupakan yang paling populer dan dianggap mampu meningkatkan daya tahan tubuh.

Melansir Kompas.com, Rabu (23/6/2021), vitamin C mampu mencegah dan memperpendek durasi sakit seseorang. Begitu pula dengan vitamin D3 yang diperlukan untuk mencegah penyakit, meningkatkan imunitas tubuh, dan memperbaiki kondisi kesehatan.

Pada dasarnya, baik vitamin C maupun D3 dapat diperoleh tubuh dengan mengonsumsi berbagai makanan, seperti sayur, buah, dan protein. Selain itu, kebutuhan vitamin C dan D3 dapat juga dipenuhi dengan rutin mengonsumsi suplemen. Salah satunya, dengan IPI Vitamin.

Sebagai suplemen kesehatan yang telah dikenal sejak 1956, IPI Vitamin dipercaya masyarakat Indonesia untuk memenuhi kebutuhan vitamin harian. Komposisi vitamin tunggal yang berkualitas menjadi keunggulan dari IPI Vitamin.

Tak hanya itu, masyarakat juga dapat menyesuaikan dosis vitamin sesuai kebutuhan. Tiap tablet IPI Vitamin C mengandung 50 miligram (mg) vitamin C, sedangkan tiap tablet IPI Vitamin D3 mengandung 1.000 IU vitamin D3.

Untuk memenuhi kebutuhan vitamin sehari-hari, sesuai Angka Kecukupan Gizi (AKG), masyarakat pada usia dewasa lebih dari 15 tahun dapat mengonsumsi minimal 2 butir IPI Vitamin C, sedangkan anak berusia kurang dari 15 tahun dapat mengonsumsi 1 butir IPI Vitamin C . Sementara untuk Vitamin D3 anak dan dewasa dapat mengonsumsi 1 butir IPI Vitamin D3.

Keunggulan lain dari IPI Vitamin adalah harga yang terjangkau dan telah mendapatkan sertifikasi halal. Masyarakat Indonesia juga dapat membeli IPI Vitamin di toko obat, apotek terdekat, Alfamart, serta di e-commerce official Tempo Store.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau