Advertorial

Erick Thohir: Universitas Berperan Siapkan Generasi Mumpuni untuk Indonesia Emas 2045

Kompas.com - 12/01/2022, 10:20 WIB

KOMPAS.com – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan, Indonesia harus melakukan sejumlah persiapan untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045. Salah satunya adalah dengan meningkatkan potensi sumber daya manusia (SDM) di Tanah Air.

Hal itu dikatakan Erick dalam Konferensi Indonesia Emas bertajuk “Grand Design Menuju Indonesia Emas 2045: Mengulas Visi Indonesia Maju Presiden Jokowi” di Universitas Sumatera Utara (USU), Minggu (9/1/2022).

Konferensi yang diselenggarakan Pemerintahan Mahasiswa USU tersebut juga dihadiri Rektor USU Dr Muryanto Amin, SSos, MSi dan Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo.

“Salah satu tantangan Indonesia adalah terlalu bergantung dengan sumber daya alam (SDA),” ujar Erick dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (10/1/2022).

Ia menilai, manusia harus menjadi pusat inovasi dengan knowledge based economy. Dengan begitu, Indonesia bisa mencapai pertumbuhan ekonomi yang sejalan dengan visi Indonesia Emas.

Selain itu, imbuh Erick, generasi muda harus produktif serta meninggalkan gaya hidup konsumtif.

“Masyarakat Indonesia kini harus memiliki skill di bidang teknologi. Pasalnya, Indonesia akan membutuhkan 17,5 juta tenaga profesional serta pengusaha yang dapat beradaptasi dan mengerti teknologi pada 2045,” jelasnya.

Erick menambahkan, roadmap antara pekerjaan yang hilang dan tumbuh harus diantisipasi. Hal itu merupakan tugas universitas untuk mempersiapkan generasi yang akan memegang peranan pada 2045.

Indonesia pada 2045 akan mengalami bonus demografi. Oleh karena itu, kapasitas SDM di Tanah Air perlu ditingkatkan, utamanya skill di bidang teknologi Dok. Humas USU Indonesia pada 2045 akan mengalami bonus demografi. Oleh karena itu, kapasitas SDM di Tanah Air perlu ditingkatkan, utamanya skill di bidang teknologi

Senada dengan Erick, Muryanto mengatakan bahwa universitas berkewajiban dalam menciptakan generasi unggul yang relevan dengan kebutuhan industri.

“Pak Erick termasuk inspiring people yang telah memberi informasi tentang visi Indonesia Maju 2014, yakni bagaimana menciptakan SDM dari perguruan tinggi yang memenuhi kebutuhan masyarakat dan industri,” kata Muryanto.

Menurutnya, grand design untuk menciptakan SDM berkualitas dari perguruan tinggi telah diatur sedemikian rupa dalam konsep Merdeka Belajar–Kampus Merdeka (MBKM).

Untuk itu, lanjut Muryanto, mahasiswa harus dapat mendalami passion yang akan menjadi tujuan utama setelah lulus dari perguruan tinggi.

“Tekuni passion. Jadilah seseorang yang bisa memberi solusi kepada masyarakat dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa,” ujarnya.

Capai visi Indonesia Emas

Pada kesempatan sama, Ganjar mengatakan bahwa untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045, diperlukan tahapan-tahapan yang disiapkan oleh semua pihak dan dirancang dengan roadmap.

“Untuk menggapai cita-cita tentu diperlukan persiapan. Oleh karena itu, roadmap untuk mencapai hal tersebut sangat penting dan harus diupayakan oleh seluruh stakeholder di berbagai sektor,” terang Ganjar.

Ia menambahkan, Indonesia pada 2045 akan mengalami bonus demografi. Kondisi ini ditandai dengan jumlah penduduk berusia produktif yang akan mencapai 64 persen dari total jumlah penduduk.

Oleh karena itu, lanjut Ganjar, pemerintah harus menganalisis potensi bonus demografi serta merancang kebijakan strategis.

“Bonus demografi akan memudahkan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata Ganjar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau