Advertorial

Nyeri Lutut Saat Naik Turun Tangga? Waspadai Bahaya Osteoartritis

Kompas.com - 27/01/2022, 10:19 WIB

KOMPAS.com - Pernahkah Anda merasakan nyeri lutut ketika sedang naik atau turun tangga dalam jangka waktu lama? Bila iya, bisa jadi, itu merupakan salah satu gejala dari penyakit sendi degeneratif atau osteoartritis.

Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi Mayapada Hospital Bogor BMC Made Wirabhawa, MBiomed, SpOT menjelaskan, osteoartritis merupakan kondisi kronis dari peradangan sendi. Penyakit ini terjadi ketika tulang rawan pelindung yang menjadi bantalan ujung tulang menjadi aus.

“Tak hanya pada lutut, osteoartritis dapat terjadi pada sendi mana pun, seperti pinggul, tangan, dan tulang belakang,” kata dr Made dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Kamis (14/10/2021).

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi radang sendi di Indonesia mencapai 7,3 persen. Hal ini menunjukkan bahwa radang sendi merupakan penyakit yang umum terjadi.

Sementara, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, osteoartritis lebih sering dialami perempuan ketimbang laki-laki, terutama perempuan berusia di atas 60 tahun.

Dokter Made mengatakan bahwa gejala osteoartritis berkembang secara perlahan dan memburuk seiring waktu.

Adapun gejala yang kerap dirasakan pasien di antaranya adalah sendi terasa nyeri, pembengkakan atau kemerahan pada sendi, dan fleksibilitas sendi berkurang sehingga terkadang sulit digerakkan.

Gejala lainnya adalah timbul suara berderak (crackling) pada sendi, sendi terasa kaku, serta timbul taji tulang yang berbentuk seperti benjolan keras di sekitar sendi.

“Gejala osteoartritis biasanya dapat diatasi, meskipun kerusakan pada persendian tidak dapat dipulihkan,” kata dr Made.

Menurut dr Made, terdapat berbagai faktor yang menyebabkan seseorang lebih rentan terkena osteoartritis.

Faktor tersebut adalah pertambahan usia, obesitas atau berat badan berlebih, cedera sendi akibat olahraga atau kecelakaan, genetika karena orangtua memiliki riwayat osteoartritis, stres pada sendi karena menempatkan beban pada sendi secara berulang, serta deformitas tulang.

“Selain itu, penyakit metabolik tertentu, seperti diabetes, juga dapat menyebabkan osteoartritis karena membuat kondisi tubuh memiliki terlalu banyak zat besi (hemochromatosis),” paparnya.

Pengobatan osteoartritis

Dokter Made menjelaskan bahwa penanganan osteoartritis bisa dilakukan melalui berbagai cara. Salah satunya melalui terapi konvensional, seperti pemberian obat antinyeri, fisioterapi, dan penurunan berat badan, terutama pada pasien dengan obesitas.

Namun, jika terapi konvensional tidak efektif, dokter akan mempertimbangkan melakukan pembedahan berupa operasi penggantian sendi, artroplasti, atau joint replacement.

Operasi dilakukan dengan mengambil sebagian atau seluruh bagian sendi yang rusak dan menggantinya dengan prostesis.

“Prostetis terbuat dari metal atau plastik serta berfungsi untuk menirukan gerakan sendi yang normal dan sehat,” ujar dr Made.

Sementara, prosedur operasi penggantian sendi atau joint replacement yang dapat dilakukan adalah operasi penggantian sendi lutut atau total knee replacement (TKR), operasi penggantian sebagian sendi lutut atau unicompartmental knee replacement (UKR), serta operasi penggantian sendi panggul atau total hip replacement (THR).

Dokter Made melanjutkan, osteoartritis menjadi salah satu penyebab utama tindakan operasi penggantian sendi pada pasien dilakukan.

Selain osteoartritis, kerusakan sendi lutut dan pinggul juga disebabkan oleh reumatoid artritis, cedera olahraga, radang sendi septik, dan gangguan yang menyebabkan pertumbuhan tulang abnormal. Kerusakan ini juga bisa ditangani dengan prosedur operasi pergantian sendi.

Menurutnya, operasi penggantian sendi dapat dilakukan dengan dua tindakan, yakni bedah dengan sayatan minimal (minimalyl invasive surgery/MIS) dan open surgery. Tindakan akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

“Meski tidak dapat disembuhkan, perawatan dan terapi osteoartritis yang tepat dapat mengurangi rasa sakit serta membantu pasien bergerak lebih baik dan meningkatkan kualitas hidupnya,” tutur dr Made.

Untuk diketahui, Mayapada Hospital memiliki layanan Orthopedic Center untuk menangani gangguan pada tulang, sendi, dan otot, seperti gangguan pada lutut, panggul, tulang belakang, tangan dan kaki.

Dengan dukungan tim dokter spesialis ortopedi dari berbagai subspesialisasi, Orthopedic Center Mayapada Hospital mampu menangani berbagai penyakit tulang, otot, dan persendian.

Sebut saja, penggantian sendi lutut dan panggul, cedera dan kelainan tulang belakang, cedera ligamen, serta operasi tulang dan otot dengan tindakan MIS, termasuk cedera tulang, sendi, dan otot akibat olahraga.

Tak hanya itu, Mayapada Hospital juga membuka layanan telekonsul terkait penyakit apa pun. Bagi yang ingin menggunakan layanan tersebut, silakan hubungi Call Center Mayapada Hospital di 150770.

Sebagai informasi, Mayapada Hospital telah membuka unit baru di Kota Surabaya, Jawa Timur. Tepatnya, di Jalan Mayjen Sungkono Nomor 20, Surabaya Barat.

Bagi yang memerlukan layanan dan ingin berkonsultasi dengan dokter spesialis Orthopedi, Anda dapat langsung mendatangi unit terbaru di Mayapada Hospital Surabaya.

Yuk, lakukan skrining organ sendi untuk menjaga kesehatan Anda dan keluarga. Mari selangkah lebih sehat bersama Mayapada Hospital.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau