Advertorial

Bupati Kediri Ajak Milenial Ikut Lestarikan Wayang

Kompas.com - 25/02/2022, 18:20 WIB

KOMPAS.com - Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramono mengajak kalangan milenial untuk melestarikan wayang. Ia menyebut, pelibatan milenial perlu dilakukan karena Kabupaten Kediri, Jawa Timur, memiliki banyak kesenian dan kebudayaan yang harus dijaga.

Kabupaten Kediri mempunyai kekayaan budaya dan kesenian yang sangat besar, terutama wayang. Kabupaten Kediri memiliki wayang khas yang harus dilestarikan. Namanya, Wayang Krucil,” ujar Hanindhito dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Jumat (25/2/2022).

Selain wayang, lanjutnya, kekayaan budaya dan peninggalan sejarah lain di Kabupaten Kediri juga harus dilestarikan oleh kalangan milenal.

“(Untuk) cara melestarikannya, kalangan milenial bisa membuat video, foto, dan infografis yang disebarkan di sosial media. (Hal ini) juga (perlu) terus digaungkan sehingga semua kesenian tidak musnah dan (kemudian) diakui bangsa lain,” kata Hanindhito.

Ia menjelaskan bahwa Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Kediri (DK4) punya peran dan tanggung jawab besar untuk mengusulkan sekaligus mengawal kebijakan mengenai kesenian dan kebudayaan. Dengan demikian, perusakan atau pemusnahan kekayaan budaya dapat dicegah.

Lembaga yang baru dikukuhkan oleh Hanindhito mempunyai peran penting, yakni mengusulkan kebijakan mengenai pelestarian kesenian dan kebudayaan yang ada di Kabupaten Kediri.

Meski demikian, Ketua DK4 Imam Mubarok mengatakan bahwa pelestarian kesenian dan kebudayaan di Kabupaten Kediri juga menjadi tanggung jawab semua lini masyarakat.

Sebagai informasi, Kabupaten Kediri memiliki 36 jenis kesenian yang terdaftar di DK4. Selain itu, kabupaten ini juga memiliki 1.522 organisasi dan profesi seniman serta 509 cagar budaya dan 29 adat istiadat lokal.

Khusus Wayang Krucil, Iman mengatakan bahwa kesenian yang dipopulerkan oleh Mbah Gandrung itu harus terus digaungkan.

Imam juga mengingatkan, agar masyarakat senantiasa menaruh perhatian pada pelestarian wayang tersebut. Jangan hanya bereaksi ketika kebudayaan tersebut diakui oleh bangsa lain.

“Jadi, jangan hanya berkoar-koar ketika ada kasus, seperti ada oknum yang mau memusnahkan wayang. Namun, saat tidak ada apa-apa , (malah) diam,” ujarnya.

Selain penyebaran konten-konten di media sosial, Imam menyebutkan kaum milenial dapat mulai mengenal karakter wayang, seperti Gatot Kaca atau Pandawa. Dengan demikian, akan ada regenarasi dan kelestarian wayang dapat bekelanjutan.

“Kelestarian wayang akan dapat terjaga jika terdapat banyak dalang yang terus berkesenian di Kabupaten Kediri,” kata Imam.

Rencananya, DK4 akan mengusulkan adanya pawiyatan pedalangan kepada Hanindhito untuk mencetak dalang-dalang asal Kabupaten Kediri.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau