Advertorial

55 Tahun di Indonesia, Freeport Jadi Pionir Tambang Bawah Tanah Block Caving

Kompas.com - 09/04/2022, 19:23 WIB

KOMPAS.com – PT Freeport Indonesia (PTFI) menggelar perayaan hari jadi ke-55 di tiga kota yang menjadi lokasi kerja perseroan, yakni Tembagapura dan Kuala Kencana (Papua), serta Jakarta, Kamis (7/4/2022).

Dengan mengusung tema “Dedikasi Bagi Negeri”, perseroan yang dibangun di atas nilai-nilai safety, integrity, commitment, respect, dan excellence (SINCERE) itu berharap, dapat terus memberikan yang terbaik bagi Indonesia.

Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengatakan, kehadiran PTFI pada 1967 menjadi tanda dimulainya investasi asing pertama di Indonesia ketika era orde baru.

Selama lima dasawarsa, ia melanjutkan, perusahaan telah menorehkan berbagai pencapaian meski harus melewati beragam tantangan. Sebut saja, pengelolaan tambang di Erstberg melalui proyek Kontrak Karya I dan penemuan cadangan bijih di Grasberg yang menjadi pendorong peluncuran Kontrak Karya II.

Kini, dedikasi PTFI terus berlanjut. Terbaru, perusahaan mendapatkan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) sebagai pengganti proyek Kontrak Karya dari pemerintah. Melalui warkat ini, operasional penambangan dapat berjalan hingga 2041.

Untuk diketahui, Indonesia melalui Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) memiliki saham sebesar 51,2 persen dari PTFI. Hal ini merupakan contoh konkret dan sinergi yang baik di bidang public private partnership.

“Berkat sinergi tersebut, kami berhasil mengolah dan mengelola sumber daya mineral untuk masa depan yang lebih baik. Hal ini terlihat dari pencapaian ramp-up produksi hingga 100 persen sehingga kami bisa berkontribusi lebih banyak lagi bagi bangsa dan negara,” ujar Tony dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Sabtu (9/4/2022).

Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) yang turut hadir secara virtual dalam perayaan itu menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan kontribusi PTFI bagi Tanah Air. Pengolahan dan pengelolaan sumber daya mineral negara oleh perusahaan tersebut dapat menciptakan kemakmuran bagi masyarakat.

“PTFI harus mengambil bagian dari transformasi bangsa, mempercepat hilirisasi produk-produk tambang dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan. Pasalnya, cara ini akan memberikan nilai tambah bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia,” ujar Jokowi.

Apresiasi juga datang dari Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir. Pasalnya, eksistensi PTFI berkontribusi pada perekonomian dan aspek keberlanjutan di Tanah Air, khususnya Papua.

“PTFI mampu menjadi perusahaan yang mendukung sustainability dan memajukan kesejahteraan masyarakat Papua, khususnya dalam hal pendidikan,” ucap Erick.

Erick juga berharap, PTFI dapat mempertahankan seluruh kinerja baik tersebut. Apalagi, Indonesia tengah menyongsong era 5G mining.

“PTFI diharapkan dapat menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk mewujudkan cita-cita emas Indonesia pada 2045,” ucapnya.

Harapan senada juga disampaikan Chief Executive Officer (CEO) Mind ID Hendi Prio Santoso. Lewat babak barunya, yakni pengembangan kapasitas smelter baru di dalam negeri yang rencananya akan beroperasi pada 2024, PTFI diharapkan dapat terus berkontribusi bagi Indonesia.

Apalagi, Hendi menambahkan, PTFI telah menjadi perusahaan tambang percontohan global. Sebab, perusahaan ini berhasil menjadi pionir pengembangan dan pengoperasian tambang bawah tanah block caving terbesar di dunia.

Adapun perayaan hari jadi PTFI diisi dengan berbagai pertunjukan. Salah satunya, drama musikal yang menceritakan sejarah perjalanan perusahaan. Menariknya, penampilan ini dibawakan langsung oleh 75 karyawan dan sejumlah komunitas yang ada di bawah naungan perseroan.

Di bawah arahan koreografer kawakan Agus Noor, para penampil berlatih dengan tekun setiap hari selepas pulang kerja.

Sejumlah artis juga turut hadir memeriahkan perayaan ulang tahun PTFI. Sebut saja, Andrea Lee, Sandhy Sondoro, Socha Band, Iyan Yosua, dan Sonya Bara.

Penampilan Sandhy Sondoro di Tambang Bawah Tanah berhasil mencetak rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai pertunjukan musik terdalam, yakni di 1.220 meter di bawah permukaan tanah.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau