Advertorial

Berteknologi Canggih, Ini 7 Keuntungan Lasik Mata di Dalam Negeri

Kompas.com - 29/04/2022, 16:31 WIB

KOMPAS.com — Bagi para penderita rabun mata, melihat dengan jernih tanpa memakai kacamata atau lensa kontak merupakan impian. Sebab, penggunaan alat penunjang penglihatan dapat membuat aktivitas sehari-hari terasa tak nyaman.

Guna mengatasi masalah tersebut, metode laser assisted in-situ keratomileusis (lasik) dapat digunakan. Adapun lasik adalah prosedur untuk mengoreksi kelainan refraksi pada penderita rabun penglihatan. Usai mendapatkan prosedur ini, penderita rabun penglihatan tidak lagi membutuhkan kacamata atau lensa kontak.

Selama ini, lasik mata dianggap hanya bisa dilakukan di luar negeri. Padahal, metode ini sudah ada di Indonesia sejak 1995.

Pada saat itu, lasik masih menggunakan teknologi konvensional dengan metode microkeratome atau M-Lasik yang dilakukan dengan pisau khusus bernama blade. Penglihatan pasien diperbaiki dengan membuat flap pada kornea mata. Pemulihan pasien dengan metode ini memakan waktu lama.

Seiring waktu berjalan, teknologi yang dipakai untuk melakukan lasik di Indonesia makin berkembang.

Salah satu penyedia layanan kesehatan mata, KMN EyeCare, sudah lama meninggalkan metode M-Lasik dan beralih teknologi yang lebih canggih.

Sebagai gantinya, KMN EyeCare memakai teknologi laser yang lebih unggul dan serupa dengan yang digunakan di luar negeri.

Oleh karena itu, lasik mata di Indonesia sudah bisa bersaing dengan layanan di luar negeri. Apalagi, lasik di dalam negeri memiliki tujuh keuntungan. Berikut ulasannya.

  1. Biaya lebih terjangkau

Untuk melakukan tindakan lasik, dibutuhkan pemeriksaan praoperasi, tindakan operasi, dan perawatan pascaoperasi. Setiap tindakan membutuhkan biaya.

Di Singapura, misalnya, biaya tindakan lasik mencapai lebih dari Rp 60 juta. Biaya ini belum termasuk pra dan pascaoperasi.

Belum lagi, akomodasi dan transportasi pengobatan yang juga memakan biaya yang tidak sedikit. Apalagi, Singapura terkenal dengan biaya hidup yang tinggi.

Tak hanya itu, biaya pengobatan juga harus disiapkan untuk pendamping yang harus datang untuk membantu pasien.

Sementara itu, biaya tindakan lasik di Indonesia hanya berkisar Rp 25-35 juta saja. Biaya transportasi dan akomodasi pun tidak besar karena tempat pengobatan terjangkau.

  1. Menggunakan teknologi terbaru

Tak kalah dengan negara lain, tindakan lasik mata di Indonesia sudah menggunakan teknologi laser yang canggih dan modern.

KMN EyeCare sendiri memakai femtosecond laser dalam pembentukan flap di permukaan kornea sehingga membuat pemulihan pasien pascalasik lebih singkat.

Kemudian, dalam pengikisan kornea, KMN EyeCare menggunakan teknologi excimer laser. Alat tersebut juga dipandu dengan wavefront guide yang dapat memetakan sistem optik mata dengan detail sehingga bisa memberikan hasil koreksi yang lebih presisi.

Dengan tindakan tersebut, pasien dapat melihat dengan jelas seketika setelah tindakan dan bisa segera pulang tanpa perlu rawat inap.

  1. Ditangani tim dokter berpengalaman

Tindakan lasik harus ditangani oleh dokter spesialis mata yang berpengalaman. Prinsip ini juga dijalankan oleh penyedia layanan lasik mata di Indonesia seperti KMN EyeCare.

Sejumlah dokter spesialis yang menangani lasik di KMN EyeCare juga telah menjalani fellowship di luar negeri atau dalam negeri, termasuk khusus pendidikan tentang lasik.

Tak hanya dokter, semua personel yang bertugas, baik medis maupun nonmedis, juga berpengalaman dan terlatih untuk memastikan layanan sesuai dengan standar internasional.

Jadi, pasien akan memiliki pengalaman lasik di dalam negeri layaknya di mancanegara.

  1. Proses cepat

Proses lasik mata di Indonesia sama cepatnya dengan di luar negeri. Di KMN EyeCare, misalnya, proses lasik hanya berlangsung sekitar 20 menit sejak pasien masuk ke dalam ruangan operasi jika sesuai dengan rencana.

Setelah selesai lasik, pasien diarahkan ke ruang istirahat yang disediakan. Kemudian, para pasien akan merasakan langsung manfaat lasik, yakni penglihatan baru yang lebih jernih dan tajam. Selanjutnya, pasien sudah bisa langsung pulang.

  1. Komunikasi lebih baik

Dengan menjalani lasik mata di dalam negeri, pasien, dokter, dan timnya tidak akan terkendala dalam berkomunikasi karena menggunakan bahasa yang sama.

Oleh karena itu, semua informasi bisa disampaikan dengan lebih jelas dan tidak terjadi kesalahan interpretasi.

Pasien pun bisa lebih banyak bertanya untuk mendapatkan pengetahuan lebih dalam mengenai lasik, seperti hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan sesudah lasik untuk merawat mata.

  1. Fasilitas lengkap dan nyaman

Lasik mata harus menjadi pengalaman utuh yang menyenangkan sejak pasien datang hingga pulang. Sebab, pengalaman ini akan menjadi pembuka jalan ke hidup baru dengan mata normal tanpa kacamata atau lensa kontak.

Oleh karena itu, penyedia layanan lasik dalam negeri tak kalah dalam hal fasilitas pendukung untuk memberikan pengalaman tersebut, seperti ruangan yang bersih dan rapi, serta Wi-Fi.

Fasilitas tersebut dapat membantu memberikan kenyamanan bagi pasien dan pendamping merasa selama berada di tempat pelayanan lasik.

  1. Medical outcome yang baik

Tidak dimungkiri, tujuan utama orang memilih lasik adalah agar bisa memperoleh penglihatan yang baik dan tajam tanpa kacamata atau lensa kontak.

Dengan didukung oleh teknologi canggih dan dokter-dokter yang berpengalaman, KMN EyeCare menghadirkan lasik dengan medical outcome yang setara dengan hasil lasik di institusi kesehatan mata ternama di luar negeri.

Itulah tujuh keuntungan menjalani lasik mata di dalam negeri. Dengan sejumlah keuntungan tersebut, lasik di dalam negeri dapat menghasilkan kualitas yang setara dengan luar negeri.

Bagi para penderita penglihatan mata yang ingin berkonsultasi terkait lasik dengan dokter KMN EyeCare, silakan klik di sini.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau