Advertorial

Cegah Stunting, Jaga Sanitasi dan Nutrisi Anak di 1.000 Hari Pertama Kehidupan

Kompas.com - 16/06/2022, 20:10 WIB

KOMPAS.com – Kunci sukses penurunan angka prevalensi stunting harus dimulai sejak 1.000 hari pertama kehidupan (HPK). Oleh karena itu, penerapan perilaku bersih dan sehat, terutama untuk generasi muda yang siap untuk menikah, harus menjadi prioritas.

Salah satu perilaku penting yang harus dilakukan adalah menjaga sanitasi dan asupan nutrisi.

Hal tersebut disampaikan Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Wiryanta dalam Diseminasi Informasi dan Edukasi Percepatan Penurunan Stunting bertajuk “Kepoin Genbest: Cegah Stunting, Terapkan Nutrisi dan Sanitasi yang Cling” di Kota Salatiga, Jawa Tengah, Kamis (16/6/2022).

Menurut Wiryanta, program pencegahan dan penurunan angka prevalensi stunting harus terus dilaksanakan untuk menyiapkan generasi unggul, serta memiliki kompetensi dan keterampilan yang tinggi, termasuk kepribadian yang menjunjung jati diri bangsa.

“Untuk itu, kita harus selalu peduli terhadap lingkungan, termasuk budaya di tengah masyarakat yang perlu kita gugah, agar bisa turut membantu cegah stunting,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis.

Kondisi tersebut, lanjut Wiryanta, perlu menjadi perhatian penting. Hal ini mengingat, berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2020, jumlah penduduk Indonesia didominasi oleh generasi Z yang mencapai 27,9 persen. Kemudian, disusul dengan generasi milenial sebesar 25,8 persen.

“Pada 2030, Indonesia ketiban bonus demografi kelompok usia produktif yang masuk ke dalam angkatan kerja. Kelompok dengan tingkat produktivitasnya tinggi,” katanya.

Wiryanta juga menyampaikan bahwa dengan kesuksesan penurunan angka stunting, harapan Indonesia menjadi negara maju dan menjadi 5 besar negara produk domestik bruto (PDB) di dunia pada 2045 besar kemungkinan terwujud.

Hal senada juga diutarakan dr Gia Pratama yang menjadi narasumber dalam acara tersebut. Menurutnya, 1.000 HPK adalah waktu yang krusial karena kehidupan dimulai dari kehamilan hingga dua tahun setelah kelahiran.

“Diagnosis stunting hanya bisa ditegakkan saat anak berusia 2 tahun. Kita punya waktu 1.000 hari perjuangan agar pada saat anak berusia 2 tahun, berat dan tinggi badannya cukup,” ujar Gia.

Gia juga menjelaskan bahwa ada skala prioritas dalam pembangunan tubuh. Pembangunan organ dalam menjadi prioritas pertama.

“Kemudian, prioritas yang kedua adalah pertumbuhan dan ketiga adalah pembangunan inteligensia atau kecerdasan,” tuturnya.

Diseminasi Informasi dan Edukasi Percepatan Penurunan Stunting bertajuk ?Kepoin Genbest: Cegah Stunting, Terapkan Nutrisi dan Sanitasi yang Cling?. Dok. Kemenkominfo Diseminasi Informasi dan Edukasi Percepatan Penurunan Stunting bertajuk ?Kepoin Genbest: Cegah Stunting, Terapkan Nutrisi dan Sanitasi yang Cling?.

Jadi, ketika nutrisi yang masuk tidak mencukupi untuk prioritas pertumbuhan dan kecerdasan, maka ekonomi negara di masa depan akan terganggu.

“Kita akan dapat bonus demografi pada 2030. Kalau angka stunting-nya di bawah 14 persen, bahkan 0 persen, itu akan jadi bonus demografi luar biasa buat negara. Jika sebaliknya, bukan bonus demografi namanya, tetapi beban demografi,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Masyarakat Provinsi Jawa Tengah Wahyu Setianingsih mengatakan, kualitas sanitasi tidak hanya penting dalam pencegahan stunting, tetapi juga untuk kesehatan secara umum.

“Kalau sanitasi tidak baik, tidak cling, tangan kotor, dan masih buang air besar sembarangan, kuman akan gampang masuk ke tubuh melalui mulut. Itu akan menyebabkan diare sehingga tubuh tidak sempat lagi menyerap gizi yang dimakan,” ujar Wahyu.

Ia menjelaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah saat ini tengah memperjuangkan agar masyarakat tidak buang air besar sembarangan. Sebanyak 25 dari 35 kabupaten dan kota di Jawa Tengah sudah mendeklarasikan seluruh warganya stop buang air besar sembarangan.

Sebagai informasi, forum Kepoin GenBest merupakan bagian dari kampanye Generasi Bersih dan Sehat (GenBest). Kampanye ini merupakan inisiasi Kemenkominfo untuk menciptakan generasi Indonesia yang bersih dan sehat serta bebas stunting.

GenBest mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, agar menerapkan pola hidup bersih dan sehat di kehidupan sehari-hari.

Melalui situs genbest.id dan media sosial @genbestid, GenBest juga menyediakan berbagai informasi seputar stunting, kesehatan, nutrisi, tumbuh kembang anak, sanitasi, siap nikah, dan reproduksi remaja dalam bentuk artikel, infografik, serta videografis.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau