Advertorial

Agresif Berdayakan UMKM, Menkop UKM Teten Ingin Perbankan Tiru BNI

Kompas.com - 24/06/2022, 18:45 WIB

KOMPAS.com – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI (kode saham BBNI) meraih penghargaan Merdeka Award 2022 yang diselenggarakan oleh Kapanlagi Youniverse (KLY) dalam kategori Program Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Adapun penghargaan itu didapat berkat kinerja program BNI Xpora dan implementasi aplikasi BNI MOVE.

Apresiasi tersebut diberikan langsung oleh Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Teten Masduki kepada Direktur Bisnis UMKM BNI Muhammad Iqbal di Gedung Paviliun Smesco, Jakarta, Kamis (23/6/2022). 

Pada kesempatan tersebut, Teten berharap agar lebih banyak pelaku industri jasa keuangan yang memiliki keberpihakan kepada sektor UMKM, seperti BNI.

Dengan demikian, sektor UMKM bisa lebih berkualitas dalam mendorong pertumbuhan sekaligus kestabilan ekonomi. 

“Selamat kepada Bapak dan Ibu penerima award. Semoga (penghargaan) ini dapat memberikan semangat dan memicu inovasi untuk membangun ekonomi berbasis UMKM. Saya tahu, BNI mempunyai komitmen untuk memberikan pembiayaan sektor produktif. Langkah BNI harus diikuti oleh perbankan lain,” ungkap Teten dalam keterangan pers yang diterima Kompas.com, Jumat (24/6/2022).

Sebagai agen pembangunan, BNI dinilai agresif menggalakkan berbagai program pemberdayaan sekaligus menyalurkan kredit untuk segmen yang disebut sebagai tulang punggung ekonomi Indonesia tersebut. 

Seperti diketahui, pemulihan ekonomi dari sektor UMKM merupakan strategi paling ampuh bagi sebuah negara berkembang untuk keluar dari tekanan ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Hal itu pun memerlukan langkah-langkah inovatif sekaligus inklusif dari perbankan selaku fungsi intermediator.

Teten pun berpesan agar perbankan mau berinovasi dan lebih fleksibel dalam memahami kebutuhan pembiayaan pelaku UMKM.

Pasalnya, banyak pelaku UMKM berkualitas yang tak memiliki agunan untuk mendapatkan pembiayaan dari perbankan. Pada akhirnya, mereka terjebak pada rentenir atau perusahaan financial technology (fintech) bodong.

“Tak perlu pakai pendekatan kolateral yang membutuhkan aset karena mereka tidak memilikinya. Pakailah pendekatan digital seperti yang dilakukan perusahaan fintech kepada pengusaha mikro,” kata Teten.

Teten mengatakan, seluruh pihak, baik bank pemerintah maupun swasta, harus terus berinovasi. UMKM pun harus mengembangkan kapasitasnya.

Senada dengan Teten, Iqbal mengatakan bahwa pemberdayaan UMKM merupakan perjalanan panjang. Oleh sebab itu, berbagai upaya harus dilakukan secara terus-menerus dan berkelanjutan guna mengembangkan sektor ini. 

Beberapa negara maju di Eropa, seperti Jerman, juga telah melewati perjalanan tersebut. Penguatan sektor UMKM membuktikan bahwa kondisi ekonomi negara tersebut bisa mandiri dan kukuh.

Atas penghargaan yang diterima BNI, Iqbal menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada Merdeka.com dan Kementerian Koperasi (Kemenkop) dan UKM yang terus memberi arahan.

“Penghargaan tersebut menjadi penyemangat kami untuk memastikan kebangkitan UMKM. Dengan demikian, sektor ini kembali berjaya dan dapat menjadi salah satu pilar ekonomi Indonesia,” jelas Iqbal.

Sesuai mandat sebagai bank global Indonesia, Iqbal melanjutkan bahwa BNI menghadirkan berbagai program pengembangan UMKM guna menembus pasar ekspor.

Dengan begitu, peningkatan kapasitas dan kapabilitas pelaku UMKM yang dilakukan BNI diharapkan dapat mencetak juara-juara UMKM yang memiliki kemampuan bersaing di pasar global. 

Salah satu program yang dihadirkan BNI adalah Coaching Program for New Eksportir. Program yang merupakan hasil kolaborasi dengan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) itu diharapkan dapat meningkatkan potensi serta menjawab berbagai tantangan yang dihadapi UMKM.

BNI juga menggagas berbagai program lain bersama lembaga dan kementerian terkait. Kolaborasi ini merupakan bagian dari payung program BNI Xpora yang menggabungkan ekosistem ekspor dan diaspora. 

Iqbal mengatakan, berbagai program tersebut diharapkan dapat melahirkan lebih banyak pelaku UMKM yang mampu menjalankan bisnis ekspor secara efektif sekaligus melakukan perbaikan dalam segi manajemen, produksi, promosi, dan pemasaran.

“Semoga langkah itu dapat meningkatkan kontribusi ekspor pelaku UMKM yang saat ini berada pada kisaran 14 persen menjadi 17 persen pada 2024,” imbuh Iqbal.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau