Advertorial

Berbekal Rasa Ingin Tahu Tinggi dan Kemauan Kuat, UMKM Ini Ubah Limbah Jadi Kerajinan Bernilai Seni Tinggi

Kompas.com - 29/07/2022, 10:01 WIB

KOMPAS.com - Indonesia merupakan negeri yang memiliki kekayaan alam. Salah satunya adalah kekayaan bahari.

Kisah inspiratif pun lahir dari kota yang memiliki hamparan laut indah, yaitu Manado, Sulawesi Utara. Dari kota ini, lahir sebuah produk kreatif yang sebelumnya tak terbayangkan dapat tercipta dari seekor ikan.

Lewat tangan pegiat usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) bernama Tjahyani, sisik ikan yang biasanya dibuang menjadi sampah bisa bernilai jual setelah diolah menjadi aksesori.

Wanita yang akrab disapa Yani itu menceritakan awal mula inspirasi kreasi aksesori berbahan sisik ikan. Kisah ini dimulai saat ia melihat pegawai kantin di tempat anaknya bersekolah membersihkan ikan pada 2012.

“Ini ceritanya dari iseng. Enggak sengaja. Waktu antar anak ke sekolah dasar (SD), saya menunggu di kantin. Kemudian, pegawai kantin tengah membersihkan ikan. Saya lihat kok sisiknya bagus, lalu saya ambil dan dibuat anting,” tutur Tjahyani dalam tayangan Petualangan BRIlian episode 7 di kanal Youtube Kompas TV.

Aksesori anting buatan Yani ternyata disukai banyak orang. Ia pun akhirnya mulai menjual anting kreasinya dengan menitipkan ke toko-toko suvenir sekitar.

Adapun sisik ikan yang digunakan untuk pembuatan aksesori hanya berasal dari jenis ikan laut dalam, seperti cakalang dan kakap merah. Biasanya, sisik yang digunakan juga diambil dari ikan berukuran besar dengan berat sekitar 28 kilogram (kg).

Yani mengungkapkan bahwa keterampilan mengolah sisik ikan menjadi beragam aksesori didapatkan secara autodidak. Adapun referensi kreasi aksesori didapatkan dari aplikasi YouTube dan Pinterest.

“Kalau untuk pelatihan-pelatihan, saya pernah difasilitasi Bank Indonesia untuk desain produk dari perak di Bali,” imbuhnya.

Karya kerajinan tangan Yani pun sudah tampil di pameran-pameran lokal hingga nasional. Berkat keahlian dan sepak terjangnya, aksesori buatan Yani dibanderol dengan harga yang cukup tinggi. Anting-anting, misalnya, dijual pada kisaran harga Rp 50.000.

Meski pandemi Covid-19 menghantam, hal ini tidak menghentikan langkah Yani untuk terus berkarya. Bahkan, selama pandemi, ia berinovasi dengan mengembangkan kreativitas ecoprint dan aksesori dari serat pisang (abaka).

Tidak hanya itu, Yani juga terus mengembangkan pengetahuan dalam berbisnis, seperti digital marketing. Ia juga bekerja sama dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk mengembangkan UMKM miliknya. Sejumlah program kreatif BRI, mulai dari pameran hingga pelatihan, diikuti oleh Yani.

Salah satunya adalah BRI Craft pada awal 2019. Meskipun tidak lolos untuk dikirim ke Amerika Serikat, Yani bersyukur bisa terpilih dari 30 UMKM se-Indonesia.

“Lalu, pada Desember 2019, saya mewakili BRI wilayah mengikuti BRILIANPRENEUR. Di sana, saya bertemu Presiden (Joko Widodo) dan produk saya diapresiasi,” tutur Yani.

Tak hanya itu, BRI juga memfasilitasi Yani untuk mendapatkan sertifikasi pelatih dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Dengan sertifikasi ini, ia bisa menularkan ilmunya dan berbagi cerita inspiratif kepada lebih banyak orang.

“Saya sampaikan juga bahwa saya belajar autodidak. Dengan usaha sendiri, kerja keras, semangat, dan fokus ternyata kita bisa berhasil,” jelasnya.

Ia pun berbagi pesan kepada teman-teman UMKM untuk terus berusaha dan belajar.

“Tantangan dan hambatan selalu ada, tapi kita harus terus maju dan berusaha. Kemudian belajar kapan pun, dari mana pun, dan dari siapa pun,” ujar Yani.

Adapun hingga kini, kerja sama Yani dengan BRI sudah terjalin sekitar lima tahun. Mantri BRI cabang unit Manado Selatan Marcel menjelaskan, BRI tertarik dengan bisnis milik Yani karena keunikan produknya.

“Bu Yani punya usaha yang bisa dibilang unik. Menciptakan macam-macam aksesori yang tidak kita pikirkan sebelumnya,” tutur Marcel.

Lewat kerja sama tersebut, BRI berupaya mendorong UMKM berinovasi dan terus maju.

“BRI berkomitmen untuk membantu UMKM yang ada, seperti (Bu) Yani, untuk bisa dikembangkan lagi,” tutur Marcel.

Penasaran dengan kisah lengkap geliat UMKM dari sisik ikan asal Manado dan upaya BRI membantu mengembangkannya? Simak cerita lengkapnya melalui tayangan Petualangan BRIlian episode 7 di Kompas TV dan kanal Youtube Bank BRI.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau