Advertorial

Mendagri Hadiri Gerakan Pembagian 10 Juta Bendera Merah Putih di Surabaya

Kompas.com - 14/08/2022, 19:41 WIB

KOMPAS.com - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menghadiri kegiatan Gerakan Pembagian 10 Juta Bendera Merah Putih di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jawa Timur (Jatim), Minggu (14/8/2022).

Sebagai informasi, acara yang diselenggarakan di Kota Pahlawan tersebut merupakan satu rangkaian dengan dua kegiatan terdahulu. Sebelumnya, Mendagri telah meluncurkan gerakan pembagian bendera di daerah paling timur Indonesia, yakni Merauke.

Kemudian, kegiatan serupa juga dilakukan di Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh, dan dihadiri oleh Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) John Wempi Wetipo.

Tito mengatakan, pemilihan Surabaya sebagai kota selanjutnya dari Gerakan Pembagian 10 Juta Bendera Merah Putih tak lepas dari sisi historis yang dimiliki kota tersebut.

“Selain tempat kelahiran Bung Karno dan tokoh pahlawan lain, Surabaya memiliki latar belakang historis yang cukup kuat terkait berkibarnya bendera merah putih. Adapun salah satu peristiwa yang sangat monumental adalah insiden di Hotel Yamato pada 19 September 1945,” ujar Tito dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Minggu.

Tito menambahkan, insiden Hotel Yamato terjadi karena Belanda dinilai melakukan tindakan provokatif, yakni mengibarkan bendera merah putih biru. Akibatnya, arek-arek Suroboyo yang tak terima kala itu langsung bertindak dengan menurunkan bendera tersebut.

“Mereka merobek warna biru sehingga menyisakan warna merah dan putihnya saja. Dari situ, terdapat pelajaran penting yang bisa dipelajari. Sekarang, kita bisa menaikkan bendera tanpa ada perlawanan. Berbeda dengan yang dilakukan tokoh-tokoh senior yang ada di Surabaya dulu," ucapnya.

Tanpa menafikan daerah lain, lanjut Tito, Surabaya juga memiliki peran penting dalam peristiwa 10 November 1945. 

Tito saat memberikan sambutan di Gerakan Pembagian 10 Juta Bendera Merah Putih. 

Dok. Kemendagri Tito saat memberikan sambutan di Gerakan Pembagian 10 Juta Bendera Merah Putih.

Adapun salah satu alasan dapat dipertahankannya Indonesia dari penjajahan adalah berkat nilai kepahlawanan, militansi, dan keberanian arek-arek Suroboyo.

Tito berharap, Gerakan Pembagian 10 Juta Bendera Merah Putih di Kota Pahlawan dapat membuat bendera Indonesia berkibar di seluruh sekolah, instansi pemerintah, dan swasta hingga 31 Agustus.

“Mengibarkan bendera merah putih merupakan salah satu cara menghargai dan menghayati perjuangan keras para pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan. Saya harap, pembagian bendera diikuti dengan pengibaran dan bisa menaikkan rasa nasionalisme kita. Warga Surabaya harus menjadi salah satu yang ada di bagian depan," terang Tito.

Pada kesempatan tersebut, Tito juga mengapresiasi sikap Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa yang dinilainya responsif terhadap Gerakan Pembagian 10 Juta Bendera Merah Putih.

Menurut Tito, hal tersebut penting dilakukan, terutama untuk mengingatkan para generasi penerus bangsa agar terus menjaga persatuan dan kesatuan. Sebab, kedua hal ini merupakan modal terpenting bagi bangsa Indonesia.

Merespons pernyataan tersebut, Khofifah mengatakan, kehadiran Mendagri dalam kegiatan pembagian bendera mampu memberikan semangat kepada seluruh elemen strategis di Jatim.

Tito bersama Gubernur Jatim Khofifah dan Kapolda Jatim Nico Afinta. 

Dok. Kemendagri Tito bersama Gubernur Jatim Khofifah dan Kapolda Jatim Nico Afinta.

"Kenapa kehadiran Mendagri disambut dengan sholawat? Sebab, kalau ada selawat nabi, insyaallah nabi akan hadir bersama kita. Selain itu, moderasi dan toleransi juga akan hadir di tengah kita semua," ujar Khofifah.

Untuk diketahui, kegiatan Gerakan Pembagian 10 Juta Bendera Merah Putih juga dihadiri sejumlah tokoh, seperti Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jatim Nico Afinta beserta jajaran, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, dan seluruh perwakilan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jatim.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau