Advertorial

Jelang Helat G20, Menteri ESDM Tinjau Kesiapan Green Energy Station Pertamina di Bali

Kompas.com - 31/08/2022, 12:09 WIB


KOMPAS.com - Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati bersama Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif meninjau kesiapan Green Energy Station (GES) milik Pertamina di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 5180130, Denpasar, Bali, Selasa (30/8/2022).

Arifin dan rombongan meninjau charging station atau stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) dan battery swapping station atau stasiun penukaran baterai kendaraan listrik umum (SPBKLU) untuk mendukung penggunaan kendaraan listrik.

Arifin menjelaskan bahwa peninjauan tersebut dilakukan untuk mendukung kesiapan Pertamina menuju transisi energi baru terbarukan (EBT).

"Sektor hulu kita masih memakai (energi) fosil yang dulu sudah diprogram panjang. Namun, transisi ini akan berangsur menuju kepada energi bersih EBT,” kata Arifin dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Rabu (31/8/2022).

Arifin melanjutkan, transisi tersebut akan menuntun evolusi kendaraan bermotor dengan daya listrik yang bersih, ramah lingkungan, dan hemat.

Ia menambahkan bahwa Indonesia memang sudah seharusnya mulai melakukan transisi energi dari energi fosil menuju EBT yang ramah lingkungan. Terlebih, Pertamina sudah menyiapkan GES untuk mendukung arah kebijakan transisi energi.

"Pertamina harus mengantisipasi tantangan usaha jangka panjang dengan melihat sumber minyak dan gas (migas) yang makin menurun. Apa alternatif yang harus dipakai? Sudah ada jawabannya untuk bisa mengganti minyak dengan listrik. Transisi ini akan dilakukan bertahap," kata Arifin.

Pada kesempatan sama, Nicke mengatakan bahwa hingga kini Pertamina telah memiliki 238 GES yang telah terpasang panel surya, 6 unit charging station untuk pengisian mobil listrik, dan 14 unit battery swapping station untuk penukaran baterai motor listrik.

Selain itu, Pertamina juga menargetkan, semua outlet, baik sisi hilir maupun hulu, akan menggunakan EBT. Untuk sumbernya, kata Nicke, Pertamina mempunyai target energy mix.

Sementara untuk ekosistem electric vehicle (EV), Pertamina akan fokus menggarap sisi hilir terlebih dahulu, yakni kendaraan roda dua.

“Kita pahami, pasar roda dua agak sulit jika menggunakan baterai cas di rumah. Jadi, konsepnya kami menjual baterai swap untuk memberikan kemudahan bagi pemilik kendaraan motor," ujar Nicke.

Kemudian di sisi hulu, lanjut Nicke, Pertamina bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Inalum dan Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk membangun Indonesia Battery Corporation (IBC) guna melakukan investasi pengembangan pembuatan baterai mulai dari hulu hingga hilir.

Dukung ekosistem kendaraan listrik

Sementara itu, Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bisnis Pertamina Patra Niaga Harsono Budi Santoso mengatakan bahwa perluasan penyediaan infrastruktur hilir, khususnya di Bali, merupakan bagian komitmen Pertamina untuk mengembangkan ekosistem kendaraan listrik, yakni SPKLU dan SPBKLU. Kedua ekosistem itu disediakan untuk mendukung penggunaan kendaraan listrik yang saat ini semakin meluas.

Lebih lanjut, Harsono juga menjelaskan bahwa ekosistem kendaraan listrik sangat mungkin dihadirkan di Bali. Pasalnya, masyarakat Bali terkenal peduli pada lingkungan dan menerapkan prinsip hidup seimbang dengan alam.

Karena hal tersebut, Bali dipilih Pertamina untuk memulai program energi bersih. Selain ekosistem kendaraan listrik, program Langit Biru Pertamina yang bertujuan untuk mengurangi emisi juga hadir pertama kali di Bali.

“Tingkat kepedulian yang tinggi dan makin maraknya kendaraan listrik di Bali kami ambil sebagai kesempatan untuk turut berkontribusi mengembangkan ekosistem kendaraan listrik di Bali,” ucap Harsono.

Ia melanjutkan bahwa Pertamina berencana mengembangkan 58 GES di Bali pada 2022. Sebanyak 6 di antaranya akan dilengkapi dengan 6 unit battery swapping station. Selain itu, Pertamina Patra Niaga juga turut mengembangkan unit charging station untuk pengisian bus listrik.

“Perluasan ini mendukung komitmen pemerintah Indonesia dalam mempercepat elektrifikasi di sektor transportasi serta komitmen untuk menjalankan aspek environmental, social, governance (ESG) mengenai penyediaan energi yang lebih bersih," tutur Harsono. 

Selain itu, pengembangan ekosistem kendaraan listrik ini juga dilakukan sebagai dukungan Pertamina pada agenda Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 atau Presidensi G20 mendatang. 

Sebagai informasi, Bali menjadi tuan rumah perhelatan Presidensi G20 pada November 2022. Forum tersebut akan dihadiri oleh para pemimpin negara besar dunia yang tergabung dalam G20.

Sejumlah persiapan untuk mendukung perhelatan akbar itu dilakukan Pertamina. Salah satunya dengan menyediakan GES untuk kebutuhan kendaraan kegiatan G20 yang sebagian besar menggunakan kendaraan listrik ramah lingkungan.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau