Advertorial

Tertinggi Ketiga di Indonesia, Ini Upaya Pemerintah Turunkan Prevalensi Stunting di Aceh

Kompas.com - 09/09/2022, 12:39 WIB

KOMPAS.com – Provinsi Aceh masuk peringkat tiga besar provinsi dengan angka prevalensi stunting tertinggi nasional pada 2021.

Terkait hal itu, Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (IKPMK) Direktorat Jenderal (Ditjen) Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Wiryanta mengatakan, upaya pemerataan kesehatan makin krusial dilakukan.

Pasalnya, pemerataan kesehatan berpengaruh terhadap penurunan angka prevalensi stunting. Upaya ini dinilai dapat melahirkan sumber daya manusia (SDM) unggul dan berprestasi.

Hal itu disampaikan Wiryanta dalam acara Diseminasi Informasi dan Edukasi Percepatan Penurunan Stunting bertajuk “Kepoin GenBest: Penuhi Nutrisi untuk Generasi Berprestasi” di Banda Aceh, Kamis (8/9/2022).

“Kesehatan dan pendidikan adalah hak dasar manusia. Oleh karena itu, pemerataan kesehatan adalah kewajiban yang harus dilakukan untuk mendukung sektor pendidikan guna menciptakan SDM unggul dan berdaya saing,” ujar Wiryanta dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Jumat (9/9/2022).

Berdasarkan laporan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, sebanyak 33,2 persen anak usia di bawah lima tahun (balita) di Provinsi Aceh mengalami stunting.

Adapun kasus stunting tertinggi terjadi di Kabupaten Gayo Lues sebesar 42,9 persen. Sementara, angka stunting di Kota Banda Aceh menjadi yang terendah, yakni 23,4 persen.

“Padahal, pemerintah menargetkan angka prevalensi stunting Indonesia pada 2024 dapat turun menjadi 14 persen. Untuk mencapai hal ini, diperlukan kerja keras seluruh pihak,” terangnya.

Wiryanta menjelaskan, salah satu upaya yang dilakukan Kemenkominfo untuk menurunkan angka stunting adalah mengampanyekan pesan penerapan gaya hidup bersih dan sehat kepada masyarakat.

“Dengan begitu, Indonesia bisa terbebas dari stunting,” katanya.

Pada kesempatan sama, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Aceh Yuanita Ananda mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh gencar melakukan berbagai program percepatan penurunan angka stunting di tengah masyarakat.

Salah satunya, peningkatan cakupan imunisasi dasar lengkap untuk balita melalui Gerakan Imunisasi dan Stunting Aceh (GISA).

“Pemprov Aceh sudah mulai mengeluarkan Surat Keputusan (SK) untuk percepatan penurunan angka stunting. Provinsi Aceh menempati peringkat ketiga tertinggi se-Indonesia. Jadi, kami bergerak cepat melalui SK Gubernur dengan menetapkan pihak-pihak yang terlibat dalam percepatan penurunan stunting,” jelasnya.

Sementara itu, dokter Lula Kamal mengatakan, pencegahan stunting perlu dilakukan sejak usia remaja, terutama remaja putri.

Ia menilai, kesehatan remaja putri sangat penting karena mereka akan hamil dan menyusui.

“Kalau remaja putri sehat, janin yang dilahirkan akan sehat pula. Mereka pun siap melahirkan generasi berkualitas,” ujarnya.

Dokter Lula menjelaskan, persiapan kesehatan generasi remaja penting dilakukan mengingat Indonesia akan menghadapi bonus demografi.

“(Jumlah) angkatan kerja akan lebih banyak nantinya. Ini adalah waktu yang tepat bagi Indonesia untuk injak gas. Oleh karena itu, SDM harus berkualitas,” kata dr Lula.

Untuk diketahui, Forum Kepoin GenBest di Kota Banda Aceh merupakan bagian dari kampanye Generasi Bersih dan Sehat (GenBest).

Kampanye tersebut diinisiasi Kemenkominfo untuk melahirkan generasi Indonesia yang bersih dan sehat serta bebas stunting.

Adapun GenBest mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui situs genbest.id dan media sosial (medsos) @genbestid, GenBest juga menghadirkan berbagai informasi seputar stunting, kesehatan, nutrisi, tumbuh kembang anak, sanitasi, siap nikah, dan reproduksi remaja dalam bentuk artikel, infografik, serta videografik.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau