Advertorial

Genap Berusia Satu Tahun, Holding UMi Tingkatkan Kesejahteraan dan Percepat Inklusi Keuangan

Kompas.com - 14/09/2022, 15:29 WIB

KOMPAS.com – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) atau BRI melalui holding Ultra Mikro (UMi) bersama PT Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mempercepat inklusi keuangan di Indonesia.

Hingga akhir Agustus 2022, holding yang baru terbentuk pada pertengahan September 2021 itu mencatat, sebanyak 23,5 juta nasabah telah diintegrasikan oleh ketiga entitas holding UMi. Dari jumlah tersebut, total outstanding pembiayaan tercatat sebesar Rp 183,9 triliun.

Pencapaian tersebut selaras dengan salah satu agenda prioritas dalam Presidensi Group of Twenty (G20) Indonesia, yakni inklusi keuangan. Utamanya, terkait teknologi digital dan akses pembiayaan bagi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Di sisi lain, BRI juga berhasil menaikkelaskan 1,8 juta nasabah kredit usaha rakyat (KUR) mikro ke komersial pada 2021. Perseroan bahkan memprediksi sebanyak 2,2 juta nasabah akan berhasil naik kelas pada 2022.

Tak hanya dari sisi pembiayaan, hingga Agustus 2022, integrasi layanan ketiga entitas atau co-location melalui Gerai Senyum juga sudah mencapai 1.003 lokasi dari target awal 978 lokasi.

Penabung baru UMi juga telah melampaui target, yaitu mencapai 6,85 juta. Adapun target awal yang ditetapkan holding sebanyak 3,3 juta.

Hal serupa juga terlihat dari nasabah PNM Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar). Saat ini sebanyak 40.121 nasabah PNM Mekaar telah bergabung sebagai Agen BRILink.

Terkait kinerja yang impresif, Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan bahwa tujuan holding yang diinisiasi Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sejak 2021 itu mulai menampakan hasil positif.

Menurutnya, ketiga entitas diarahkan untuk semakin mampu melayani masyarakat sebanyak mungkin hingga segmen usaha terkecil, dengan biaya seefisien mungkin.

“Jadi, kata kuncinya adalah sinergi. BRI, Pegadaian, dan PNM selama ini concern dan fokus menangani UMKM,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Rabu (14/9/2022).

Kemudian, kata Sunarso, pembentukan Holding UMi merupakan bentuk sinergi nyata yang bisa dinilai indikator kinerjanya secara bersama, tidak berjalan sendiri-sendiri.

“Semuanya itu menyasar 55 juta nasabah ultramikro di Indonesia,” kata Sunarso.

Gerai Senyum. 
Dok. BRI Gerai Senyum.

Sunarso pun menjelaskan bahwa sinergi melalui holding semakin memperkuat komitmen ketiga entitas untuk meningkatkan pemberdayaan. Dengan demikian, dapat mendorong peningkatan skala usaha pelaku bisnis di segmen UMi.

Selain itu, melalui PNM, holding UMi dapat menjangkau masyarakat di bawah menggunakan mekanisme lending group. Hal ini dilakukan dengan pendampingan yang berorientasi pada upaya memasukkan masyarakat yang belum bankable dalam sistem layanan jasa perbankan.

Setelah layak secara komersial, nasabah pun diberi pilihan akses permodalan berbasis gadai melalui Pegadaian atau mengambil pinjaman ke BRI, seperti melalui produk Kredit Umum Pedesaan (Kupedes).

“Setelah itu, kami dorong mereka untuk naik kelas. Kami juga mengikuti journey-nya secara sistematis melalui sistem,” ujar Sunarso.

Lebih lanjut, Sunarso mengatakan bahwa holding UMi merupakan sumber dana murah. Sebab, nasabah yang disasar diajari untuk punya tabungan dan menabung, meski hanya memiliki dana Rp 1-2 juta.

Menurutnya, holding UMi menjadi sumber pertumbuhan baru bagi BRI ke depannya.

“Selain sebagai sumber pertumbuhan baru, UMi akan memberikan banyak benefit, baik secara ekonomi maupun social value. Selain itu, secara sustainable return kepada stakeholder BRI”, tuturnya.

Sebagai informasi, pengembangan tersebut tidak lepas dari potensi sumber daya yang dimiliki oleh ketiga entitas.

Adapun BRI Group memiliki jaringan yang luas dan tersebar di seluruh Indonesia, meliputi 6.500 micro outlet, 3.600 outlet PNM, 4.000 outlet Pegadaian, dan diperkuat oleh lebih dari 530.000 Agen BRILink sebagai layanan branchless banking.

BRI Group juga memiliki lebih dari 63.000 financial advisor yang andal dan berpengalaman untuk memberikan layanan prima kepada nasabah mikro dan ultramikro. Holding UMi pun akan menguatkan pengembangan micro payment ecosystem.

Perkokoh fondasi ekonomi kerakyatan Indonesia

Dalam kesempatan terpisah, Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan bahwa holding UMi telah memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan ekonomi masyarakat.

Menurutnya, konsep pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang diadopsi ada dua. Pertama, cara BUMN memastikan usaha pelaku UMKM dan UMi mendapatkan pembiayaan yang sesuai, dilengkapi dengan pendampingan yang tidak kalah penting.

Kedua, menjaga rantai pasok. Contohnya, cara konsolidasi BRI dengan PNM dan Pegadaian. BRI itu memastikan UMKM naik kelas yang tadinya (termasuk dalam segmen) ultramikro.

Holding UMi menyasar pelaku UMKM. Dok. BRI Holding UMi menyasar pelaku UMKM.

“Melalui PNM, pinjaman Rp 1-4 juta, lalu naik ke Pegadaian yang pinjamannya mungkin Rp 20-50 juta, nanti naik lagi,” jelasnya.

Erick menilai, hal tersebut merupakan langkah yang positif. Dengan demikian, pelaku UMKM memiliki kesempatan buat naik kelas.

“Tidak hanya dengan pembiayaan, tetapi juga dengan pendampingan-pendampingan. Ini yang penting,” ujar Erick.

Setelah PNM tergabung dalam holding UMi, PNM memperoleh sokongan likuiditas yang kuat dari BRI.

“Jadi, fundamental yang kami bangun memang di ekonomi kerakyatan. Tidak anti (perusahaan) yang besar. (Perusahaan) yang besar harus kami dorong juga,’’ kata dia.

Lebih lanjut, Erick menjelaskan bahwa holding UMi semakin membuktikan kehadiran negara secara langsung untuk mengangkat ekonomi kerakyatan. Lewat skema ini, perusahaan besar atau korporasi harus bersinergi dengan pelaku usaha yang paling kecil sekalipun.

“Ini yang kami jaga dan saya yakini. Pemerintahan Presiden Joko Widodo fokus bagaimana pembedahan ekonomi kerakyatan tersebut dapat menjadi platform yang tepat,’’ ujar Erick.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau