Advertorial

Menteri BUMN Luncurkan Program Solar untuk Koperasi Nelayan di Cilacap

Kompas.com - 18/09/2022, 10:54 WIB

KOMPAS.com – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir secara resmi meluncurkan program “Solar untuk Koperasi (Solusi) Nelayan” di Pelabuhan Perikanan Samudera, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah (Jateng), Sabtu (17/9/2022).

Peluncuran tersebut turut dihadiri Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop dan UKM) Teten Masduki serta Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati.

Kemudian hadir pula Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji dan Anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Adisatrya Suryo Sulisto. 

Menteri BUMN Erick Thohir menyampaikan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menugaskan dirinya serta Menkop dan UKM untuk mencari solusi dalam meningkatkan taraf hidup para nelayan.

Presiden Jokowi, lanjut dia, berpesan bahwa kesejahteraan nelayan harus menjadi bagian penting dari program pemerintah. 

"Salah satunya dengan program Solusi Nelayan yang memberikan akses harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Solar yang selama ini didapat nelayan mungkin Rp 7.000 hingga Rp 10.000 per liter, hari ini kita pastikan harganya Rp 6.800 per liter," ujar Erick, dikutip dari pertamina.com, Minggu (18/9/2022).

Melalui program tersebut, Erick berujar, Pertamina menyalurkan langsung Solar bersubsidi ke stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) nelayan di bawah Koperasi Mino Saroyo yang beranggotakan 8.500 nelayan. 

Untuk diketahui, program Solusi Nelayan merupakan bentuk keberpihakan pemerintah terhadap para nelayan di tengah kebijakan pengalihan subsidi BBM.

Menurut Erick, inisiatif Kementerian BUMN serta Kemenkop dan UKM itu dapat memperbaiki akses nelayan terhadap Solar.

“Sehingga subsidi Solar lebih tepat sasaran dan langsung dialokasikan kepada nelayan. Kami juga memastikan koperasi jadi ujung tombak agar solar subsidi benar-benar tepat sasaran,” tutur Erick.

Dengan adanya koperasi, sebut dia, berarti akan ada nama, alamat, dan catatan digital yang tersimpan.

“Sehingga kalau ada yang membawa jeriken tidak masalah, karena ada barcode dan datanya kelihatan,” ujarnya.

Ia melanjutkan, Solusi Nelayan tidak hanya sekadar mendistribusikan Solar bersubsidi, tetapi juga membenahi model bisnis perikanan rakyat dengan melibatkan koperasi sebagaiaggregator dan penjamin pertama bagi nelayan.

Bagi Erick, nelayan Indonesia adalah pelaut tangguh yang tidak hanya membutuhkan subsidi, tetapi juga ekosistem bisnis perikanan rakyat yang sehat dan berpihak pada nelayan.

"Dari Pak Teten nanti koperasinya diberikan pembiayaan (modal kerja). Kami dari BRI juga mendorong pembiayaan untuk nelayan, lalu ibu-ibu nelayan juga tidak ditinggalkan, ada PNM Mekaar juga yang akan hadir," sambung Erick.

BUMN, sambungnya, juga berupaya membuka akses pasar di dalam dan luar negeri dengan melibatkan pihak swasta sebagaiofftaker atau pembeli hasil produksi para nelayan.

Oleh karenanya, ia berharap program Solusi Nelayan dapat menjadi gebrakan dalam menjawab permasalahan nelayan.

"Bukan sekadar menyentuh masalah di permukaan, tetapi juga membenahi ekosistem bisnis sebagai wujud solusi jangka panjang. Apa pun masalahnya, kita hadapi, kita atasi. Karena pikiran yang produktif bisa mengantarkan kita pada solusi konkret demi Indonesia yang maju, makmur, dan mendunia," lanjut Erick.

Lebih lanjut, Erick menyampaikan apresiasinya kepada Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop dan UKM) yang telah mendukung Pertamina dalam menjalankan program Solusi Nelayan.

Solusi Nelayan di tujuh daerah

Erick menjelaskan, setelah Cilacap, terdapat tujuh lokasi percontohan program Solusi Nelayan, yakni Lhoknga di Aceh, Deli Serdang di Sumatera Utara, Indramayu di Jawa Barat, Pekalongan dan Semarang di Jawa Tengah, Surabaya di Jawa Timur, serta Lombok Timur di Nusa Tenggara Barat.

Program Solusi Nelayan di tujuh daerah itu akan dijalankan selama tiga bulan ke depan.

"Cilacap ini pilot project, kalau ini berjalan baik akan dikembangkan di tujuh lokasi dan diperluas ke seluruh Indonesia," kata Erick menambahkan.

Menkop dan UKM Teten Masduki mengatakan bahwa program Solusi Nelayan merupakan jawaban atas sejumlah persoalan yang selama ini dihadapi para nelayan.

Sebab, sebut dia, subsidi Solar akan sangat berdampak terhadap kesejahteraan nelayan, mengingat selama ini 60 persen biaya produksi nelayan berasal dari BBM.

“Kemenkop dan UKM bersama Kementerian BUMN juga mendorong peningkatan pengolahan bagi nilai tambah hasil produksi nelayan,” tuturnya.

Ia menjelaskan, dia dan Menteri BUMN turut memikirkan pembiayaan, pengolahan, hingga offtaker apa saja di dalam atau luar negeri, sehingga nelayan bisa memiliki keuntungan maksimal.

Sementara itu, Komisi VI DPR Adisatrya Suryo Sulisto mengapresiasi kolaborasi Erick dan Teten dalam membantu kemudahan dan pembiayaan bagi para nelayan di Cilacap.

Adi menilai, keberpihakan melalui program Solusi Nelayan dapat memberikan rasa nyaman bagi nelayan, sehingga produktivitas mereka dapat meningkat. 

"Ke depan, bukan hanya ketersediaan BBM, tapi juga penyerapan hasil produk perikanan yang tadi disampaikan Pak Erick juga akan dibantu. Kami harap program-program Kementerian BUMN dan Kementerian Koperasi dan UKM bisa terus membantu para nelayan di Cilacap," kata Adi.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau