Advertorial

Pola Makan Sehat Mampu Turunkan Angka Stunting

Kompas.com - 06/10/2022, 16:53 WIB

KOMPAS.com – Pemerintah terus berupaya menurunkan angka prevalensi stunting di Indonesia. Adapun salah satu caranya adalah dengan mengimbau pola makan sehat sebagai gaya hidup sehari-hari kepada masyarakat, utamanya generasi muda.

Hal itu diutarakan oleh Direktur Informasi (Ditjen) dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (IKPMK) Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Wiryanta dalam diseminasi informasi dan edukasi percepatan penurunan stunting bertajuk "Kepoin Genbest: Isi Piringku untuk Gizi Harianmu" di Kota Bitung, Sulawesi Utara, Rabu (5/10/2022).

“Pencegahan stunting harus segera dilakukan karena generasi muda yang produktif dan unggul dapat diwujudkan jika mereka bebas dari stunting dalam menghadapi ‘bonus demografi’ pada 2030,” kata Wiryanta dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (6/10/2022).

Wiryanta menjelaskan, bonus demografi mengacu pada jumlah angkatan kerja atau generasi produktif yang berada di atas 50 persen dari total penduduk. Angka tersebut dapat menjadi berkah jika generasi produktif yang dimiliki Indonesia berkualitas dan bebas dari stunting.

“Kalau indeks pembangunan manusianya bagus, tentu angka produktivitas nasional akan meningkat pula. Angka produktivitas yang meningkat menunjukkan bahwa negara tersebut adalah emerging country,” jelas Wiryanta.

Lebih lanjut Wiryanta menjelaskan bahwa hal yang perlu diingat adalah anak yang terlahir stunting akan memiliki tubuh pendek, serta daya intelektual dan nalar yang rendah sehingga sulit bersaing. Selain itu, penderita stunting menjadi rentan menderita obesitas pada usia tua dan berpotensi memiliki penyakit komorbid seperti darah tinggi.

Mendukung pernyataan Wiryanta, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Daerah Provinsi Sulawesi Utara Rima Lolong menyampaikan tentang pola makan yang sehat untuk melawan stunting.

Menurutnya, penerapan pola makan yang sehat harus merujuk pedoman yang sudah dicanangkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), yaitu Isi Piringku.

“Dalam Isi Piringku disebutkan tentang pola makan yang sesuai dengan gizi seimbang. Porsi makan kita satu piring harus diimbangi dengan konsumsi gula, garam, dan lemak yang terukur. Tentunya, (asupan tersebut) ditunjang dengan minum air putih minimal 8 gelas sehari dan melakukan aktivitas fisik,” ujar Rima.

Rima melanjutkan, konsumsi makanan yang mengandung garam, gula, dan lemak yang berlebih bisa berpengaruh terhadap angka stunting. Oleh karena itu, ia menyimpulkan bahwa kualitas kesehatan remaja merupakan kunci pencegahan dini generasi stunting.

“Jadi, remaja juga harus sehat,” tutur Rima.

Sementara itu, praktisi kesehatan dr Mario Johan menjelaskan bahwa konsumsi gula, garam, dan lemak memiliki ukuran yang harus dipatuhi agar gizi seimbang dapat terpenuhi.

“Konsumsi (makanan dan minuman) yang manis boleh, tapi juga harus tahu takarannya. (Takaran) gula 50 gram (gr) atau setara 4 sendok, satu sendok teh garam, dan 5 sendok makan lemak atau sekitar 67 gr merupakan batas maksimal (yang dikonsumsi) dalam sehari. Takaran tersebut tidak hanya diukur dari minuman, tapi juga dari makanan,” ucap Mario.

Adapun Koordinator Informasi Komunikasi Kesehatan Direktorat IKPMK Kemenkominfo Marroli J Indarto mengimbau, selain memenuhi gizi seimbang, generasi muda juga harus memperhatikan porsi konsumsi makanan. Dengan begitu, tidak ada makanan yang terbuang atau food waste.

Selain berdampak pada lingkungan, yakni meningkatkan emisi gas rumah kaca, Marroli juga menambahkan bahwa food waste pun berdampak pada kerugian ekonomi masyarakat dan negara.

“Remaja diharapkan (dapat) terus menjaga pola makan sehat dan porsi makan secukupnya. Jangan mengambil makanan berlebihan karena dapat menyebabkan food waste,” papar Marroli.

Sebagai informasi, sesuai dengan target yang dicanangkan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, angka prevalensi stunting Indonesia diharapkan bisa turun ke angka 14 persen pada 2024. Target tersebut berada di bawah standar Badan Kesehatan Dunia (WHO), yakni 20 persen.

Forum Kepoin GenBest sendiri merupakan bagian dari kampanye Generasi Bersih dan Sehat (Genbest). Kegiatan ini yang merupakan inisiasi Kemenkominfo untuk menciptakan generasi Indonesia yang bersih dan sehat serta bebas stunting.

Genbest mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, agar menerapkan pola hidup bersih dan sehat di kehidupan sehari-hari.

Melalui situs genbest.id dan media sosial @genbestid, Genbest menyediakan berbagai informasi seputar stunting, kesehatan, nutrisi, tumbuh kembang anak, sanitasi, siap nikah, dan reproduksi remaja dalam bentuk artikel, infografik, serta videografis.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau