Advertorial

Lewat Program Peduli TPST, BRI Ajak Masyarakat Jaga Bumi dengan Daur Ulang Sampah secara Terpadu

Kompas.com - 15/10/2022, 19:59 WIB

KOMPAS.com - Sampah masih menjadi salah satu masalah lingkungan yang dihadapi masyarakat, terutama di wilayah perkotaan. Sebab, peningkatan aktivitas masyarakat kota tidak diimbangi dengan jumlah tempat pembuangan sampah.

Permasalahan sampah tersebut tentunya menjadi tanggung jawab bersama. Oleh sebab itu, solusinya juga perlu diterapkan bersama-sama oleh seluruh anggota masyarakat, seperti mengelola sampah limbah rumah tangga.

Untuk diketahui, persoalan sampah yang tidak cepat ditangani secara benar akan berdampak negatif terhadap lingkungan, seperti pencemaran air, udara, tanah, serta sumber penyakit.

Merespons persoalan sampah, Bank Rakyat Indonesia atau BRI melalui program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) berinisiatif membantu mengatasi melalui program “BRI Peduli Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST)” yang terintegrasi dengan program-program BRI lainnya.

Program BRI Peduli TPST adalah langkah pengelolaan sampah secara sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan, mulai dari aktivitas awal pembuangan hingga monitoring dan regulasi manajemen sampah. Program ini diintegrasikan dengan program TJSL lain, yakni BRI Bersih-bersih kali dan Desa BRILiaN.

Sebagai informasi, program BRI Bersih-bersih Kali telah diimplementasikan sejak 2019 di 18 wilayah Indonesia. Bentuk integrasi yang dilakukan dengan program ini, yakni pengelolaan sampah pada wilayah kali atau sungai.

Sampah yang terkumpul dari kali atau sungai akan dipilah berdasarkan jenis, yakni organik dan anorganik. Kemudian, sampah organik dimanfaatkan untuk keperluan masyarakat, seperti bahan pupuk kompos, tambahan pakan ternak, urban farming, serta biogas.

Sementara itu, sampah anorganik akan dicacah menggunakan mesin daur ulang sampah, lalu dijual kepada pengumpul sampah. Untuk mendukung pelaksanaannya, BRI menyalurkan bantuan infrastruktur, antara lain mesin daur ulang sampah, kendaraan angkut, dan tempat pembuangan sampah di pinggir kali.

Corporate Secretary (Corsec) BRI Aestika Oryza Gunarto menjelaskan bahwa program BRI Peduli TPST yang terintegrasi dengan BRI Bersih-bersih Kali bertujuan untuk mengubah cara pandang sebagian masyarakat yang masih menjadikan kali atau sungai sebagai tempat pembuangan sampah.

Tempat pengolahan sampah terpadu di Desa Jatihurip, Kecamatan Cisayong, Jawa Barat oleh BRI 

Dok. BRI Tempat pengolahan sampah terpadu di Desa Jatihurip, Kecamatan Cisayong, Jawa Barat oleh BRI

“Program tersebut nantinya dapat mendorong kesadaran masyarakat yang tinggal di dekat kali atau sungai tentang pentingnya mengelola sampah menjadi barang yang lebih berguna sehingga dapat menjaga kesimbangan lingkungan sekitar,” ujar Aestika dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Sabtu (15/10/2022).

Integrasi dengan Pemberdayaan Desa BRILiaN

Aestika menjelaskan bahwa program BRI Peduli TPST juga difokuskan pada pengolahan sampah di desa-desa dan menjadi bagian dari program Desa BRILian.

Perlu diketahui, program Desa BRILiaN merupakan pemberdayaan BRI yang bertujuan untuk meningkatkan ekonomi desa dan menghasilkan role model implementasi kepemimpinan desa yang unggul.

“Di Desa BRILiaN, program BRI Peduli TPST mendorong kesadaran masyarakat tentang pengolahan sampah sehingga menjadi desa teladan dan inspirasi bagi desa sekitar,” tutur Aestika.

Sejak Program Desa BRILiaN dimulai pada 2020, terdapat 10 desa terbaik di setiap tahunnya yang terpilih untuk diberikan pendampingan dan pemberdayaan dari BRI.

Desa-desa tersebut, antara lain Desa Sukalaksana, Kabupaten Garut, Jawa Barat; Desa Temanggung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Desa Ketanprame, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur; Desa Sumberadem, Kabupaten Malang, Jawa Timur; Desa Menanga, Kabupaten Karangasem, Bali, dan Desa Penggarit, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.

Aestika berharap integrasi program TJSL yang dilakukan BRI tidak hanya berdampak terhadap pemberdayaan ekonomi desa, tetapi juga berperan mendorong kesadaran masyarakat untuk menjaga keseimbangan alam dan kebersihan lingkungan melalui pengolahan sampah yang tepat.

“Sampah yang berasal dari rumah tangga, kemudian dipilah, (sehingga) bisa dimanfaatkan untuk kompos atau didaur ulang menjadi barang berguna” ucapnya.

Aestika menambahkan, sesuai arahan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), program TJSL atau CSR BUMN diharapkan dapat difokuskan dan berdampak positif pada lingkungan.

Sampah yang dibuang diharapkan dapat dikelola dan dimanfaatkan untuk menjadi energi listrik, didaur ulang menjadi industri kertas, dimanfaatkan untuk campuran aspal, bahan baku plastik atau untuk jenis organik dijadikan kompos atau sumber energi listrik.

“Pengelolaan sampah yang berkelanjutan pada akhirnya dapat meningkatkan kesehatan masyarakat, energi bersih dan terjangkau, serta membantu penanganan perubahan iklim,” tegasnya.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau