Advertorial

Atasi Banjir, Pemkot Surabaya Kebut Pengerjaan Saluran Air di Seluruh Wilayah

Kompas.com - 17/10/2022, 18:10 WIB

KOMPAS.com - Berbagai upaya dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, Jawa Timur (Jatim), untuk mencegah genangan saat musim hujan. Salah satunya adalah dengan pengerjaan saluran air di berbagai penjuru Kota Surabaya sepanjang 2022.

Sebagai informasi, setidaknya ada 55 titik saluran air yang saat ini sedang dikerjakan bersamaan dan dikebut agar segera rampung. Pengerjaan sudah dimulai sejak beberapa bulan lalu. Box culvert pun telah dipasang di beberapa titik.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, pengerjaan saluran air tersebut dikebut untuk menyesuaikan anggaran Pemkot Surabaya yang sudah disahkan sejak November 2020.

“Secara otomatis, saya tidak membuat anggaran pada 2021 karena baru dilantik menjadi wali kota. Jadi, ketika terjadi permasalahan, termasuk genangan, saya tidak bisa berbuat banyak dan hanya bisa melokalisasi serta melakukan penyedotan genangan biar cepat surut,” kata Eri dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (17/10/2022).

Pengerjaan saluran tersebut, lanjut Eri, dilakukan secara masif di semua tempat yang masih terdapat genangan saat musim hujan pada 2022. Pengerjaannya sendiri dilaksanakan dengan menyilangkan dan menghubungkan setiap saluran. Dengan cara ini, ia yakin lokasi-lokasi yang biasa tergenang saat hujan di Kota Surabaya bisa berkurang. 

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meninjau pengerjaan saluran air. Dok. Pemkot Surabaya Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meninjau pengerjaan saluran air.

Eri mencontohkan kawasan Ketintang Madya. Daerah ini, katanya, sudah puluhan tahun kerap tergenang air saat hujan lebat. Ia berharap, dengan pengerjaan saluran yang dilakukan, genangan-genangan itu tidak terjadi lagi.

“Semoga, tidak ada lagi genangan di Ketintang Madya, tidak ada lagi banjir di Gayungsari, dan di tempat-tempat lainnya. Semoga itu bisa terwujud di tahun ini,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga Kota Surabaya Lilik Arijanto menjelaskan bahwa pengerjaan saluran air dan penanganan genangan di Kota Surabaya terfokus di dua tempat, yaitu pusat kota dan Surabaya area selatan. 

Pemfokusan pengerjaan saluran air di pusat kota sendiri dikarenakan genangan air di sana terpantau cukup tinggi ketika hujan. Selain itu, kegiatan ekonomi di pusat kota juga sangat padat. 

"Kami ingin menyelesaikan semuanya karena konsentrasi pekerjaan banyak dilakukan di pusat kota,” jelas Lilik.

Pengerjaan saluran air di wilayah Kota Surabaya. Dok. Pemkot Surabaya Pengerjaan saluran air di wilayah Kota Surabaya.

Sementara itu, kawasan Surabaya selatan diprioritaskan karena merupakan catchment area. Wilayah ini memiliki saluran air terpanjang di Surabaya.

Lilik menambahkan, sebelum pengerjaan itu dilakukan, pembuangan air di pusat kota hanya mengandalkan saluran-saluran brandgang yang ada di wilayah itu saja. Sebagai informasi, brandgang yang dipergunakan merupakan saluran peninggalan Belanda sehingga kapasitasnya sudah tidak cukup lagi untuk menampung hujan saat ini.

“Oleh sebab itu, kami harus membuat terobosan baru untuk membuat saluran yang mengarah ke pembuangan terdekat di pusat kota. Tujuannya, agar bisa menciptakan trase yang berbeda dan menyediakan crossing di banyak jalan di seluruh Kota Surabaya,” ucap Lilik.

Menurut Lilik, pembangunan saluran air di Kota Surabaya memang sebaiknya dilakukan ketika musim kemarau seperti sekarang. Sebab, menurutnya, selama ini pembangunan saluran air di Surabaya selalu bersinggungan dengan saluran lama yang masih aktif. Jika dibangun saat musim hujan, saluran akan terhambat dengan aliran air.

“Dalam beberapa bulan terakhir ini, kami harus cepat untuk melakukan (beberapa) pekerjaan (secara) bersamaan sehingga mengakibatkan banyak galian, pemasangan crossing, penempatan box culvert di pinggir jalan yang terkadang mengganggu arus lalu lintas. Hal itu karena tempat dan waktu kami terbatas. Untuk itu, kami memohon maaf kepada warga Surabaya,” ungkap Lilik.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau