Advertorial

Di G20 SOE Conference, Profesor Harvard Apresiasi Peran BRI dalam Tingkatkan Inklusi Keuangan di Indonesia

Kompas.com - 18/10/2022, 11:17 WIB

KOMPAS.com - Inklusi keuangan menjadi salah satu isu prioritas yang dibahas dalam sesi diskusi bertajuk “Peran BUMN dalam Memperluas Keuangan Inklusif” pada acara Trade Investment and Industry Working Group (TIIWG) Road to G20: SOE International Conference di Nusa Dua, Bali, Senin (17/10/2022).

Upaya mewujudkan inklusi keuangan itu dibahas bersama oleh perwakilan negara-negara G20, pemerintah, pimpinan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), akademisi, dan peneliti.

Pada kesempatan itu, Adjunct Lecturer Harvard Kennedy School Profesor Jay K Rosengard mengapresiasi kontribusi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI sebagai BUMN dalam mendorong dan menciptakan inklusi keuangan serta dalam penerapan environment, social, and governance (ESG) di Indonesia.

Menurut Jay, kontribusi BRI itu tidak datang tiba-tiba, tetapi buah dari upaya panjang perseroan dalam memberdayakan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sebagai tulang punggung utama bisnisnya. Salah satunya dengan menjalankan program Bimbingan Massal (Bimas) yang menjadi awal micro-banking BRI secara nasional.

“Dua dekade lalu, ketika teknologi dalam pertanian mulai merambah, BRI berperan aktif dalam membiayai pembelian beras, pupuk, pestisida, dan biaya hidup tunjangan selama masa transisi serta edukasi yang diupayakan bersama pemerintah melalui Bimas,” kata Jay dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa, (18/10/2022).

Jay menambahkan, Bimas telah mendorong petani mengadopsi teknologi baru dan membentuk perspektif revolusi hijau dari waktu ke waktu. Menurutnya, hal tersebut merupakan bukti kesuksesan luar biasa dari program pemberdayaan dari BRI.

“Indonesia berubah dari pengimpor beras terbesar dunia menjadi pengekspor beras bersih dalam waktu sekitar satu generasi atau 20 tahun” tutur Jay.

Selain itu, Jay pun menjabarkan bahwa pembiayaan yang disalurkan BRI merupakan pendorong utama produktivitas pelaku UMKM.

“Adopsi teknologi sangat meningkatkan produktivitas petani. Tentu saja hal itu (juga) meningkatkan pendapatan dan standar hidup mereka. Akan tetapi, semua hal tersebut tidak mungkin terjadi bila tidak ada pembiayaan dari BRI untuk meningkatkan produktivitas mereka,” jelas Jay.

Jay menambahkan bahwa BRI pun tumbuh menjadi bank dengan aset terbesar serta penyalur utama kredit UMKM di Indonesia. Hal tersebut dibuktikan dengan proporsi kredit UMKM BRI yang sudah mencapai 83 persen dari total kredit atau setara Rp 920 triliun pada kuartal II 2022.

Jay menilai, komitmen BRI dalam sisi pembiayaan juga ditunjang oleh implementasi ESG yang unggul. Hasilnya, BRI dapat terus tumbuh berkelanjutan untuk menumbuhkembangkan UMKM.

Adjunct Lecturer Harvard Kennedy School Profesor Jay K Rosengard dalam acara TIIWG 2022 . Dok. BRI Adjunct Lecturer Harvard Kennedy School Profesor Jay K Rosengard dalam acara TIIWG 2022 .

“BRI merupakan contoh dari kesuksesan green revolution. Saya dapat katakan bahwa BRI adalah world's biggest and most successful profitable microbanking. It’s a great untold story,” papar Jay.

Lebih lanjut Jay menjelaskan bahwa BRI dapat menjalankan bisnisnya sebagai commercial bank dengan membukukan laba Rp 24,88 triliun dalam 6 bulan pertama pada 2022. Bahkan, sebagian laba dikontribusikan kepada pemerintah melalui dividen serta pajak.

“BRI juga mampu menghadirkan social development impact ke masyarakat dengan jangkauannya yang luas,” tegas Jay.

Berbagai kebutuhan layanan finansial nasabah pun dapat terpenuhi melalui sederet inovasi yang dilahirkan BRI. Salah satu contohnya adalah Agen BRILink. Jaringan BRI itu merupakan branchless banking untuk menghadirkan layanan yang dekat, cepat, dan lengkap kepada seluruh masyarakat.

Sebagai informasi, Agen BRILink telah menjangkau 77 persen desa di Indonesia. Jumlah Agen BRILink telah mencapai 597.177 dengan jangkauan hingga 58.095 desa per akhir September 2022.

Adapun Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo juga mengungkap peran BRI dalam meningkatkan inklusi keuangan. Selain melalui Agen Laku Pandai, peran BRI juga ditunjukkan lewat holding Ultra Mikro (UMi). Menurutnya, keberadaan Agen Laku Pandai BRI telah mampu mendorong tingkat inklusi antara 83 hingga 84 persen.

“Kami yakin, dengan digitalisasi, (tingkat inklusi) akan meningkat menjadi lebih dari 90 persen”, imbuh Kartika.

Terkait akses terhadap keuangan, Kartika menjelaskan, pihaknya menyadari bahwa banyak masyarakat di Indonesia tidak hanya berada di segmen mikro, tetapi juga di segmen ultramikro.

Saat ini, Kartika melanjutkan, Indonesia memiliki sekitar 55 juta nasabah ultramikro. Dari jumlah tersebut, terdapat sekitar 30 juta nasabah yang belum tersentuh oleh lembaga keuangan formal.

“Mereka punya account atau memiliki model pembiayaan lain, tapi tidak dapat mengakses lembaga keuangan formal. Jadi, nasabah ultramikro bisa dikategorikan ke unbankable dan unfeasible,” paparnya.

Kartika menambahkan, ada juga pelaku ultramikro yang feasible, tapi unbankable karena tidak memiliki collateral. Ada pula nasabah yang sudah naik kelas. 

Dengan keadaan itu, Kartika menilai, ada tahapan yang harus dilalui oleh pelaku ultramikro untuk naik kelas agar bisa masuk dan mengakses kredit di segmen komersial.

“Sekarang, bagaimana kita dapat menjangkau masyarakat yang unbanked? Kita telah mengintegrasikan tiga entitas, yakni BRI, Pegadaian, dan Permodalan Nasional Madani, (PNM) ke dalam holding UMi untuk mendukung hal itu,” jelas Kartika.

Ia menambahkan bahwa hal tersebut bisa diwujudkan melalui inovasi. Salah satu upaya yang telah direalisasikan adalah menghadirkan layanan co-location Sentra Layanan Ultra Mikro (Senyum). Melalui Senyum, ekosistem ultramikro dapat mengakses layanan dari tiga BUMN dalam satu lokasi layanan bersama. 

“Senyum membantu nasabah agar mendapatkan berbagai layanan dan produk pembiayaan di dalam satu kantor. Layanan ini yang harus kita dorong agar holding UMi dapat melayani masyarakat yang lebih luas ke depan,” jelas Kartika.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau