Advertorial

Pertamina NRE, IGNIS Energy Holdings, dan Krakatau Steel Bikin Studi Bersama Pengembangan Hidrogen Bersih di Indonesia

Kompas.com - 19/10/2022, 10:48 WIB

KOMPAS.com – PT Pertamina Power Indonesia (Pertamina NRE), PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, dan IGNIS Energy Holding menandatangani joint study agreement (JSA) pengembangan blue and green hydrogen serta energi baru dan terbarukan (EBT) di wilayah industri Krakatau Steel.

Adapun penandatanganan kerja sama tersebut digelar dalam acara Group of Twenty (G20) State-Owned Enterprises (SOE) International Conference di Nusa Dua, Bali, Selasa (18/10/2022).

Penandatanganan tersebut dilakukan oleh Chief Executive Officer (CEO) Pertamina NRE Dannif Danusaputro, Direktur Pengembangan Usaha PT Krakatau Steel Purwono Widodo mewakili Direktur Utama (Dirut) PT Krakatau Steel Silmy Karim, dan CEO IGNIS Energy Holdings Antonio Sieira Mucientes.

Adapun kegiatan penandatanganan itu disaksikan oleh Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) I Pahala N Mansury serta Direktur Strategi, Portofolio, dan Pengembangan Usaha Pertamina A Salyadi Dariah Saputra.

Dannif Saputro mengatakan, pihaknya antusias bekerja sama dengan Krakatau Steel guna mengkaji pengembangan green industrial port melalui penyediaan EBT.

“Ada beberapa potensi energi terbarukan yang bisa dimanfaatkan, antara lain wind power, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), dan hidrogen bersih,” ujar Dannif dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Rabu (19/10/2022).

Pertamina NRE, lanjut Dannif, juga menyambut baik kolaborasi perseroan dengan IGNIS dalam pengembangan green industrial port.

“Kami berharap, studi bersama tersebut dapat berlanjut ke tahapan yang lebih konkret,” kata Dannif.

Pada kesempatan sama, Purwono Widodo menyampaikan pesan Silmy Karim bahwa penandatanganan perjanjian studi bersama (PSB) itu merupakan tahap awal penjajakan terkait potensi produksi blue and green hydrogen untuk kawasan industri, penyediaan energi bersih, dan potensi kerja sama lainnya yang melibatkan Krakatau Steel dan Group.

Feasibility study akan dilakukan setelah tim gabungan PSB terbentuk. Kami pun akan segera menyusun roadmap pengembangan EBT di kawasan industri Krakatau Steel. Dengan melibatkan para ahli di bidangnya, saya yakin pengembangan EBT di kawasan industri Krakatau Steel akan menjadi nilai tambah bagi Krakatau Steel dan Group yang mengusung pengembangan green steel untuk ke depan,” ujarnya. 

Untuk diketahui, ketiga entitas tersebut akan menyusun pre-feasibility study dan feasibility study untuk membangun blue and green hydrogen plant di wilayah industri Krakatau Steel. Dengan begitu, wilayah industri tersebut akan terintegrasi dengan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) lepas pantai dan PLTS.

Pengembangan blue and green hydrogen plant itu diperkirakan mampu memproduksi listrik mulai dari 500 megawatt peak (MWp) hingga 1,5 gigawatt peak (GWp) dengan potensi penyimpanan karbon dioksida (CO2) sebesar 61 million metric ton.

Pertamina NRE juga berkomitmen untuk mengimplementasikan aspek environment, social, and governance (ESG) dalam aktivitas bisnis serta mendukung penuh pencapaian target nasional net zero emission (NZE) 2060.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau