Advertorial

Disiplin Atur Keuangan, BRI Ajak Masyarakat Berinvestasi

Kompas.com - 21/10/2022, 16:23 WIB

KOMPAS.com – Seiring kondisi ekonomi yang semakin menantang, masyarakat perlu disiplin dalam mengatur keuangan personal.

Setidaknya, terdapat dua tantangan ekonomi global saat ini, yakni inflasi global serta ancaman krisis pangan dan energi. Kondisi ini merupakan imbas konflik geopolitik antara Rusia dan Ukraina.

Direktur Bisnis Konsumer PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI Handayani mengatakan, masyarakat perlu melakukan financial check-up dengan memperhatikan alokasi dana darurat.

Hal itu ia sampaikan dalam acara literasi rutin yang digelar oleh BRI, yakni Diskusi Taman BRI. Acara bertema “Personal Financial Management” ini digelar di Jakarta, Rabu (12/10/2022).

Menurut Handayani, instrumen likuid, seperti tabungan, yang selama ini digunakan sebagai dana darurat untuk 6-12 bulan, kini perlu diperpanjang untuk 12-24 bulan ke depan.

Dengan memperpanjang alokasi dana darurat, masyarakat dapat memilih instrumen term deposit atau Surat Berharga Negara (SBN).

“Karena itu, (SBN) dijamin 100 persen yang bisa ada windows-nya. (Instrumen ini memungkinkan) masyarakat untuk menjualnya di secondary market yang bersifat likuid. SBN ORI022 juga perlu menjadi perhatian,” ujar Handayani dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Jumat (21/10/2022).

Untuk diketahui, acara tersebut dihadiri Kepala Sub-Direktorat Pengembangan dan Pendalaman Pasar Surat Utang Negara Direktorat Surat Utang Negara Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Chandra A S Wibowo dan Direktur Keuangan Bank Raya Indonesia sekaligus Ketua Umum Perhimpunan Pedagang Surat Utang (Himdasun) Akhmad Fazri

Handayani menjelaskan, berinvestasi pada instrumen Obligasi Negara Retail (ORI) bisa dimulai dari nominal Rp 1 juta. Masyarakat dapat mengalokasikan dana darurat untuk membeli SBN dengan tenor kategori menengah.

Adapun ORI022 merupakan instrumen keuangan yang dijamin oleh pemerintah dapat menjadi alternatif investasi tepat dan andal.

Ia pun mengimbau masyarakat untuk tetap bijak sehingga tidak terburu-buru untuk memilih instrumen investasi. Utamanya, instrumen bersifat high risk high return yang tidak dijamin oleh negara.

“Pengelolaan keuangan menjadi penting, termasuk pemahaman tentang alokasinya. Saya sampaikan bahwa mengelola aset itu tidak perlu jadi kaya raya dulu. Hal yang perlu dilakukan adalah memastikan diri ketika memiliki penghasilan dari gaji harus disiplin mengalokasikan dana darurat,” terangnya.

Handayani melanjutkan, setelah rutin melakukan financial check-up dan dana darurat mencukupi, langkah selanjutnya adalah mengalokasikan dana untuk perencanaan jangka panjang. BRI pun telah menyiapkan instrumen investasi yang mumpuni bagi nasabah BRI.

Selain itu, kata Handayani, BRI juga memiliki superapps BRImo yang memungkinkan nasabah membuat keputusan untuk mengubah pola perencanaan keuangan.

“Mengalihkannya dari instrumen satu ke instrumen keuangan lain. Misalnya, dari tabungan ke instrumen lain, atau sebaliknya. Hal ini bisa dilakukan kapan saja melalui aplikasi BRImo. Dengan adanya BRImo, kini semuanya menjadi lebih gampang,” imbuhnya.

Investasi harus legal dan logis

Senada dengan Handayani, Chandra mengungkapkan bahwa berinvestasi harus legal dan logis. Oleh karena itu, pemerintah menerbitkan salah satu instrumen investasi bagi masyarakat, yaitu ORI022 yang merupakan bagian dari SBN Retail.

Chandra menjelaskan, ORI022 dijamin oleh pemerintah serta pembayaran kupon dan pokoknya dijamin Undang-Undang Surat Utang Negara dengan risiko gagal bayar sangat kecil.

Karakteristik ORI022 berikutnya, yakni memiliki rate yang menguntungkan dan lebih kompetitif jika dibandingkan instrumen investasi sejenis. Selain itu, ORI022 mudah diakses bagi masyarakat Indonesia.

“Sejauh ini, berdasarkan penjualan SBN Retail, komposisi investor generasi milenial cukup mendominasi mencapai 40 persen. Kami berharap, tren ini terus berlanjut sehingga Indonesia bisa meraih kemandirian pembiayaan dalam pembangunan,” kata Chandra.

Pada kesempatan sama, Akhmad mengatakan bahwa berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), pertumbuhan nasabah individual meningkat pesat, terutama setelah pandemi Covid-19.

Untuk diketahui, lanjut Akhmad, jumlah investor individual pasar modal saat ini mencapai sekitar 7,48 juta. Jumlah tersebut meningkat signifikan, terutama pada dua tahun terakhir.

Hal itu terjadi seiring dengan kepemilikan nasabah investor individual surat berharga yang semakin meningkat. Sedikitnya, terdapat 60 persen nasabah capital market berusia di bawah 30 tahun. Meski secara nominal investasi mereka relatif kecil, hal ini menunjukkan bahwa kesadaran generasi muda terhadap investasi semakin baik.

Di sisi lain, lanjut Akhmad, kebutuhan nasabah juga semakin tinggi sebagaimana tertuang dalam data KSEI. Generasi muda pun semakin melek investasi.

"Pertumbuhan capital market pun luar biasa. Demikian pula surat berharga dengan pertumbuhan yang sangat signifikan. Tentunya, BRI Group akan terus memanfaatkan kebutuhan-kebutuhan nasabah melalui layanan-layanan yang sudah disediakan,” kata Akhmad.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau