Advertorial

Alihkan Budi Daya Ganja, BNN dan 50 Petani Tanam Jagung di Aceh

Kompas.com - 27/10/2022, 17:27 WIB

KOMPAS.com - Deputi Pemberdayaan Masyarakat Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN) Tagam Sinaga bersama para pemangku kepentingan melakukan penanaman jagung hibrida di lokasi pilot project Gampong Meunasah Bungo, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen, Aceh, Selasa (25/10/2022).

Kegiatan tersebut merupakan salah satu bagian rangkaian Grand Design Alternative Development (GDAD). Sebanyak 50 petani terlibat dalam kegiatan yang dilakukan di lahan seluas 5 hektare (ha) itu.

Sebagai informasi, GDAD merupakan buah dari sinergi antara BNN dan pemerintah daerah (pemda). Program ini memberikan pendampingan masyarakat dalam budi daya komoditas alternatif sebagai pengganti tanaman terlarang, seperti ganja.

Pada kesempatan itu, Tagam mengapresiasi keseriusan jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh dalam mengembangkan program GDAD yang telah didesain BNN sejak 2016. Adapun program ini mulai diimplementasikan di Kabupaten Bireuen pada 2018.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada jajaran Pemprov Aceh, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen, BNN Provinsi Aceh, Camat Peudada, Keuchik Meunasah Bungo, serta para petani yang telah serius mengembangkan program GDAD. Mereka mampu mengembangkan usaha taninya yang semula berasal dari bantuan pemerintah dan sekarang sudah dapat mandiri,” ujar Tagam dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (27/10/2022).

Pada kesempatan sama, Sekretaris Daerah (Sekda) sekaligus Pelaksana Harian Bupati Bireuen Ibrahim Achmad mengatakan, kesuksesan program GDAD di Bireuen merupakan wujud nyata sinergi seluruh komponen bangsa, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Ia berpesan kepada jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) di Kabupaten Bireuen untuk terus mengawal program GDAD.

“OPD Kabupaten Bireuen harus bekerja sama dengan penuh tanggung jawab guna mewujudkan masyarakat Kabupaten Bireuen yang maju, sehat, cerdas, serta sejahtera tanpa narkotika,” ujar Ibrahim.

Sebagai informasi, program GDAD yang akan berjalan hingga 2025 diimplementasikan untuk mengurangi kultivasi ganja. Hal ini bertujuan untuk menurunkan angka prevalensi penyalahgunaan narkotika serta mengakselerasi upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).

Salah satu upaya yang dilakukan BNN adalah menyinergikan instansi pemerintah, dunia usaha, akademisi, serta organisasi masyarakat (ormas) dalam percepatan pembangunan di Provinsi Aceh. Pasalnya, kawasan ini merupakan wilayah yang terdampak kultivasi tanaman narkotika.

Adapun tujuan program GDAD adalah pengalihan budi daya ilegal ganja dengan komoditas alternatif. Dengan demikian, masyarakat Aceh yang bersih dari penyalahgunaan dan peredaran narkotika, sejahtera, mandiri, serta berkelanjutan dapat terwujud.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau