Advertorial

Pertamina Tingkatkan Kapasitas Geotermal untuk Capai Target Pengurangan Emisi

Kompas.com - 09/11/2022, 17:26 WIB

KOMPAS.com – PT Pertamina (Persero) berupaya meningkatkan kapasitas energi panas bumi atau geotermal untuk mencapai target pengurangan emisi karbon.

Chief Executive Officer (CEO) Pertamina Geothermal Energy (PGE) Ahmad Yuniarto mengatakan, Pertamina mendukung langkah pemerintah Indonesia untuk mencapai nol emisi karbon atau net zero emission (NZE) pada 2060.

Untuk memenuhi target tersebut, Pertamina akan menjalankan sejumlah langkah, seperti melakukan dekarbonisasi dan bisnis hijau, termasuk pengembangan kapasitas geotermal.

“Akan terjadi pengurangan emisi karbon secara signifikan saat eksekusi dilakukan. Ini sesuai dengan yang tertuang di Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional terbaru terkait penambahan kapasitas terpasang geotermal di Indonesia. Kami juga memiliki kesempatan untuk melakukan pengurangan secara kumulatif hingga 1.200 juta ton emisi karbon ekuivalen," ujar Ahmad dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Rabu (9/11/2022).

Jumlah tersebut, lanjut Ahmad, merupakan potensi kontribusi yang besar dari sektor geotermal di Indonesia untuk pencapaian NZE. Maka dari itu, upaya ini perlu mendapatkan perhatian lebih.

Sebagai informasi, saat ini, PGE mengelola 13 wilayah kerja geotermal dengan kapasitas terpasang 1.877 megawatt (MW) di Indonesia.

Kapasitas tersebut terdiri dari 672 MW untuk dioperasikan dan 1.205 MW untuk dikelola dengan skenario kontrak operasi bersama. Jumlah ini mewakili 82 persen dari total kapasitas terpasang geotermal di Tanah Air.

Ahmad pun menyoroti peran penting geotermal untuk transisi energi dan mencapai kondisi nol karbon. Menurutnya, jejak emisi karbon pada geotermal 10 kali lipat lebih rendah jika dibandingkan pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar fosil.

Ahmad sebut jejak emisi karbon pada geotermal lebih rendah jika dibandingkan pembangkit listrik. Dok. Pertamina Ahmad sebut jejak emisi karbon pada geotermal lebih rendah jika dibandingkan pembangkit listrik.

"PGE berkomitmen untuk menambah kapasitas terpasang 600 megawatt dalam lima tahun ke depan. Lewat komitmen ini, Pertamina berpotensi untuk mengurangi 15,7 juta ton karbon dioksida (CO2) ekuivalen per tahun. Ini kontribusi yang besar. Pemerintah bisa sambil menguatkan baseload energi terbarukan di Indonesia," jelas Ahmad.

Tak hanya penambahan kapasitas terpasang geotermal, upaya pengurangan emisi juga dilakukan PGE dengan mendukung langkah rehabilitasi terhadap 588 hektare (ha) area hutan.

"Ini fakta yang tidak disadari banyak bahwa pengembangan geotermal juga bekerja (merehabilitasi) di hampir 600 ha," tuturnya.

Dalam menjalankan bisnisnya, PGE terus berkomitmen untuk mengembangkan panas bumi dan memastikan penerapan aspek environment, social, and governance (ESG) menjadi bagian terintegrasi dari bisnis panas bumi perusahaan.

Adapun penerapan aspek-aspek ESG merupakan upaya dalam memberikan nilai tambah dan dukungan PGE pada program pemerintah. Utamanya, terkait pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) yang ramah lingkungan seperti panas bumi.

Selain itu, komitmen tersebut juga ditunjukkan PGE melalui pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) sesuai target ke-7 mengenai energi bersih dan terjangkau, target ke-12 mengenai konstruksi dan produksi yang bertanggung jawab, target ke-13 mengenai penanganan perubahan iklim, serta target ke-15 mengenai ekosistem darat.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau