Advertorial

Ekonomi Kerakyatan Wali Kota Eri Sukses Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi Surabaya hingga 7,17 Persen

Kompas.com - 12/12/2022, 14:53 WIB

KOMPAS.com - Program ekonomi kerakyatan yang dikembangkan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menjadi kunci utama kebangkitan ekonomi Surabaya yang sempat terpuruk di masa pandemi Covid-19.

Pada 2020, pertumbuhan ekonomi Surabaya terpuruk di angka minus 4,85 persen. Pada 2021, pertumbuhan ekonomi meningkat tajam hingga mencapai 4,29 persen atau meningkat sekitar 8 persen. Selanjutnya, pada 2022, naik lagi ke angka 7,17 persen atau naik sekitar 3 persen.

“Alhamdulillah, pertumbuhan ekonomi Surabaya terus meningkat hingga mencapai 7,17 persen, dan (angka pertumbuhan) itu lebih tinggi dari Jawa Timur (Jatim) dan nasional. Artinya, sinergi kuat yang kami bangun bersama semua stakeholder di Surabaya melalui program ekonomi kerakyatan terbukti berhasil,” ujar Eri dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (12/12/2022).

Selama beberapa tahun terakhir, lanjutnya, Surabaya sudah menerapkan program ekonomi kerakyatan. Dalam program ini, semua kebutuhan di Surabaya dipenuhi oleh pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan toko kelontong yang tersebar di berbagai penjuru kota.

Ia mencontohkan, kebutuhan batik dan seragam batik untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dan siswa sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP) memakai buatan UMKM Surabaya.

Saat ini, Pemkot Surabaya juga memanfaatkan platform digital dengan membuat e-commerce pemerintahan pertama di Indonesia, yaitu e-Peken Surabaya.

Pada aplikasi tersebut, ada sekitar 500 pedagang toko kelontong yang menyediakan berbagai kebutuhan pokok.

UMKM jahit penuhi kebutuhan masyarakat Surabaya. 

Dok. Pemkot Surabaya UMKM jahit penuhi kebutuhan masyarakat Surabaya.

Konsumumen tetap platform tersebut adalah para ASN Pemkot Surabaya yang diwajibkan membeli semua kebutuhan pokok dari aplikasi e-Peken. Bahkan, e-Peken kini sudah dibuka untuk publik sehingga semua orang bisa ikut berbelanja di e-commerce ini.

“Sejumlah toko di e-Peken itu omzet transaksinya bahkan ada yang meningkat 500 persen lebih. Hal ini akan sangat membantu masyarakat (ekonomi) bawah. Dengan demikian, perekonomian terus berputar,” kata Eri.

Selain e-Peken, Pemkot Surabaya juga terus mengembangkan program padat karya yang disebar di seluruh kecamatan di Kota Surabaya. Program ini berbeda-beda di setiap kecamatan, tergantung potensi di setiap wilayah.

Eri menjelaskan bahwa program padat karya tersebut banyak memanfaatkan lahan tidur atau lahan Bekas Tanah Kas Desa (BTKD) di setiap kecamatan. Program ini melibatkan sektor pertanian dan nonpertanian.

"Padat karya (hadir) untuk memancing masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) Surabaya agar mau bekerja dan berusaha. Ketika sudah bekerja, kami pastikan mereka mendapatkan pendapatan yang layak, yakni sebesar Rp 2-3 juta per bulan. Bahkan, padat karya industri paving dan jahit sudah ada yang meraih pendapatan sampai Rp 6 juta per bulan," ujarnya.

Saat ini, kata Eri, program padat karya yang tersebar di seluruh Surabaya sudah banyak menyerap tenaga kerja. Terlebih, ketika Pemkot Surabaya merealisasikan program Dandan Omah, para pekerjanya diambil dari warga sekitar sehingga warga pengangguran bisa ikut bekerja dengan program yang dilakukan oleh pemkot.

Dengan berbagai program tersebut, tidak heran jika Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Surabaya pada 2022 menurun 2 persen dari tahun sebelumnya menjadi 7,62 persen.

Sebagai informasi, angka pengangguran terbuka di Surabaya naik drastis pada 2019 di angka 5,76 persen. Saat pandemi Covid-19 pada 2020, angkanya meningkat menjadi 9,79 persen. Selanjutnya, pada 2021 angka TPT kembali turun menjadi 9,68 persen.

Rumah padat karya. 

Dok. Pemkot Surabaya Rumah padat karya.

“Tujuan akhir program padat karya adalah mengentas kemiskinan di Kota Surabaya. Maka dari itu, saat mengembangkan padat karya, semua pihak saya minta tidak hanya meninggalkan ego sektoral, tetapi juga harus memiliki kebersamaan dan gotong royong. Dengan demikian, ekonomi kerakyatan setempat bisa digerakkan.” kata Eri.

Ia pun bersyukur bahwa program padat karya tersebut sudah menjadi percontohan nasional untuk mengentas kemiskinan.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian, dan Pengembangan (Bappedalitbang) Kota Surabaya Febrina Kusumawati mengatakan bahwa salah satu fokus Pemkot Surabaya pada 2022 adalah pemulihan ekonomi dan mengatasi pengangguran yang meningkat akibat pandemi Covid-19.

Hal itu diwujudkan dengan penguatan sektor UMKM, pemulihan wisata, dan program padat karya.

“Alhamdulillah, program itu berhasil. Terbukti, pertumbuhan ekonomi Surabaya yang saat ini mencapai 7,17 persen, meningkat 3 persen. Angka itu melebihi Jatim dan nasional. Di satu sisi, TPT Surabaya juga turun 2 persen karena sudah banyak yang kerja, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Surabaya juga naik menjadi 82,74,” ujarnya.

Menurutnya, semua hal tersebut saling berkaitan. Program yang dilakukan Pemkot Surabaya pun menjadi bukti nyata bahwa ekonomi kerakyatan yang digagas oleh Wali Kota Eri berhasil sukses.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau