Advertorial

Kelezatan Randang Padang hingga ke Eropa

Kompas.com - 03/04/2023, 14:00 WIB

KOMPAS.com – Ketenangan yang dibawa gemericik hujan berbanding terbalik dengan keriuhan sebuah dapur di Pasaraya Blok III Lantai 3, Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar). Para Srikandi Koperasi Wanita Ikatan Ahli Boga (Kopwan IKABOGA) masih berkutat dengan beberapa kuali berisi puluhan kilo daging sapi yang akan diolah menjadi Subana Bana Randang. Produk rendang unggulan inilah yang membawa Kopwan IKABOGA ke manca negara.

Sejak menduduki peringkat teratas World’s 50 Delicious Food versi CNN Internasional pada 2021, rendang menjadi sajian yang memiliki nilai usaha tinggi. Siti Nurbaya atau Bu Ning merupakan anggota Kopwan IKABOGA yang gencar memasarkan rendang.

Berawal dari lima orang yang mencoba peruntungannya di dunia kuliner pada 2006, Kopwan IKABOGA pun terbentuk. Bermodal nekat membuat rendang yang menggugah selera, event “Merendang” di Padang pada 2014 seakan menjadi titik balik bisnis mereka.

Sejak saat itu, rendang yang diproduksi Kopwan IKABOGA berkisar antra satu hingga 3 kg per bulan. Mereka pun pernah mendapat bantuan dari pemerintah yang dipergunakan untuk menyewa sebuah galeri untuk branding.

Namun, bisnis tidak selamanya meraup untung. Terkadang, Kopwan IKABOGA juga pernah merugi akibat strategi yang kurang bersinergi. Kala itu, tak ada merek bersama yang dikembangkan sebagai produk unggulan.

Alhasil, perang bisnis pun memaksa Kopwan IKABOGA “menggulung tikar”. Galeri yang baru berusia 3 bulan harus tuutp.

Kegagalan itu membuat para anggota berupaya memformulasikan resep bersama yang otentik khas Sumatera Barat pada 2016.

Ketika Kopwan IKABOGA sedang menapaki usahanya, tepatnya pada 2020, pandemi Covid-19 mengguncang Indonesia. Imbasnya, kelompok rendang uty hampir tak bertahan.

Selama 6 bulan, tak ada pesanan yang berakibat pada penurunan omzet karena nihilnya pemasukan. Bu Ning menuturkan, awal pandemi merupakan tantangan terberat dan mereka harus mencoba segala cara.

“Mulai dari menawarkan pada kerabat hingga menjual makanan melalui platform ojek online dan digital. Ditambah pemerintah juga mulai membuka aturan pengetatan. Cara itu ternyata cukup efektif menggerakan kembali produksi dan kelompok rendang untuk membayarkan kredit yang sempat macet,” kata Bu Ning dalam keterangan pers yang diterima Kompas.com, Minggu (2/4/2023).

-Dok. Askrindo -

Alhasil, olahan rendang yang dikenal dengan merek Subana Bana Randang membuat omzet perlahan merangkak. Hingga akhir 2022, keuntungan Subana Bana Randang bakan mencapai Rp 241 juta

Setelah beradaptasi dengan pandemi, produk Kopwan IKABOGA JUGA dilirik untuk mengikuti berbagai pameran, mulai dari pameran makanan di Mandalika hingga ke luar negeri seperti Shanghai.

Pada penghujung 2022, kelompok itu juga mendapat permintaan mengekspor yang mencapai satu ton atau setara 1.000 bungkus bumbu rendang ukuran 250 gr ke Norwegia. Berkat peluang ekspor ini, omzet Kopwan IKABOGA pun terus meningkat secara signifikan, yaitu mencapai Rp 341 juta per tahun.

Melejitnya Subana Bana Randang yang konsisten memanjakan lidah penikmatnya membuat Kopwan IKABOGA ditunjuk mengikuti pameran makanan Umami Arena, di Lillestorm, Norwegia, pada 2023. Pameran ini pun mendatangkan permintaan ekspor sebanyak satu kontainer atau sekitar 4 ton bumbu rendang ke negara itu.

Dukungan Askrindo untuk UMKM

Perkembangan Subana Bana Randang tak lepas dari kemudahan akses permodalan usaha bagi penggiat usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Melalui Program Pendanaan Usaha Mikro dan Kecil (PUMK) Askrindo, Kelompok Rendang Kopwan IKABOGA mendapatkan pinjaman modal usaha sebesar Rp 500 juta untuk mengembangkan bisnis mereka.

Selain itu, menjadi Mitra Binaan Askrindo sejak 2018 membuat Kopwan IKABOGA mendapat kemudahan akses permodalan untuk meningkatkan jumlah produksi.

Direktur Utama Askrindo Priyastomo mengatakan, Askrindo juga memberikan sarana dan prasarana untuk menunjang produksi Mitra Binaan Askrindo. Selain itu, pihaknya juga memberikan pendampingan usaha.

"Strategi ini merupakan salah satu bentuk dukungan serta pendampingan untuk memastikan Mitra Binaan Askrindo bisa naik kelas secara bertahap, bahkan dapat mengembangkan bisnis hingga ekspor ke mancanegara. PUMK Askrindo disiapkan untuk mengakomodasi para UMKM di Indonesia agar bisa tumbuh semakin pesat," ujar Priyastomo.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau