Advertorial

Harga Jagung dan Telur Meroket, Ini Upaya Mendagri Kendalikan Harga Komoditas

Kompas.com - 29/05/2023, 18:42 WIB

KOMPAS.com - Kenaikan harga telur yang cukup tinggi pada beberapa waktu terakhir menjadi perhatian pemerintah pusat.

Hal itu diutarakan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian (Kemendagri) dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2023 yang digelar secara hibrida dari Gedung Sasana Bhakti Praja (SBP), Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Senin (29/5/2023).

Pada kesempatan tersebut, Tito menjelaskan sejumlah faktor penyebab kenaikan harga telur ayam ras.

"(Penyebab) kenaikan harga telur ayam ras adalah kenaikan demand (permintaan) seiring dengan adanya kegiatan hajatan. Selain itu, peningkatan harga pakan ayam, utamanya jagung," ujar Tito dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (29/5/2023).

Untuk menstabilkan harga jagung, lanjut Tito, diperlukan rapat koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah (pemda). Sinergisitas ini dilakukan untuk mencari solusi terbaik agar harga komoditas tersebut kembali normal.

Selain itu, pihaknya juga mengimbau kepada setiap pemda untuk memperhatikan distribusi hasil panen jagung. Pasalnya, saat ini masih ada beberapa wilayah yang mengalami defisit hasil panen jagung.

"Perlu upaya konkret untuk menstabilkan harga jagung. Adapun daerah yang mengalami surplus jagung dapat didorong hasil produksinya (untuk didistribusikan) ke daerah yang minus (atau) defisit,” paparnya.

Menurut Tito, upaya tersebut dapat dilakukan melalui bantuan kementerian atau lembaga pusat, serta kerja sama antardaerah oleh setiap kepala daerah.

Selain itu, lanjut dia, pedagang jagung dapat dibantu melalui subsidi transportasi dari Anggaran Belanja Tidak Terduga.

“Sebab itu, kerja sama antara pemerintah pusat dan pemda sangat diperlukan,” kata Tito.

Sementara, Tito menambahkan, guna menekan kenaikan harga telur, Kementerian Perdagangan (Kemendag) perlu memberikan dukungan terhadap kerja sama antardaerah. Bila perlu, pemerintah pusat melalui Kemendag bisa mengeluarkan cadangan pangan.

"Misalnya, kalau (harga) telur ayam ras dan daging ayam ras naik karena harga jagung meningkat, cadangan (yang tersedia di) Bulog bila perlu dikeluarkan," tambahnya.

Menurut Tito, hal itu perlu menjadi perhatian seluruh pihak. Pasalnya, telur merupakan kebutuhan pokok masyarakat.

Oleh karena itu, Mendagri menekankan agar permasalahan tersebut dapat segera diselesaikan.

"Pertama adalah telur ayam ras yang terjadi kenaikan selama enam bulan terakhir. (Permasalahan) ini perlu menjadi warning bagi seluruh pihak karena telur ayam ras adalah salah satu kebutuhan mendasar yang turunannya banyak sekali," kata Tito.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau