Advertorial

Hari Raya Idul Adha Segera Tiba, Ini Cara Memotong Daging Sapi agar Empuk Saat Diolah

Kompas.com - 21/06/2023, 10:10 WIB

KOMPAS.com – Umat muslim biasa mengolah sajian daging sapi atau kurban saat Hari Raya Idul Adha 2022. Daging kurban pun bisa disajikan menjadi berbagai hidangan yang nikmat dan lezat, seperti rawon, semur, sate, sop daging, iga bakar, empal daging, serta bistik.

Meski demikian, memotong daging sapi membutuhkan keterampilan khusus. Pasalnya, cara potongan daging sapi yang salah akan memengaruhi teksturnya dan membuatnya menjadi keras begitu dimasak. 

Executive Chef Hotel Tentrem Yogyakarta Philip Walasary mengatakan, teknik memotong daging berpengaruh terhadap hasil akhir olahan daging.

"Keras atau tidaknya daging (sebenarnya juga) tergantung dari bagian daging sapi tersebut, entah prime cutsecondary cut, atau tersier cut," kata Philip dikutip dari pemberitaan Kompas.com, Selasa (13/7/2021).

Philip menjelaskan, prime cut terdiri dari sirlointenderloin, serta rib eye. Bagian ini banyak diminati masyarakat. Sementara itu, secondary cut merupakan sapi bagian atas dan buntut sapi. Terakhir, tersier cut. Bagian ini merupakan isian dalam sapi, seperti jeroan, kaki, kuping, pipi, paru babat, usus, kikil, dan jantung.

Tak hanya itu, kualitas sapi juga berpengaruh terhadap keempukan daging. Kualitas sapi yang dibiarkan tidak stres sebelum dipotong juga berbeda ketimbang sapi pekerja.

"Sapi lokal kerap dibiarkan jalan kemana-mana sehingga dagingnya berotot. Akibatnya, daging jadi keras,” ujarnya.

Saat Idul Adha, daging kurban biasanya berasal dari sapi lokal. Meski punya tekstur yang agak keras, selama mengetahui cara memotong dan mengolahnya, Anda tetap bisa menikmati daging sapi yang empuk.

Nah, berikut trik dan tahapan memotong daging sapi agar empuk saat diolah.

  1. Buang selaput putih pada daging

Kamu yang terbiasa mengolah daging sapi pasti terbiasa melihat selaput putih yang membalut daging sapi. Selaput ini disebut sebagai jaringan ikat (connective tissue).

Sebelum memotong daging sapi, pastikan untuk membuang selaput putihnya.

"Banyak orang yang tidak dibuang dulu connective tissue-nya. Selaput putih itu harus dihilangkan dahulu (agar daging sapi menjadi empuk)," kata Philip.

  1. Buang urat daging

Selain selaput putih, urat daging juga harus dibuang terlebih dahulu dan sebaiknya tidak digunakan . Philip mengatakan, urat yang melekat pada daging dapat menyebabkan olahan daging menjadi keras.

  1. Potong melawan arah serat

Setelah membersihkan selaput putih dan urat pada daging, daging sapi bisa langsung dipotong dengan melawan arah serat.

Philip menjelaskan, memotong daging dengan arah berlawanan dari serat bertujuan membuat serat menjadi lebih pendek. Dengan serat lebih pendek, daging menjadi lebih mudah saat dikunyah.

“Kalau seratnya panjang-panjang, daging susah dikunyah,” ujar Philip.

Kamu perlu tahu, mulai dari membuang selaput putih, urat, hingga memotong daging sapi memerlukan pisau yang tajam. Ini karena daging sapi punya tekstur lebih keras dibandingkan daging lain, seperti ayam atau ikan. 

Untuk itu, kamu bisa mendapatkan pisau daging dan pengasah pisau di TokopediaE-commerce berlogo hijau ini juga menyediakan berbagai macam pisau dapur dan peralatan memasak lainnya. Kamu juga berkesempatan berbelanja lebih hemat karena Tokopedia kerap menyediakan berbagai promo menarik.

Setelah melakukan tahapan-tahapan tersebut, daging bisa dibumbui dengan beberapa bahan. Sebagai informasi, cara mengolah juga memengaruhi empuk tidaknya daging sapi. 

Philip mengatakan bahwa tambahan garam dan bahan yang mengandung asam (acid) dapat memperlunak daging.

"Acid dapat memecah kolagen pada daging. Daging sapi bisa direndam pakai nanas yang telah diblender, lemon, serta daun pepaya (sebagai contoh bahan-bahan yang mengandung acid)," tambah Philip.

Dengan mengetahui cara memotong dan mengolah daging sapi, kini kamu siap memasak daging kurban menjadi olahan lezat untuk keluarga.

Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau