Advertorial

Ini Alasan Gubernur Sulsel Andi Sudirman Dapat Penghargaan Satyalancana Wira Karya

Kompas.com - 22/06/2023, 13:38 WIB

KOMPAS.com - Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Andi Sudirman Sulaiman mendapatkan penghargaan Satyalancana Wira Karya dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Penghargaan tersebut diberikan pada Pekan Nasional (Penas) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) XVI 2023 yang digelar di Kota Padang, Sumatera Barat, Sabtu (10/6/2023).

Pemberian penghargaan Satyalancana Wira Karya kepada Gubernur Andi bukan tanpa alasan. Gubernur termuda di Indonesia tersebut dianggap mampu menjaga ketahanan pangan di Indonesia, termasuk menjadikan suplai beras di Sulsel mengalami surplus.

Penilaian tersebut terbukti setelah melalui rangkaian validasi, justifikasi, dan verifikasi lapangan oleh Tim Kepresidenan melalui Biro Tanda Jasa dan Kehormatan terkait Program Mandiri Andalan di Bidang Pertanian.

Menurut hasil penilaian, Program Mandiri Benih yang diinisiasi Gubernur Andi sukses meningkatkan kemajuan sektor pertanian di Sulsel, terutama untuk komoditas padi. 

Melalui program tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) mampu menyediakan program benih padi gratis untuk 100.000 hektare perkebunan dan memenuhi 25 persen cadangan beras Badan Urusan Logistik (BULOG). Selain itu, program tersebut juga menjadikan Sulsel sebagai wilayah dengan surplus beras tertinggi nasional dengan jumlah 2,08 juta ton pada 2022.

Program Mandiri Benih pun kembali berlanjut pada 2023. Dengan demikian, program tersebut secara total telah berjalan selama tiga tahun.

"Alhamdulillah, kami mendapatkan penghargaan Satyalancana Wira Karya dari Bapak Presiden. Ini tentu tidak lepas dari apa yang kita lakukan di Program Mandiri Benih," kata Gubernur Andi dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Minggu (11/6/2023).

-Dok. Pemprov Sulawesi Selatan -

Menurut Gubernur Andi, benih padi gratis yang disediakan oleh pihaknya melalui Program Benih Mandiri memiliki sejumlah keunggulan, seperti tidak membutuhkan banyak pupuk dan air, serta adaptif dengan tingkat pertumbuhan lebih dari 84 persen.

Selain itu, benih padi juga ditangkar di wilayah Sulsel, sehingga ketika ditanam di wilayah yang sama, benih dapat beradaptasi dan tumbuh dengan baik di tanah.

"(Kesuksesan program) ini tidak lepas dari peranan penyuluh, dinas pertanian terkait, kabupaten atau kota, seluruh masyarakat Sulsel, serta petani kita yang sudah berjuang keras selama 2022, di masa pandemi. Program ini juga akan kami teruskan pada 2023," imbuhnya.

Dalam pelaksanaan Program Benih Mandiri, kata Gubernur Adi, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel telah mengalokasikan Rp 30 miliar untuk menjangkau 100.000 hektare perkebunan. Dana tersebut diproyeksi dapat menghasilkan keuntungan hingga Rp 10 juta per hektar, dengan estimasi total hasil mencapai Rp 1 triliun.

"Ini investasi bukan kepentingan pribadi tetapi memikirkan rakyat, berinvestasi bersama rakyat," ujarnya.

Tak hanya itu, berkat perencanaan yang matang dan beragam manfaat yang positif, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Republik Indonesia juga berencana akan menjadikan Program Mandiri Benih sebagai program nasional.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau