Advertorial

Sambut Idul Adha 1444 Hijriah, Tito Karnavian Serahkan Hewan Kurban dari Jajaran Kemendagri dan BNPP

Kompas.com - 27/06/2023, 08:46 WIB



KOMPAS.com – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menyerahkan secara simbolis hewan kurban dari jajaran Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) kepada Panitia Penyelenggara Idul Adha 1444 Hijriah di Lingkungan Kemendagri dan BNPP secara simbolis. 

Hingga Minggu (25/6/2023), tercatat hewan kurban yang berhasil dihimpun sebanyak 284 ekor. Rinciannya, 104 ekor sapi dan 180 ekor kambing. Jumlah ini diperkirakan bakal terus bertambah.

Tito mengatakan, kurban merupakan ritual tahunan bagi umat Muslim setiap perayaan Idul Adha. Ibadah ini dimulai dari mimpi Nabi Ibrahim yang mendapat perintah dari Allah SWT untuk menyembelih anaknya, yaitu Nabi Ismail.

“Mimpi tersebut diceritakan kepada Nabi Ismail. Kemudian, Nabi Ismail menyatakan kalau itu memang perintah Allah silakan Bapak laksanakan, dan itu dilaksanakan, meskipun Nabi Ismail adalah putra yang sangat disayanginya,” ujar Tito dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (26/6/2023).

 
Namun, ketika ritual itu hendak dilakukan, lanjut Tito, Allah SWT justru mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba.

Perintah itu rupanya merupakan sebuah ujian bagi ketaatan Nabi Ibrahim dan putranya terhadap Allah SWT.

“Jadi, kalau kita lihat esensi dari peristiwa itu lebih banyak urusannya kepada hablum minallah atau hubungan kepada Tuhan, kesetiaan kepada Tuhan, mengorbankan sesuatu yang paling disayangi. Hal ini kemudian berlanjut menjadi tradisi dari masa ke masa sebagai sunah muakad, yakni sunah yang paling tinggi di bawah fardu,” kata Tito.

Selain hubungan manusia dengan Tuhan, lanjut Mendagri, esensi ibadah kurban juga mencerminkan hubungan antarmanusia. Sebab, daging kurban nantinya bakal dibagikan kepada para mustahik yang merupakan bentuk kesetiakawanan sosial.

“Inilah yang kami lakukan sekarang ini ada dua, bagaimana melaksanakan ajaran Islam, uang yang kami kumpulkan kemudian dibelikan hewan kurban sebagai bentuk ibadah serta ketaatan juga loyalitas kepada Tuhan Allah SWT untuk memberikan yang terbaik. Kemudian, dagingnya dibagikan kepada yang lain (mustahik),” tandasnya.

Ia juga menjelaskan, banyaknya hewan kurban dapat membuat ketersediaan daging di pasaran melimpah.

Kondisi tersebut diharapkan mampu menurunkan laju inflasi. Pasalnya, perayaan hari raya kerap diwarnai dengan kenaikan harga barang dan jasa. Namun, dirinya meyakini harga daging sapi, kambing, dan domba bakal turun karena pada Idul Adha pasokan daging melimpah pada perayaan Idul Adha.

“Telur mungkin (harganya) naik, ayam mungkin (harganya juga) naik sehingga orang mikir-mikir juga (mau buat atau membeli) makanan, tapi khusus untuk daging sapi, kambing, dan domba, saya yakin akan turun karena terjadi over supply,” terangnya.

Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan terima kasihnya kepada panitia, pejabat Eselon I, dan pejabat terkait lainnya yang telah memobilisasi jajaran komponen Kemendagri dan BNPP untuk menunaikan ibadah kurban.

“Insya Allah ibadah kurban ini akan memperkuat iman kepada Allah SWT sehingga lebih kuat dan lebih imun menghadapi berbagai macam godaan,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Yusharto Huntoyungo selaku Ketua Panitia Penyelenggara Idul Adha 1444 Hijriah di Lingkungan Kemendagri dan BNPP mengatakan, penyembelihan hewan kurban akan dilaksanakan pada Sabtu (1/7/2023).

Sebanyak sembilan ekor sapi akan dibagikan kepada organisasi keagamaan. Kemudian, dibagikan pula ke masyarakat di tiga wilayah perbatasan, yakni Serasan Kepulauan Riau, Motaain, dan Wini Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan jumlah masing-masing satu ekor sapi.

“Daging hasil kurban (nantinya) didistribusikan kepada para mustahik yang telah terdata pada masing-masing komponen Kemendagri dan para pengkurban (orang yang berkuban),” jelasnya.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau