Advertorial

Harga Sejumlah Komoditas Meningkat di Sejumlah Daerah, Kemendagri Perkuat Koordinasi Lintas Kementerian dan Lembaga

Kompas.com - 11/07/2023, 16:33 WIB

KOMPAS.com - Kenaikan harga jagung, telur ayam ras, dan daging ayam ras di sejumlah daerah mendapatkan perhatian dari pemerintah.

Hal tersebut disampaikan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian pada Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi Daerah di Gedung Sasana Bhakti Praja Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Gambir, Jakarta Pusat, Senin (10/7/2023).

Mendagri menjelaskan bahwa saat ini, pihaknya telah menggelar rapat teknis dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, Badan Urusan Logistik (Bulog), serta asosiasi peternak dan petelur.

Rapat tersebut dilakukan untuk melihat lebih lanjut penyebab utama kenaikan harga sekaligus membahas langkah pengendalian harga ketiga komoditas tersebut. Pihaknya juga bakal menggelar rapat lanjutan, terutama untuk membahas rekonsiliasi data.

“Melalui rapat tersebut, kami ingin mengetahui penyebab melambungnya harga jagung, telur ayam ras, dan daging ayam ras. Apakah kenaikan harga disebabkan harga pakan atau masalah tata niaga yang melibatkan rantai distribusi, mulai dari produsen, distributor, hingga ke tingkat pengecer. Hal ini akan dibahas lebih lanjut pada Rabu,” tuturnya dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (11/7/2023).

Pada kesempatan sama, Deputi III Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas Andriko Noto Susanto memaparkan bahwa ada beberapa faktor yang mendorong kenaikan harga jagung.

Salah satunya, komoditas tersebut saat ini belum memasuki musim panen raya. Selain itu, panen yang tidak merata di seluruh Indonesia juga menyebabkan harga jagung melonjak.

Terkait hal tersebut, Andriko menambahkan bahwa pihaknya telah menyiapkan berbagai upaya mitigasi, seperti mendorong penggunaan cadangan pangan pemerintah.

"Semoga Bulog bisa segera merealisasikan kebijakan itu. Dengan demikian, Bapanas bisa melakukan intervensi saat harga jagung tinggi. Kami juga akan menghubungkan asosiasi peternak dengan produsen jagung di wilayah surplus," ujar Noko.

Sementara itu, terkait kenaikan harga daging ayam ras, salah satu penyebabnya adalah peningkatan permintaan seiring pulihnya kegiatan ekonomi masyarakat. Terdapat pula kenaikan harga input produksi yang mendorong kenaikah harga daging ayam ras, seperti jagung pakan, soya bean meal, serta bahan baku impor lain.

Sebagai upaya mitigasi, lanjut Noko, pihaknya mendorong pemanfaatan cadangan jagung pemerintah serta menghubungkan asosiasi peternak dengan asosiasi perusahaan daging ayam ras.

“Misalnya, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia (Arphuin), serta rumah potong lain (diinstruksikan untuk) membeli sesuai harga acuan dalam periode tertentu hingga harganya membaik," katanya.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau