Advertorial

PNM Fasilitasi Studi Banding untuk Kembangkan Kapasitas Usaha Nasabah

Kompas.com - 14/07/2023, 20:15 WIB

KOMPAS.com - PT Permodalan Nasional Madani (PNM) terus meningkatkan pemberdayaan kepada nasabah PNM Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar). Saat ini, PNM Mekaar memiliki 14,6 juta nasabah yang tersebar di 35 provinsi, 432 kabupaten dan kota, dan 6.018 kecamatan.

Keberhasilan PNM merupakan buah kerja nyata dan kolaborasi bersama. Hasilnya, nasabah PNM Mekaar mampu menggaungkan ekonomi kerakyatan.

Pada Senin (10/7/2023) hingga Rabu (12/7/2023), 12 nasabah PNM Mekaar melakukan studi banding ke JS Hidroponik, Bekasi, Jawa Barat. Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan edukasi dan ilmu baru kepada nasabah dalam dunia pertanian.

Kegiatan tersebut sejalan dengan tiga modal yang diberikan PNM kepada nasabahnya. Pertama, modal finansial. Modal ini diberikan melalui pembiayaan usaha produktif sebesar Rp 28,38 triliun kepada Nasabah PNM Mekaar hingga 31 Mei 2023.

Untuk modal sosial, PNM membangun kepedulian nasabah melalui jejaring usaha dan sinergi bisnis untuk membantu percepatan usaha. Selanjutnya, modal intelektual diberikan melalui berbagai pendampingan, seperti pelatihan, studi banding, serta berbagi info dan pengalaman.

Direktur Utama PT PNM Arief Mulyadi mengatakan, semua orang memiliki kemampuan dan kemauan untuk produktif. Ia menilai bahwa kendala terjadi karena mereka tidak mempunyai kesempatan dan akses.

“Untuk itu, PNM Mekaar mengaktualisasikan kemampuan produktif setiap orang. Upaya ini diwujudkan dalam bentuk pembelajaran edukasi dan literasi mengenai berwirausaha dengan baik,” ujar Arief dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Jumat (14/7/2023).

Sebagai informasi, studi banding itu merupakan program pemberdayaan yang dirancang melalui program Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU). Program ini secara khusus membahas cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah atau hidroponik. Kegiatan ini biasanya dikerjakan dalam kamar kaca dengan menggunakan medium air yang berisi zat hara.

Metode hidroponik sudah dikenal sebagai solusi bertani dalam mengatasi keterbatasan lahan atau tanah. Dengan demikian, metode ini cocok diterapkan di lingkungan rumah.

Tujuan penyelenggaraan kegiatan tersebut tidak terlepas dari komitmen pendampingan PNM dalam membangun hubungan emosional dan pendampingan usaha kepada pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Dengan demikian, pelaku UMKM bisa mendapatkan pengetahuan baru yang dapat berdampak pada kemajuan usaha. Pada akhirnya, nasabah PNM Mekaar dapat naik kelas.

Selain itu, fasilitas studi banding yang dilakukan PNM juga bertujuan untuk menciptakan akses bagi nasabah. Para nasabah yang datang dari berbagai pulau dapat berkumpul dan belajar bersama tanpa dikenakan biaya.

Kegiatan tersebut sudah ditunggu oleh nasabah PNM. Nasabah PNM asal Kendari, Sulawesi Tenggara, Indra Wati, merasa senang karena ilmu yang didapat dari studi banding tidak bisa didapatkan di sembarang tempat.

Ia berterima kasih kepada PNM karena berkesempatan mengikuti berbagai program pelatihan sejak bergabung menjadi nasabah PNM Mekaar.

“Pelatihan tersebut dapat menjadi bekal untuk mengembangkan usaha saya. Semoga saya bisa mengikuti studi banding berikutnya,” ujar Indra Wati.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau