Advertorial

Bedah Minimal Invasif, Teknik Modern untuk Tangani Nyeri Tulang Belakang

Kompas.com - 04/08/2023, 16:13 WIB

KOMPAS.com - Nyeri tulang belakang merupakan salah satu keluhan kesehatan yang sering dialami oleh banyak orang. Biasanya, orang yang mengalami gangguan kesehatan ini akan merasakan sakit di berbagai bagian tubuh, seperti punggung, bahu, pinggang, bokong, dan kerap menjalar hingga tangan atau kaki.

Penyakit tersebut disebabkan oleh banyak faktor. Beberapa di antaranya adalah cedera, pergerakan tubuh yang berlebihan, mengangkat benda berat, serta gangguan pada tulang belakang, saraf, organ dalam, atau pembuluh darah.

Secara umum, nyeri tulang belakang dapat dikategorikan menjadi tiga tingkatan, yaitu akut (berlangsung kurang dari 4 minggu), subakut (berlangsung 4-12 minggu), dan kronis (berlangsung lebih dari 12 minggu).

Pada tingkatan akut, penyakit tersebut biasanya dapat sembuh dengan sendiri atau dengan pengobatan sederhana. Namun, nyeri tulang belakang tingkatan subakut dan kronis dapat menandakan adanya masalah lebih serius dan membutuhkan penanganan medis lebih lanjut.

Gejala nyeri tulang belakang yang perlu diwaspadai

Nyeri yang dirasakan penderita gangguan kesehatan ini bisa beragam. Beberapa di antaranya adalah rasa nyeri yang menusuk atau seperti tersetrum listrik, nyeri yang menjalar ke tangan atau kaki, dan nyeri yang bertambah parah saat duduk, membungkuk, atau mengangkat beban berat.

Anda wajib waspada jika merasakan salah satu dari sensasi tersebut. Apalagi, bila memiliki riwayat cedera tulang belakang, mengalami demam, nyeri yang intens di area tertentu, gangguan fungsi saraf pada tungkai atau otot, buang air kecil (BAK) atau buang air besar (BAB) tidak lancar, serta berat badan menurun drastis tanpa sebab.

Jika gejala-gejala itu terjadi, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat.

Penyebab nyeri tulang belakang

Seperti telah disebutkan sebelumnya, nyeri tulang belakang dapat disebabkan oleh berbagai hal yang berkaitan dengan kondisi sekitar tulang belakang, saraf terjepit, gangguan organ dalam, atau gangguan pembuluh darah.

Selain itu, gangguan kesehatan tersebut juga bisa dipicu otot kaku, kerusakan bantalan tulang belakang, peradangan sendiri, dan pengeroposan. Kemudian, bisa pula disebabkan saraf terjepit akibat pergeseran tulang belakang serta gangguan organ abdomen dan pembuluh darah.

Di samping penyebab-penyebab tersebut, ada beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko nyeri tulang belakang, yakni kelainan tulang belakang, cedera, obesitas, hamil, usia di atas 30 tahun, dan pola hidup yang tidak sehat. 

Cara mengatasi nyeri tulang belakang

Nyeri tulang belakang yang ringan biasanya dapat diatasi dengan cara-cara sederhana, seperti istirahat cukup, kompres dengan air hangat atau dingin pada area yang nyeri, pijat lembut, peregangan otot, atau mengonsumsi obat pereda nyeri yang dijual bebas.

Sementara, untuk nyeri tulang belakang yang lebih berat atau berkepanjangan, regimennya berbeda. Selain mengonsumsi obat pereda nyeri, pasien akan diberikan obat pelemas otot dan obat penenang atau narkotik.

Pemberian obat dilakukan berdasarkan tingkat keparahan nyeri dan di bawah pengawasan dokter karena dapat menimbulkan efek samping atau ketergantungan.

Selain itu, penanganan nyeri tulang belakang secara lebih lanjut dapat dilakukan melalui tindakan medis, seperti pemberian obat injeksi antiradang, ablasi radiofrekuensi untuk menghambat saraf yang merangsang rasa nyeri, dan operasi tulang belakang.

Untuk membantu meningkatkan kekuatan dan kelenturan otot pasien nyeri tulang belakang, dokter juga akan merekomendasikan fisioterapi, akupunktur, penggunaan korset atau penopang tubuh, serta menganjurkan latihan fisik.

Terkait operasi, dokter spesialis ortopedi dan traumatologi konsultan tulang belakang Mayapada Hospital Surabaya, dr Rady Dwipayana, SpOT(K), menjelaskan, metode tersebut hanya dilakukan jika nyeri tulang belakang tidak kunjung membaik dan pasien memiliki kelainan struktur tulang belakang yang parah.

Meski begitu, lanjut Rady, pasien tidak perlu khawatir. Seiring perkembangan teknologi kedokteran, operasi pada tulang belakang dapat dikerjakan dengan luka sayatan yang jauh lebih kecil atau biasa disebut dengan minimal invasif.

“Bagi pasien, bedah minimal invasif untuk nyeri tulang belakang sangat menguntungkan karena luka operasi sangat minim sehingga risiko kerusakan jaringan menjadi lebih kecil. Selain itu, waktu operasi dan pemulihan pasien menjadi lebih singkat,” jelasnya dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Rabu (3/8/2023).

Sebagai informasi, Orthopedic Center Mayapada Hospital Surabaya menyediakan bedah minimal invasif untuk nyeri tulang belakang. Fasilitas ini memiliki dokter spesialis ortopedi konsultan spine (tulang belakang) serta tim medis yang melayani perawatan medis terintegrasi dan komprehensif untuk pasien nyeri tulang belakang atau kelainan tulang.

Untuk informasi lebih lengkap mengenai Orthopedic Center di Mayapada Hospital Surabaya, Anda bisa menghubungi call center Mayapada Hospital di nomor 150770.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau