Advertorial

Pagelaran Angklung Pecahkan Guinness World Record, Putra Nababan: Diplomasi Seni Budaya Indonesia kepada Dunia Internasional

Kompas.com - 07/08/2023, 19:43 WIB

KOMPAS.com - Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Putra Nababan mengaku bangga atas keberhasilan Indonesia menorehkan rekor dunia “Guinness World Record (GWR)” lewat pagelaran angklung massal yang diselenggarakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Sabtu (5/8/2023).

Adapun gelaran tersebut merupakan inisiatif Ibu Negara Iriana Joko Widodo melalui Organisasi Aksi Solidaritas Kabinet Indonesia Maju (OASE KIM). Sedikitnya, 15.000 pemain angklung berkumpul di Stadion Utama GBK memainkan alat musik tradisional tersebut bersama-sama.


"Capaian rekor dunia tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyosialisasikan alat musik serta budaya Indonesia di panggung internasional," ujar Putra dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (8/8/2023).

Untuk diketahui, pergelaran angklung kali ini diselenggarakan dalam rangka menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-78 Republik Indonesia. Seluruh seniman memainkan alat musik angklung tersebut selama tujuh menit tanpa henti melantunkan lagu “Berkibarlah Indonesiaku dan “Wind of Change”.


Di sisi lain, Putra menambahkan, pergelaran angklung tersebut merupakan salah satu langkah diplomasi budaya yang dilakukan pemerintah Indonesia kepada dunia internasional.

Adapun angklung adalah salah satu alat musik yang merupakan warisan nenek moyang dan budaya asli Bangsa Indonesia.

Oleh karenanya, pihaknya berharap, seluruh elemen bangsa dapat mendukung serta mendorong generasi muda untuk menghidupi kebudayaan Indonesia.

"Setiap kali saya berkunjung ke daerah pemilihan (dapil), saya selalu sampaikan kepada ibu-ibu untuk mendukung anak-anak mengembangkan budaya Indonesia karena itu akan bermanfaat buat mereka. Hal ini termasuk angklung dan pengenalan seni budaya asli Indonesia yang harus terus dilestarikan agar generasi muda semakin bangga dengan budayanya," kata Putra.

Putra menilai, pagelaran angklung menjadi salah satu instrumen penting untuk mengenalkan seni budaya Indonesia kepada dunia.

Selain itu, imbuh Putra, permainan angklung oleh 15.110 peserta di GBK sekaligus cara generasi muda mewujudkan rasa cinta kepada Tanah Air atas ragam budaya yang diwariskan nenek moyang.

"Sebagai Anggota Komisi X DPR RI yang salah satunya memiliki fokus terhadap kebudayaan, kami selalu mendorong para mitra kerja untuk melakukan kegiatan-kegiatan positif dan bermanfaat. Terutama, untuk memajukan budaya Indonesia," imbuhnya.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau