Advertorial

SpoGomi Menyapa Bandung, Serunya Olahraga yang Menggugah Kesadaran terhadap Sampah dan Lingkungan

Kompas.com - 21/08/2023, 18:23 WIB

KOMPAS.com - Kota Bandung, yang terkenal dengan semangatnya dalam merangkul inovasi lingkungan, kini menjadi tuan rumah acara olahraga unik yang disebut SpoGomi.

Nama tersebut berasal dari kata "SPO" yang berarti sport atau olahraga, dan "GOMI" yang berarti sampah dalam bahasa Jepang. Kegiatan yang ketiga kali diadakan di Indonesia ini berlangsung meriah di kampus Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Sabtu (19/8/2023).

Dalam bahasa Jepang, SpoGomi yang berarti olahraga memungut sampah, telah mencuri perhatian karena caranya yang unik untuk menggabungkan aktivitas fisik dengan kesadaran lingkungan. Kegiatan ini merupakan kompetisi pengumpulan sampah sebanyak mungkin untuk menjaga lingkungan tetap bersih.

Bermula di Jepang pada 2008, SpoGomi mulai dilaksanakan di Kota Bandung dengan tujuan meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya pengelolaan sampah yang baik.

Lebih dari 35 kelompok peserta SpoGomi dan 75 peserta lomba cosplay bertanding dengan seru selama perhelatan tersebut.

Sebagai informasi, perhelatan itu dihadiri oleh Wakil Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Tamura Misami; First Secretary Mission of Japan to ASEAN, Yamazaki Hisamichi; President Director PT Aeon Delight, Hideyuki Takeshima; President Director Marubeni Indonesia, Shinji Kasai; Vice President of Marubeni Indonesia, Tori Takamura; President Director PT Yakult Indonesia Persada, Hiroshi Kawaguchi; dan Managing Director Danamon, Naoki Mizoguchi.

Ada pula Kepala Divisi Urusan Internasional Direktorat Penanganan Sampah pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kurniawan Akbar; Deputy GM PT MOL Indonesia, Yudhy Hutabarat; Kapolrestabes Bandung Kombes Pol, Budi Sartono; Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung; Ketua dan Anggota Pengurus Yayasan Unpar; Mitra dan alumni Unpar; serta Pengurus Lembaga dan Organisasi Kemahasiswaan juga para mahasiswa Unpar.

“Kami melihat bahwa Indonesia, sebagai negara yang sedang berkembang, menunjukkan minat yang semakin tinggi terhadap isu sampah,” ujar pihak SpoGomi.

Lebih dari 35 Kelompok Peserta dan 75 Peserta Lomba Cosplay Berhasil Mengadakan SpoGomi di Kota BandungDok. Unpar Lebih dari 35 Kelompok Peserta dan 75 Peserta Lomba Cosplay Berhasil Mengadakan SpoGomi di Kota Bandung

Mereka mengatakan bahwa SpoGomi kali ini adalah hasil kolaborasi antara Indonesia dan Jepang, dengan perhatian khusus pada partisipasi generasi muda. Acara ini juga diramaikan oleh para cosplayer yang mengenakan berbagai pakaian anime.

Rektor Unpar Prof Tri Basuki Joewono menekankan betapa pentingnya bekerja sama untuk mengatasi masalah lingkungan global. Ia menganggap SpoGomi sebagai upaya nyata untuk meningkatkan kesadaran akan masalah lingkungan dan mewujudkan harmoni antara manusia dan alam.

Generasi muda, khususnya, dapat melihat SpoGomi tidak hanya sebagai saingan, tetapi sebagai bagian dari alam ciptaan yang membangun karakter dan kesadaran.

“Melalui inisiatif dan kerja sama semacam ini, tentu kami berharap kerja sama dapat memberi dampak positif. Unpar merasa bangga dan terhormat turut terlibat dalam kegiatan ini. Kami berkomitmen dan selalu mendukung pembangunan budaya ekologis dimana manusia dan alam tak terpisahkan. Juga, agar kegiatan ini semakin memperkuat hubungan bilateral Indonesia dengan Jepang,” ujarnya.

Kurniawan Akbar pun menyampaikan pandangannya mengenai masalah sampah di Indonesia. Ia mengingatkan bahwa jumlah sampah di Indonesia terus meningkat setiap tahun. Oleh karena itu, partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan sampah menjadi krusial.

Dalam acara ini, peraturan SpoGomi dianggap sebagai elemen integral dalam kompetisi. Meskipun terkait dengan mengumpulkan sampah, SpoGomi sebenarnya adalah bentuk olahraga yang memiliki aturan dan strategi sendiri.

Acara SpoGomi di Kota Bandung memiliki makna penting dalam memperkuat kesadaran dan perubahan perilaku terkait sampah di Indonesia. Harapannya, melalui upaya seperti SpoGomi, kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah dapat ditanamkan lebih dalam dalam masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda yang akan menjadi agen perubahan dalam menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau