Advertorial

Pastikan Kualitas Beras Bantuan Pangan, Kepala Bapanas Cek Mesin RTR Bulog

Kompas.com - 21/09/2023, 21:59 WIB

KOMPAS.com - Guna memastikan percepatan tahapan penyaluran beras bantuan pangan tahap II, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi meninjau Gudang Perusahaan (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) Telukan, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah (Jateng), Rabu (20/9/2023).

Dalam kunjungan tersebut, pihaknya mengecek langsung proses pengemasan beras bantuan pangan menggunakan teknologi canggih mesin rice to rice (RTR) milik Bulog guna memastikan seluruh beras berkualitas baik.

Pada kesempatan tersebut, Arief didampingi Direktur Utama (Dirut) Perum Bulog Budi Waseso untuk menyerahkan beras bantuan pangan tahap II kepada 500 keluarga penerima manfaat (KPM) di Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo.

Adapun percepatan penyaluran beras tersebut merupakan agenda prioritas pemerintah guna menekan kenaikan harga beras dampak bencana El Nino yang tengah melanda sejumlah negara di Asia.

Arief mengatakan, bantuan pangan tahap I untuk tiga bulan sebanyak 640.000 ton telah disalurkan oleh Perum Bulog.

“Kini, dilanjutkan penyaluran beras tiga bulan untuk tahap II. Untuk itu, kami perlu memastikan kualitas beras yang disalurkan dengan meninjau gudang-gudang Bulog agar program ini berjalan dengan baik,” ujar Arief dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Kamis (21/9/2023).

Lebih lanjut, Arief menjelaskan, sebanyak 21,3 juta KPM mendapat bantuan pangan tahap II dengan kualitas baik dari gudang serta sentra pengolahan Bulog.

Adapun penyaluran beras sebanyak 640.000 ton untuk tiga bulan, yakni September hingga November 2023. Kemudian, ditambah dengan beras operasi pasar yang digelontorkan Bulog ke pasar-pasar dan retail guna meredam kenaikan harga beras.

“Sesuai perintah Presiden Joko Widodo (Jokowi), pasar perlu dibanjiri stok cadangan beras pemerintah dari gudang-gudang Bulog, mulai dari pasar tradisional, pasar modern, hingga pasar induk beras Cipinang,” kata Arief.

Arief menambahkan, program pemerintah tersebut dilaksanakan secara masif di seluruh Indonesia.

“Masyarakat tidak perlu terjebak fenomena panic buying karena ketersediaan stok beras mencukupi,” jelasnya.

Sementara itu, Budi mengatakan bahwa Bulog memaksimalkan segala fasilitas teknologi mesin pengolahan yang dimiliki untuk mendukung percepatan bantuan pangan tahap II. Salah satunya, RTR untuk pengemasan beras.

“Seperti yang saat ini berlangsung, Bulog dibantu dengan pihak transporter yang mengakomodasi empat desa di kecamatan dengan total 500 keluarga penerima untuk mendapatkan beras lebih awal. Untuk di wilayah Jateng, Bulog telah mengeluarkan beras bantuan pangan sebanyak 12.500 ton,” terang Budi.

Ia menambahkan, sasaran program tersebut yakni masyarakat yang kurang mampu. Di sisi lain, Bulog melakukan operasi pasar dengan menjual beras murah ke retail-retail dan pasar tradisional.

Bahkan, Bulog di pasar-pasar tradisional memiliki toko mandiri yang langsung menjual beras operasi pasar dengan kemasan 5 kiloan.

“Pemerintah terus mendorong peran strategis Bulog untuk menjaga ketahanan pangan nasional dan stabilitas pasokan. Dengan begitu, harga pangan serta kenaikan beras terkendali,” ujarnya.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau