Advertorial

Kemenkominfo Ajak Gen Z di Sumbar Ubah Perilaku untuk Cegah Stunting

Kompas.com - 27/09/2023, 13:53 WIB

KOMPAS.com Stunting atau tengkes masih menjadi ancaman di Indonesia. Hal ini dikarenakan stunting tidak hanya membuat anak bertubuh pendek, tetapi juga bisa menurunkan tingkat produktivitas serta rentan terkena penyakit komorbid saat dewasa.

Untuk itu, generasi muda Indonesia, terutama generasi Z (gen Z), didorong untuk menjalankan perilaku hidup sehat guna mencegah stunting sejak dini. Hal ini bukan tanpa alasan. Pasalnya, mereka akan menjadi calon orangtua di masa depan.

“Perlu dipahami, kunci pencegahan stunting ada pada perubahan perilaku. Khusus untuk adik-adik remaja yang hadir saat ini, kesadaran untuk mencukupi nutrisi tubuh dan menerapkan gaya hidup sehat sangat penting,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Nursodik Gunarjo dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Rabu (27/9/2023).

Nursodik mengatakan hal tersebut saat mengisi kegiatan diseminasi informasi dan edukasi percepatan penurunan prevalensi stunting bertajuk Genbest Talk “Jaga Asupan Gizi, Gen Z Cegah Stunting Sejak Dini” di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat (Sumbar), Selasa (26/9/2023).

Nursodik melanjutkan, ada sejumlah langkah yang dapat dilakukan para remaja untuk menerapkan perilaku hidup sehat, mulai dari mengonsumsi makanan bergizi, menjalani diet sehat, mengonsumsi tablet tambah darah (TTD) secara rutin, serta menjaga kebersihan diri.

Selain itu, Nursodik juga mengimbau kepada remaja untuk tidak menikah di usia dini. Pasalnya, kesehatan mereka harus dijaga sedini mungkin agar kelak ketika dewasa dapat menjadi sumber daya manusia (SDM) yang produktif.

“Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan bahwa kualitas SDM merupakan kunci kesuksesan Indonesia ke depan. Namun, hal ini sulit dicapai bila angka stunting masih cukup tinggi,” tambahnya.

Oleh karena itu, lanjut Nursodik, Kemenkominfo berupaya melakukan upaya pencegahan stunting dari hulu melalui komunikasi, edukasi, dan sosialisasi.

Untuk diketahui, hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 menyebutkan, angka prevalensi stunting nasional berada di angka 21,6 persen. Adapun prevalensi stunting di Provinsi Sumbar sebesar 25,2 persen dan Kabupaten Tanah Datar 18,9 persen.

Presiden Jokowi sendiri menargetkan pada 2024 angka prevalensi stunting nasional bisa turun hingga menjadi 14 persen.

Kurang konsumsi makanan kemasan

Pada kesempatan sama, narasumber Genbest Talk, dr Shane Tuty Cornish, mengajak gen Z mengubah perilaku dengan mengurangi konsumsi makanan kemasan. Terutama, makanan serta minuman yang mengandung gula, garam, dan lemak tinggi.

“Makanan cepat saji memang enak, tapi tinggi sekali kandungan gula, garam, dan lemak. Biasanya, kandungan karbohidratnya tinggi dan sedikit protein. Bahkan, tidak ada (kandungan protein) sama sekali. Padahal, protein penting agar seseorang bertenaga sehingga dapat beraktivitas serta mencegah stunting,” ujar Shane.

Menurut Shane, jika anak muda mengonsumsi makanan kemasan setiap hari selama bertahun-tahun, mereka bisa terkena penyakit degeneratif yang jamak menyerang orang tua.

Sebagai contoh, anak muda berumur 20 tahun, tetapi sudah terkena darah tinggi dan serangan jantung.

“Ada pula usia 40 tahun sudah mengalami strok, diabetes, dan obesitas. Pokoknya, penyakit-penyakit orang tua dapat dialami oleh anak muda. Bahkan, ketika mereka nanti punya bayi, bayinya bisa kena stunting,” kata Shane.

Untuk itu, pihaknya mendorong generasi muda menerapkan pola hidup sehat, yakni mengonsumsi makanan bergizi sesuai prinsip Isi Piringku.

Adapun komposisi asupan yang sehat berdasarkan Isi Piringku meliputi setengah piring berupa sayur dan buah-buahan, setengahnya lagi berisi nasi atau karbohidrat dan protein.

Selain itu, perilaku kebiasaan merokok, khususnya pada kalangan pria muda, harus diubah.

“Perempuan muda calon ibu lebih selektif memilih calon suami dengan memilih pasangan yang suka mengonsumsi sayur atau buah serta tidak merokok,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Datar dr Yesrita Zedrianis mengatakan, angka stunting di wilayahnya berkisar 18,9 persen. Meski begitu, angka ini sudah turun ketimbang 2021, yakni sebesar 21,5 persen.

Guna menekan angka stunting, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tanah Datar telah menerapkan sejumlah cara, seperti Makan Bajamba Anak Balita (Manjalita).

“Makan bajamba adalah tradisi makan dengan cara duduk bersama-sama di dalam suatu ruangan yang dilakukan oleh masyarakat Minangkabau. Adapun bagi remaja putri yang sudah menstruasi, Pemkab Tanah Datar membagikan TTD agar mereka terhindar dari anemia,” jelasnya.

Sebagai informasi, Kemenkominfo sejak 2019 telah menggandeng generasi muda untuk turut serta mendukung upaya penurunan prevalensi stunting melalui kampanye Generasi Bersih dan Sehat (Genbest).

Upaya tersebut merupakan inisiatif Kemenkominfo untuk melahirkan generasi Indonesia yang bersih, sehat, serta bebas stunting.

Adapun Genbest Talk di Kabupaten Toba merupakan bagian dari kampanye Genbest.

Melalui situs genbest.id dan media sosial @genbestid, Kemenkominfo juga menyediakan berbagai informasi seputar stunting, kesehatan, nutrisi, tumbuh kembang anak, sanitasi, siap nikah, ataupun reproduksi remaja dalam bentuk artikel, infografik, serta videografik.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau