Advertorial

Cegah Alergi Kulit dengan Deterjen dan Pelembut Alami dari Fermentasi Nanas

Kompas.com - 31/10/2023, 11:00 WIB

KOMPAS.com - Eksim atau dermatitis atopik merupakan salah satu jenis penyakit kulit paling umum di dunia. Gejala dari gangguan kesehatan ini meliputi kondisi kulit dengan ruam merah, gatal, dan kulit kering.

Meski dapat terjadi pada siapa saja, eksim lebih sering terjadi pada anak-anak. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 20 persen anak-anak di dunia menderita eksim. Jumlah penderita eksim pun terus bertambah setiap tahun, termasuk di Indonesia.

Hingga saat ini, penyebab eksim belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli berpendapat bahwa eksim merupakan kondisi yang dialami penderita sejak lahir. Faktor penyebab eksim di antaranya adalah mutasi genetik, faktor keturunan, dan gangguan imunitas.

Meski tergolong penyakit ringan, eksim dapat menurunkan kepercayaan diri penderita. Pasalnya, kulit penderita eksim tampak kering dan bersisik sehingga memengaruhi penampilan penderita.

Selain memengaruhi penampilan, eksim dapat membuat kulit penderita menjadi sensitif. Oleh karena itu, penderita eksim harus berhati-hati agar penyakit kulitnya tidak kambuh.

Pipper Standard menggunakan hasil fermentasi nanas untuk bahan baku deterjen dan pelembut pakaiannya.DOK. Pipper Standard Pipper Standard menggunakan hasil fermentasi nanas untuk bahan baku deterjen dan pelembut pakaiannya.

Salah satu cara untuk mencegah eksim kambuh adalah menggunakan deterjen dan pelembut pakaian yang tidak mengandung sodium lauryl sulphate (SLS).

Untuk diketahui, SLS merupakan salah satu bahan baku produk pembersih dari jenis surfaktan. Bahan ini dapat menurunkan tegangan pada permukaan air sehingga minyak dan kotoran lebih mudah luruh.

SLS dapat ditemukan pada produk perawatan tubuh dan pembersih rumah tangga. Bahan inilah yang menimbulkan busa pada deterjen. Sayangnya, SLS memiliki dampak negatif, terutama bagi orang yang memiliki kulit sensitif dan alergi. Bahan ini dapat menyebabkan iritasi pada kulit pengguna.

Sebagai solusi, Anda dapat menggunakan deterjen yang bebas SLS. Salah satunya adalah Pipper Standard.

Pipper Standard menggunakan hasil fermentasi nanas untuk bahan baku deterjen dan pelembut pakaiannya. DOK. Pipper Standard Pipper Standard menggunakan hasil fermentasi nanas untuk bahan baku deterjen dan pelembut pakaiannya.

Pipper Standard menggunakan hasil fermentasi nanas untuk bahan baku deterjen dan pelembut pakaiannya. Deterjen dan pelembut pakaian Pipper Standard juga bebas dari pewangi buatan, SLES, dan produk kimia berbahaya lain.

Selain itu, deterjen dan pelembut pakaian Pipper Standard juga bebas dari quaternary ammonium compounds (Quats). Quats sendiri merupakan antimikroba yang berisiko menyebabkan iritasi kulit. Kandungan ini juga dianggap memicu asma dan masalah pernapasan lainnya. 

Aroma lembut Pipper Standard berasal dari berbagai bahan alami, seperti minyak kayu putih, rosemari, pinus, serta jeruk bergamot.

Karena bebas bahan berbahaya, Pipper Standard ramah lingkungan dan mudah terurai. Bahan pengawetnya juga terbuat dari bahan alami sehingga aman untuk pengguna dan lingkungan. Produk ini juga aman digunakan untuk pengguna yang memelihara hewan di rumah.

Pipper Standard juga sudah lolos uji klinik karena bersifat hipoalergenik. Hal ini membuat produk ini dapat meminimalkan risiko alergi.

Walau tanpa SLS, Pipper Standard tetap efektif membersihkan pakaian. Produk ini bebas residu dan tidak bersifat korosif. Pipper Standard aman digunakan dan tidak merusak peralatan rumah tangga.

Dengan berbagai kelebihan tersebut, penderita eksim atau orang yang memiliki kulit sensitif dapat menggunakan deterjen dan pelembut pakaian Pipper Standard. 

Produk Pipper Standard juga aman untuk bayi karena bebas dari bahan berbahaya yang dapat menimbulkan risiko kulit kering, kemerahan, alergi, dan iritasi.

Saat ini, Pipper Standard memiliki berbagai produk, mulai dari deterjen, pewangi pakaian, hingga pembersih botol bayi.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai Pipper Standard, Anda dapat mengunjungi lamanpipperindonesia.com atau Instagram Pipper Indonesia.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau